t h r e e.

1.6K 159 10
                                        

Bugh

Pemuda Na itu kembali tersungkur saat Jaehyun memukulnya untuk yang kesekian kali hari ini. Di dalam gudang markas, tempat biasa mereka melakukan eksekusi para anggota yang berkhianat atau pun musuh. Di sana juga ada Lucas, Mark, Yuta dan Taeyong yang tengah melihat bagaimana Jaehyun melampiaskan amarahnya.

bugh

bugh

Entah sudah berapa kali Jaemin mendapatkan pukulan hari ini. Dirinya sudah mulai lelah dan mati rasa sekarang. Penampilannya sudah acak-acakan dengan bekas darah yang memenuhi kemeja putihnya. Bahkan lebam yang ia dapat saat di rumah sakit sudah menjadi biru.

"Udah Jae. Lo bakalan bunuh dia kalo gini terus."ucap Yuta menghentikan aksi brutal Jaehyun itu."Lo mau Jinhee trauma lagi untuk kesekian kalinya?"

Ya. Gadis itu trauma akan hal-hal seperti ini. Terlebih lagi saat mereka yang kehilangan nyawa di sebabkan oleh dirinya. Dan Jaehyun tau betul apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Ada pembelaan?"

Tanya Yuta saat melihat amarah Jaehyun yang sudah mulai mereda.

Dengan susah payah, Jaemin menegakkan sedikit posisinya yang terduduk di lantai. Ia harus menjelaskannya agar tuannya itu tidak salah paham dan tau kronologi kejadian yang sebenarnya.

"Setelah nona Jung masuk ke kelas, saya keluar dan memastikan area sekolah aman dan tidak ada penguntit atau pun wartawan. Saat saya berada di parkiran sekolah, ada seseorang yang diam-diam memotret keadaan sekolah bahkan terang-terangan memotret mobil milik nona."ucap Jaemin, pemuda itu mengingat semuanya dengan baik."Tidak lama setelah itu saya mendapatkan alarm bahaya dari nona. Saat sampai di sana saya sudah melihat nona pingsan di lantai. Saya juga sudah menanyai teman-teman kelasnya dan mereka bilang bahwa nona memang izin ke toilet untuk buang air kecil."jelas pemuda Na itu panjang lebar.

Ah, pemotret asing lagi. Jaehyun lama-lama muak dengan penguntit satu itu. Ia benar-benar sulit untuk di lacak bahkan mengejarnya saat itu juga pun mereka tidak bisa. Pria itu seperti lenyap begitu saja tanpa jejak.

"Tidak ada siapa pun di toilet?"

Pemuda itu mengangguk."Hanya ada bekas siraman air toilet dan liontin yang tertinggal."

Jaemin mengeluarkan liontin yang ia dapat di toilet. Liontin mahal yang sepertinya hanya di miliki oleh anak konglomerat.

Yuta kenal dengan bentuk liontin itu. Liontin yang sama seperti milik Jinhee yang ia belikan sebagai hadiah ulang tahunnya. Liontin itu hanya ada di Paris yang jumlahnya hanya ada dua di dunia. Dan seingatnya liontin milik Jinhee berwarna pink pada bagian kristalnya dan berbentuk kupu-kupu. Berbeda dengan liontin yang saat ini ada di tangannya.

"Bukanya itu liontin-nya Jinhee?"

Tanya Taeyong yang ikut bersama Yuta saat membeli liontin tersebut di Paris.

"Beda. Liontin Jinhee warna kristalnya pink bukan ungu."

Yuta mengantongi liontin tersebut ke dalam saku jasnya. Ia harus tau siapa pemilik liontin tersebut.

"Jae, sebaiknya lo maafin dia kali ini. Jinhee juga minta sama gue buat bujuk lo supaya maafin dia."ucap Taeyong menyampaikan permohonan gadis itu."Lagian gak akan ada yang bisa jagain Jinhee lagi di sekolah kalau dia mati."ucap pria itu yang kasihan akan nasib Jaemin yang baru pertama kali menjalankan tugas.

Yuta mengangguk setuju."Lo gak mau kan Jinhee trauma lagi?"

Iya. Jinhee trauma akan orang-orang di sekitarnya yang menjadi korban dari Papanya. Ia bahkan sampai membayangkan dan memimpikan hal-hal buruk terjadi pada bodyguardnya yang telah lalai dalam tugas.

Big Bos | Jung JaehyunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang