□□□□□□
Di belakang pria itu terlihat bulan purnama yang sangat jelas besarnya. Indah, tetapi warnanya sedikit menakutkan.
Sudah sewajarnya pelosok seperti tempatnya tinggal dapat melihat pemandangan seperti ini. Baru sebulan yang lalu Hinata memutuskan menetap di sini, di sebuah apartemen empat lantai yang kurang layak jika mengingat tempat tinggalnya sebelum ini di kota besar seperti Tokyo.
Konoho berada di pulau paling barat yang Jepang miliki, jika tahu dia seakan mengantarkan dirinya untuk mati ke tempat ini, Hinata begitu yakin dia tidak akan pernah datang ke sini.
Tidak banyak rumah-rumah yang terlihat. Namun bagusnya dekat dengan pasar tradisional dan penduduk yang hampir punya tanah sendiri untuk bercocok tanam. Ya, tempat ini cukup sunyi dan tidak perlu takut berhubungan dengan orang lain. Mengurung diri di sini memang keputusannya, tidak butuh banyak pertimbangan bagi dia yang sebatang kara.
"Eh, ternyata kita punya penonton," suara pria itu sangat serak serta menakutkan. Berhasil menenggelamkannya pada ketakutan yang tak berujung. Kakinya seperti dihisap dalam tanah. Pepohonan seakan-akan menertawakannya di tengah ketakutan. "Apa kamu mau melihat pertunjukkan ini bersamaku?"
Tomat-tomat yang baru saja dipetik olehnya berjatuhan, dan salah satunya menggelinding di kaki pria yang tengah menodongkan ujung pistolnya ke kepala pria paruh baya yang diketahui oleh Hinata sebagai tetangganya. Pikir Hinata saat ini, apakah tetangganya baru saja membuat marah orang lain? Karena sudah kebiasaannya menjadi pria yang dibenci oleh siapa pun.
"Jawab aku."
Hinata hanya mengamati pria itu yang menatapnya dingin serta menusuk dengan salah satu tangan masih menodongkan bareta. Bulan purnama di belakang pria itu justru menjadi kabur, kini menyerupai bayangan hitam yang menakutkan, menertawakannya di tengah situasi hidup dan mati.
Tidak lama dari Hinata masih mengamati pria paruh baya itu dan pria misterius itu. Ia mendengar suara berdesing teredam. Darah mencurat di setiap pakaian gelap yang dikenakan pria aneh itu. Tetangganya pun terkapar. Hinata ingin berteriak, tetapi suaranya tertelan. Kakinya kaku tak bergerak.
"Kemari, ikut aku."
"Ti—dak."
"Tidak? Apa kamu yakin untuk menjawab seperti itu?"
Hinata melirik kakinya yang kaku, dan sejak tadi dia berusaha berlari untuk mencari pertolongan. Namun di belakang ataupun di depannya hanya ada jalan panjang dan perkebunan. Bagaimana bisa dia mencari pertolongan? Hanya terlihat lampu jalanan dan rumah para penduduk yang sangat jauh dari pandangannya.
"Jika aku melepaskanmu, apakah kamu berjanji untuk merahasiakan adegan kecil ini?"
Adegan kecil dia bilang?
"Katakan padaku, Hinata."
Hinata tersentak ketika pria itu memanggil nama kecilnya. Apakah dia juga dalam target untuk dibunuh seperti tetangganya itu? Apa salahnya? Dia tidak pernah membuat orang lain marah kepadanya!
"Sir, kenapa Anda lama sekali?" Hinata menoleh ke belakang, tetapi sebelum dia dapat melihat siapa yang ada di sana, pandangannya mengabur, lalu menjadi gelap. Dia sendiri yakin kejadian seperti ini akan membuatnya mati sebelum pria itu benar-benar membunuhnya.
Selamat tinggal, Dunia.
□□□□□□
Di tengah kegelapan itu Hinata menemukan seberkas cahaya menyilaukan.
Deru mobil membuatnya cepat sadar serta pemandangan indah mengenai perjalanan sejenak membuatnya nyaman. Namun ketika dia akan merapikan rambutnya yang panjang, dia tidak dapat melakukannya. Sesuatu seakan mengunci kedua tangan itu.
