It's Not The Right Time

37 7 14
                                        

Jungkook tidak bisa tidur tadi malam, setidaknya sampai pukul 4 pagi. Banyak sekali hal-hal yang terngiang diotak Jungkook. Sebetulnya, Jungkook juga bingung. Apakah ia memang harus mengusut hal ini lagi? Apakah ia harus memberi tahu Taera dan Taehyung? Ah entahlah, semua hal itu terlalu rumit bagi Jungkook.

Jungkook meraih ponselnya. Melihat contact Taera, ia tersenyum miris. Nama contact Taera diponselnya masih Taera calon pacar, amin. Ia juga melihat profile picture Taera, foto yang Jungkook ambil ketika naik ferris wheel berdua. Cantik sekali. Terkadang cara semesta bekerja itu lucu bagi Jungkook, dari jutaan manusia dimuka bumi ini... mengapa Papa Taera yang menjadi penyebab Jungkook kehilangan semestanya? Ya meskipun belum tentu benar juga. Tapi hati Jungkook teriris setiap melihat keluarga Kim. Orang yang menjadi penyebab papanya pergi, hidup bebas dan bahagia sekarang. Sementara Jungkook? Ya memang Jungkook tidak kesulitan secara finansial. Tapi tetap saja, seorang anak laki-laki kehilangan sosok ayah diusia yang masih terbilang belia merupakan mimpi buruk bagi semua orang.

Mama Jeon mengetahui perasaan anak laki-lakinya itu kepada Taera. Mama Jeon pun juga sudah pernah bilang ke Jungkook, yang lalu biarlah berlalu. Memang, kejadian tersebut merupakan luka terbesar yang takkan pernah bisa sepenuhnya sembuh bagi Mama Jeon. Tapi kembali, Jungkook berpikir apakah pantas hubungannya dengan Taera dilanjutkan? Rasanya tidak.

Lamunan Jungkook seketika buyar saat mendengar Mama mengetuk pintunya.

"Jungkook? Kamu lagi tidur kah?" Mama Jungkook membuka pintu kamar secara perlahan.

"Nggak Ma, masuk aja." Jungkook bangkit dari tidurnya dan duduk dipinggir tempat tidur.

"Kamu nggak ketemu Taera lagi?"

"Ma..."

"Nak... Mama udah pernah bilang ke kamu kan? Ini bukan salahmu, bukan salah Taera juga. Pun bukan salah Taehyung. Ini salah orang tua kalian Nak." Mama duduk disamping Jungkook sambil mengelus kepala anak satu-satunya itu.

"Ma, tetep aja rasanya nggak pantes aku lanjutin hubungan itu. Lagian kita emang cuma temen aja kok."

"Sebenernya bukan Papanya Taera yang jadi penyebab Papamu meninggal sayang."

Jungkook terkejut tentu saja. Jungkook terbelalak mendengar perkataan Mamanya.

"Maksud Mama?"

"Papanya Taera waktu itu dijebak sama partnernya. Jadi sebetulnya Papanya Taera sama Papa itu nggak salah. Mereka berdua bersih. Sebenernya waktu itu..." Ucapan Mama terputus oleh Jungkook.

"Mama maaf Jungkook potong. Tapi stop Ma, nggak perlu dilanjutin." Potong Jungkook.

"Jungkook..."

"Mama bilang gitu supaya Jungkook gaperlu mikirin ini kan? Ma, Jungkook udah dewasa. Jungkook berhak tau yang sebenarnya."

"Tapi memang faktanya begitu Nak." Mama masih berusaha meyakinkan Jungkook atas kebenaran tadi.

"Maaf Ma, tapi Jungkook akan cari tau kebenarannya sendiri. Jungkook keluar dulu Ma."

Jungkook keluar meninggalkan Mama dikamar, Jungkook tau bahwa Mama hanya berusaha meyakinkan Jungkook agar tidak perlu mengulik kebenarannya lagi. Jungkook membuka ponsel dan menelfon Taehyung untuk datang ke cafenya, kemudian mengirim pesan pada Taera.

Jeon Jungkook :

Hai Ra

Kalo ada waktu, ketemu di cafe gue hari ini bisa? Ada yang mau gue omongin.

Kalo bisa jam 4 ya

Ohiya gue ajak Taehyung juga kok.

Taera (calon pacar, amin) :

AeternumTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang