□□□□□□
Naruto mengeluh kepalanya sakit, dan sudah sepantasnya dia merasa begitu sangat pening karena semalaman minum sampai mabuk. Satu botol anggur dengan kadar yang tinggi dia habiskan sendiri. Ia tidak pernah memaksa dirinya untuk mabuk, karena keesokan harinya dia pasti diserang rasa pusing. Sup pengar panas dan pedas paling tidak disukainya. Mrs. Anne akan membuatkan sup itu untuknya. Betapa menyebalkannya.
"Anne, Anne," teriak Naruto di tempat tidur setelah dia menekan tombol interkom yang menyambungkan panggilan darurat itu ke ruang staf. "Tolong carikan obat pengar—aspirin, aku benar-benar tidak menemukannya di laci nakas."
Beberapa menit setelah dia menghubungi wanita tua itu dengan resah dan kesulitan, sebuah pintu didorong, dan masuklah salah satu pelayan ke kamarnya. "Naruto, apa sangat sakit? Aku akan panggilkan dokter."
Matanya tiba-tiba menyipit, masih agak buram karena efek samping alkohol kadar tinggi. "Hinata?" dia menemukan gadis itu yang secerah matahari pagi, dan suaranya seperti musim semi. Perumpamaan yang benar-benar menggelikan. Ia tak pernah suka bersikap sok pujangga. "Apa kamu membawa aspirin?"
"Mrs. Anne membawa sup pengar untukmu, masih sangat panas, cocok untuk pagi ini."
"Sup pengar akan membuat lidahku terbakar, selain panas, karena rasanya pedas."
"Tapi dia bilang itu yang dibutuhkan olehmu pagi ini."
Naruto mengambil duduk, lalu terjatuh lagi. Kepala belakangnya terasa sangat kaku. "Tuhan, kenapa sial sekali pagiku," katanya dengan sangat begitu resah saat kembali berbaring. "Letakkan saja di sana, nanti akan aku makan, aku butuh air dan aspirin untuk saat ini."
Hinata bergegas ke samping Naruto, dan membantu pria itu untuk duduk, menyerahkan kemudian air dan aspirin untuk diminum, setelah dia yakin meletakkan sup pengar.
"Kamu butuh sesuatu selain air dan aspirin?" tanya Hinata penuh perhatian.
"Tidak, aku hanya butuh udara pagi saja."
"Aku tidak menyangka kamu bisa sesakit ini," Naruto mengamati Hinata yang berbicara lugas kepadanya. Padahal seingatnya, gadis ini tukang marah-marah, suka tidak mengatakan apa-apa, kadang hanya mengalihkan tatapannya. Jadi, ada apa dengan gadis ini? "Apa ada yang aneh di wajahku?"
"Cara bicaramu sedikit aneh, hanya itu."
"Bicara aneh?"
"Ke mana gugup dan gagapmu itu?"
"Aku juga tidak tahu," kata gadis itu. "Mungkin sejak semalam saat aku menemani kamu minum di ruang kerjamu sambil melihat bulan."
Naruto mengerutkan dahinya, dan tiba-tiba ingatannya pun kembali, mengenai tadi malam. Ia sudah mengingat sekarang, meminta Hinata untuk mengambilkan anggur setelah itu mereka jatuh dalam percakapan intim, dan seingatnya memang begitu. Diam-diam Naruto malah mengutuk dirinya sendiri karena hal tersebut.
"Aku akan pergi kalau begitu, sepertinya kamu butuh sendiri."
"Ya, aku butuh waktu untuk sendiri," kata Naruto. "Terima kasih aspirin dan sup pengarnya, aku akan makan nanti."
Naruto menatap sup pengar itu agak tidak nyaman. Alasan dia tidak mau minum sampai mabuk karena sup itu memberi efek yang pedas dan sakit tenggorokan, tapi peningnya langsung hilang, sampai-sampai dia penasaran Anne memasukkan apa ke sup tersebut.
Setelah lebih baik, Naruto masuk ke dalam kamar mandi, dia berendam ke air dingin karena paginya tidak berjalan baik. Ia merasa sesuatu menegang, tubuhnya, selangkangannya yang paling penting, dan kesadarannya yang menggiring ke malam penuh dengan gairah karena pikirannya sendiri.
YOU ARE READING
TALKING To The Moon
FanfictionPembunuhan yang terjadi malam itu tidak harusnya dia lihat! Hinata Hyuuga yakin untuk itu. Namun kesialan menimpanya. Hinata bertemu seorang pria misterius bermandikan darah dengan setelan jas formal hitam, justru menembak sang tetangga, seorang pri...