Hinata segera melirik ke samping begitu menemukan kedua tangannya yang terikat oleh tali tampar.
"Selamat pagi," ujar pria itu dengan nada sedingin es. "Aku tidak akan minta maaf, karena kamu sendiri yang seakan menginginkan ini. Omong-omong, aku hanya menemukan tali tampar di salah satu mobil kami. Ini yang terjadi," pria itu mengangkat tali yang digenggamnya seakan-akan tengah mengajak jalan-jalan hewan peliharaannya. "Nanti aku akan beli tali yang lebih bagus dari ini."
Hinata membeku di tempat duduknya, lebih dari ketakutan.
"Jangan pingsan lagi, aku benar-benar tidak ingin berurusan denganmu yang seperti itu."
Sungguh sangat sialan. Saat-saat seperti ini dia tidak dapat bersuara. Kejadian tadi malam pun seakan membekas dan membuatnya ketakutan tanpa sebab. Meskipun itu mungkin saja hanya mimpi, aroma darah dan suara berdesing itu membuatnya bergidik—sudah pasti menjadikannya tetap sadar, bahwa semuanya memang terjadi.
"Duduk dengan tenang, kita akan segera sampai."
Apakah dia akan dibunuh di tempat lain? Hinata pikir juga begitu. Pria itu dapat membawanya pergi ke mana pun serta mengubur atau membuang jasadnya ke tempat paling terpencil sekalipun agar tidak ada orang yang menemukannya. Masalah itu membuatnya sedikit merasa iba pada diri sendiri. Derita menjadi gadis yang tidak punya keluarga, tidak akan ada siapa pun yang merasa kehilangan.
Dengan lemah menunggu sampai, SUV itu akhirnya memasuki sebuah pekarangan seperti hutan dengan pagar tua berkarat yang terbuka sendiri. Pria itu kemudian berseru, "Akhirnya kita sudah sampai."
Sudah sampai? Di mana? Ke tanah sebagai tempat peristirahatan terakhirku?
SUV berhenti tepat di rumah seperti rumah hantu Eropa yang sering dia jumpai pada film-film barat. Bagaimanapun tempat ini mirip seperti rumah Frankenstein. Jangan bilang jika dia akan dijadikan sebagai uji coba suatu zat aneh, lantas menjadikanya zombi.
"Bunuh saja aku dengan baretamu!" teriak Hinata ketika dia ditarik masuk ke dalam rumah itu, sebaliknya orang-orang yang yang ada di rumah itu tampak terlihat heran padanya. "Apa kamu ingin menggunakan aku untuk mencoba obat-obatan? Aku akan mengutukmu! Kamu akan membayar semuanya!"
Pria itu menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin, juga tak bersuara. Semua orang di sana—entah, Hinata sendiri tidak dapat menghitungnya karena rasa takut terlalu menusuk tubuhnya—pun bertanya-tanya kepada dirinya, seperti merasa heran, tapi tak sekalipun mereka saling berbisik-bisik.
"Apa yang kamu lakukan dengan menculik seorang gadis, Naruto?"
Pria gila itu langsung melirik ke arah pria yang baru saja turun dari lantai dua. "Menculik? Siapa yang menculik? Dia tawananku!" pria itu mendekati Hinata yang kaku dan pucat, merangkul lehernya dengan sangat erat. "Jika aku melepaskan gadis ini, mungkin saja dia akan melaporkanku ke kantor polisi."
"Ha? Kamu bercanda?"
"Sasuke, apakah aku pernah bercanda?"
"Ya, kamu pernah bercanda, dan itu sekarang!"
Pria itu mengangkat tangannya, kemudian menarik Hinata kembali untuk melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda. "Aku minta tolong panggilkan kekasihmu saja, karena ada yang ingin aku bicarakan dengannya."
□□□□□□
BERSAMBUNG
YOU ARE READING
TALKING To The Moon
FanfictionPembunuhan yang terjadi malam itu tidak harusnya dia lihat! Hinata Hyuuga yakin untuk itu. Namun kesialan menimpanya. Hinata bertemu seorang pria misterius bermandikan darah dengan setelan jas formal hitam, justru menembak sang tetangga, seorang pri...
