Wish You Were Here

25 5 7
                                        

Sejak 3 hari lalu, Jungkook merasakan patah hati terhebat untuk kedua kalinya. Pertama saat jagoan dalam hidupnya tutup usia. Kemudian Taera, dunia Jungkook hancur. Perasaan bersalah terus menerus menghantui Jungkook.

Ia membiarkan dirinya berduka, melepas raga yang hampir ia dekap.


"Kalo aja kemaren gue paksa jemput Taera, dia nggak mungkin pergi."

"Kalo aja waktu itu gue dengerin Mama sampe selesai ceritain tentang Papa, gue sama Taera nggak akan jauh. Dan hari kaya kemaren nggak akan pernah ada."

"Kalo aja kemaren gue pergi cari Taera lebih cepat, mungkin Taera masih bisa diselamatkan."


Memori-memori tentang mereka berdua terputar diotak Jungkook. Sesekali ia tersenyum miris mengingat betapa bahagianya ia saat menghabiskan waktu bersama Taera.


"Kookie! Yang sampe ke mobil duluan menang, yang kalah beliin es krim." Teringat jelas Taera mengatakan hal itu sambil tertawa dan berlari ke mobil. Meskipun Jungkook yang memenangkan lomba lari itu, tetap saja Jungkook yang membelikan es krim untuk Taera.

"Jungkook sayang Taera. Banget."

"Lo maunya gue jawab gue sayang lo juga apa gimana? Hahaha."

"Nanti aja jawabnya Ra, kalo udah waktunya."


Memori-memori indah bergantian terputar dipikiran Jungkook, seolah otaknya memutar video dokumenter tentang dirinya dan Taera.

Jungkook duduk dibangku meja belajarnya. Ia tersenyum miris sambil meneteskan air mata saat melihat potret dirinya dan Taera di ferris wheel waktu itu. Teringat jelas senyum bahagia Taera disana. Baginya, senyum Taera adalah lengkungan terindah dimuka bumi ini.

Tangisnya semakin pecah saat ia melihat lukisan siluet Taera yang ia lukis waktu itu. Lukisan itu sederhana, hanya siluet Taera dengan hiasan gambar bunga matahari kecil disekelilingnya. Belum sempat ia berikan pada Taera, mungkin akan selamanya terpajang diatas meja belajar Jungkook.


**


"Mas mending lo duduk aja deh, dari tadi lo salah nuang minuman mulu. Udah 4 kali loh." Ucap Jo pada Jungkook.

"Sorry Jo." Jungkook melepas apronnya, beruntung hari ini ada 2 barista lain yang masuk.

"Mas, lo pulang aja. Istirahat, kalo lo udah baik-baik aja baru balik. Lo bisa percayain cafe ke gue, selama ini aman-aman aja kan sama gue."

"Gue nggak bisa Jo dirumah terus."

"Let yourself grieve Mas. Nggak perlu lo hindarin, lo wajar sedih Mas. Lo ngerasa hilang arah ya wajar. Lo baru kehilangan orang yang lo sayang. Lo sedih yaudah keluarin, tangisin. Tapi jangan berlarut-larut. Lo harus ikhlas biar Taera pergi dengan tenang."

"Semua salah gue, harusnya gue jemput dia Jo. Harusnya gue..." Belum sempat Jungkook menyelesaikan kalimatnya, Jo sudah memotong.

"Nggak usah salahin lo. Nggak usah ngomong harusnya harusnya terus. Udah terjadi Mas. Lo kaya gitu cuma nyiksa diri lo doang. Lo nggak kasian sama Taera kalo dia perginya nggak tenang? Kehilangan, berduka, sedih itu wajar Mas. Tapi nggak perlu lo salah-salahin diri lo terus. Udah mending lo pulang aja istirahat, gue anterin."

AeternumTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang