□□□□□□
Entah apa yang terjadi, tapi bulan di Konoha terlihat indah dan menakjubkan. Hinata tidak pernah menyesal untuk pindah ke sini, meski mendapatkan pengalaman yang mungkin tidak akan terlupakan.
Kasus pembunuhan itu masih membekas di dalam benaknya, akan tetapi sulit baginya untuk menciptakan kebencian, ketika pria itu tidak memperlakukannya buruk selama membiarkannya tinggal di sini, padahal pria itu berdalih akan melakukan hal yang sama kepadanya.
Hinata menuangkan anggur kembali ke gelas Naruto, sedangkan dia menuangkan soda ke gelasnya sendiri. Ia tak seharusnya mabuk, memang begitu aturannya, karena jika dia mabuk, siapa yang akan memindahkan pria di depannya ke kamar—memapah agar Naruto bisa istirahat.
"Apa kamu juga menyukai bulan di Konoha?" Naruto tiba-tiba bertanya ketika Hinata menatap bulan di atas sana tanpa berkedip. "Konoha dulunya adalah sebuah desa yang tidak banyak penghuni, dan desa ini penuh dengan pembantaian saat Perang Dunia ke-1. Leluhurku mulai membuat tempat ini hidup dan makmur. Tempat yang sebenarnya dihindari oleh banyak orang pada saat itu."
"Tapi tempat ini bukan sebagai desa lagi, jalan-jalan sudah mulai ramai, dan ada banyak wisata."
"Ya, tapi bagi orang-orang Konoha, tempat ini tetaplah desa, sejarah tentang Konoha dipendam, tidak ada siapa pun yang menyangka bahwa tempat ini dulunya adalah tempat orang-orang mati, digeletakkan begitu saja. Beberapa orang tua yang masih menghuni desa ini, memendam masa lalu dan apa yang mereka ketahui mengenai Konoha. Bagiku sendiri, dan keluarga ini, Konoha adalah tempat mengerikan di mana di tempat kami berpijak ini, berada di dalam tanah, penuh oleh tulang belulang orang-orang yang mati karena perang, juga sebuah ketidakadilan."
Konoha memang tempat terasing. Pada awalnya pun Hinata tidak tahu ada tempat yang bernama Konoha, jika bukan akhir-akhir ini sebuah berita di TV mengulas tempat pemandian air panas, tanpa menceritakan kisah Konoha yang sebenarnya—tempat terasing dan beberapa orang menganggap sebagai tempat penuh mimpi buruk.
"Kenapa kamu tinggal di desa ini? Setahuku orang kota tidak menyukai Konoha, dan aku sendiri—" kalimat itu terpotong begitu saja, menyisakan wajah sedih yang mudah terbaca. Ini pertama kalinya selama dia tinggal di sini, dan bertemu dengan pria itu, Hinata menemukan wajah Naruto yang senduh. "Membenci tempat ini lebih dari siapa pun, kukira begitu."
Hinata melirik ke bagian meja kabinet di belakang meja kerja Naruto. Di sana terdapat banyak pigura yang ditidurkan seakan-akan tidak ingin dilihat, atau semua kenangan itu membuatnya perlu menyelami masa lalu. Tentu saja, siapa yang ingin mengingat masa lalu pahit yang dapat mencekik leher dengan sangat kejam. Seseorang bukan saja mati terkena belati, sebuah jiwa yang terjebak masa lalu lebih mengkhawatirkan, bukankah begitu.
"Aku mengerti."
"Benarkah kamu mengerti?"
"Ya, tentu saja, aku mengerti rasa sakitmu."
Hinata sendiri punya masa lalu buruk karena orangtuanya, dan sebagian ingatannya menjadi sangat buram. Hanya tersisa rasa sedih yang tidak dapat dikatakan olehnya. Rasa sedih yang membuatnya menangis tiba-tiba, dan menjadi murung pun tiba-tiba.
"Demam tinggi pernah menyerang keluargaku," dengan wajah yang memerah karena mabuk, Naruto memperhatikan Hinata yang masih menatap rembulan, tetapi ekspresinya tidak menggambarkan apa pun yang sekiranya dapat dapat menunjukkan perasaan yang sebenarnya saat membicarakan sebuah tragedi. Dan pada waktu itu, bocah laki-laki bernama Hinata pun memiliki ekspresi yang sama seperti gadis di depannya. Kemungkinan besar, mereka adalah orang yang sama. Namun lagi-lagi Naruto tampak tidak begitu yakin. Ia hanya takut semua harapan itu berakhir menyakitkan baginya.
YOU ARE READING
TALKING To The Moon
FanfictionPembunuhan yang terjadi malam itu tidak harusnya dia lihat! Hinata Hyuuga yakin untuk itu. Namun kesialan menimpanya. Hinata bertemu seorang pria misterius bermandikan darah dengan setelan jas formal hitam, justru menembak sang tetangga, seorang pri...
