***
Menunggu momen pergantian tahun, aku bersama empat sahabatku dan pasangan kami masing-masing memutuskan untuk menghabiskan waktu di rumah mewah milik salah satu sahabatku, Alverus.
Ketika waktu tersisa beberapa menit menuju pukul dua belas malam, salah satu sahabatku yang lain datang dan bergabung bersama kami. Lantas aku menawari pria bernama Zaden itu untuk minum sembari aku meneguk whiskey-ku.
"The Irishman, Sobat, cobalah!" Aku menunjuk ke arah deretan minuman beralkohol yang tak hanya bermerk The Irishman.
"The Irishman? Sudah, sudah kutonton," sahutnya tersenyum kecil. Aku tahu jawabannya itu hanya pengalihan untuk mengelak penawaranku.
"Aku tidak memintamu untuk menyaksikan imajinasi Martin Scorsese itu. Kau tahu maksudku bukan memintamu untuk menonton film," kataku tak ingin mendapat penolakan.
"Ya, dan kau tahu jika aku bukan orang yang akrab dengan alkohol, Sobat." Ia menolak dengan alasan yang sudah kuduga.
"Aku tahu, tapi tak ada salahnya sesekali kau mencobanya, terlebih di saat momen setahun sekali seperti malam ini. Itu tidak akan membunuhmu, Kawan." Aku berujar sedikit memaksa.
"Sudahlah, Hirash, jangan memaksa jika dia tak ingin." Pacarku-Deythrine-sedikit memprotes paksaan kecilku terhadap Zaden.
"Tahun hampir berganti, Kawan, cobalah menyambut tahun yang baru dengan resolusi untuk menjadi lebih baik, salah satunya mungkin bisa dengan menjauhi minuman keras semacam itu." Zaden mulai menceramahiku.
"Apa maksudmu?" Aku menatapnya agak geram. "Jadi pikirmu dengan tubuhmu tidak tersentuh alkohol, kau pantas disebut pribadi yang lebih baik dariku, hah?" timpalku yang mulai dikendalikan emosi, juga alkohol tentu saja.
"Bukan seperti itu maksudku--" Kata-katanya terputus gerakan tanganku yang dengan segera mencengkeram bagian leher kaosnya.
Deythrine mencegah tanganku yang sudah kusiapkan untuk dihunjamkan ke wajah Zaden. "Apa-apaan kau ini? Hal semacam itu sampai dibesar-besarkan. Memalukan!"
"Diam kau!" Aku menepis kasar tangan Deythrine.
Melihat keadaan mulai tak kondusif, sahabat-sahabatku yang lain pun bergerak gesit melerai dan menenangkanku. Namun, percampuran alkohol dan emosi sulit kubendung, maka aku memilih untuk keluar sebelum segalanya menjadi lebih buruk. Aku membanting pintu dengan keras sebelum langkah kakiku menjauh.
Aku menuju rooftop yang ditata sedemikian rupa sebagai tempat bersantai. Di atas sana aku berdiri di bagian tepinya, dan menyandarkan tubuh di dinding pembatas sambil menyulut sebatang sigaret.
Baru sekali mengembuskan asap, Deythrine yang ternyata menyusulku pun menghampiri. Ia berdiri tepat di sampingku tanpa berbicara sepatah katapun.
Seolah membiarkan asap nikotin menenangkanku terlebih dahulu, beberapa menit kemudian barulah Deythrine mulai bersuara.
"Rasanya aku pantas minder. Aku merasa lebih rendah dibanding alkohol dan emosimu," katanya bernada lembut.
Asap rokok kusembur hampir bersamaan dengan pertanyaan. "Maksudmu?"
"Aku tak bisa mengendalikanmu, sementara alkohol dan emosi sebaliknya." Ia memaksakan senyum tipisnya yang nampak begitu tak ikhlas.
Sadar akan kesalahanku terhadapnya, aku lantas berujar, "Aku sama sekali tak bermaksud mengasarimu. Maafkan aku."
"Tidak seharusnya kau melakukan hal semacam itu."
"Aku tahu, itu sebabnya aku baru saja meminta maaf," ucapku tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Penggalan's Kisah Dalam Menit
RandomKumpulan berbagai kisah dalam bentuk one-shot. Mayoritas lebih mengarah ke kisah inspiratif. Singkat dan bermakna. Itu dua hal utama yang ditawarkan konten ini. Copyright © 2021 FLORIFICTION. All Rights Reserved
