Super hero? Mungkin sebutan ini cocok untuk Azura Kaila Chalondra, tapi itu terlalu kekanakan, mari kita panggil dia Rara saja.
Sedikit bicara banyak bertindak adalah definisi Rara yang sangat tepat, yang ada dipikirannya hanya membantu, menolong, membantu, menolong, benar-benar hanya itu.
Namun, tentu ia punya pengecualian, ikut campur urusan seseorang bukan termasuk dalam list membantu yang Rara maksud.
"RA! BANGUN! HARI INI HARI PERTAMA KAMU SEKOLAH KAN?!" Teriak bunda Aya dari dapur.
Hey, Rara bukan seperti kalian. Dia benar-benar karakter impian para orang tua di dunia ini, mungkin.
Rara lagi ngecekin buku pelajaran nya di tas, berkaca sebentar lalu keluar kamar buat nyamperin bunda Aya.
Rara sudah mandi sudah wangi, sudah rapi juga.
"Iya bun." Jawab Rara singkat.
Rara sekarang lagi nyiapin bekal + minum buat sekolah, lumayan kan? Udah dapet bekal, dapet uang jajan lagi. Sedepp.
"Elina mana? Blm bangun?" Tanya bunda Aya sambil terus ngoseng-oseng sambel trasi buat sarapan anak-anak panti.
"Iya kayanya, bentar." Selesai ngisi air buat di bawa ke sekolah, Rara balik ke kamarnya lagi buat ngecek adeknya.
Mereka tidur sekamar, kasurnya tipe tingkat gitu, adeknya di atas.
"Pe, udah siang nih, mau kakak siram pake miras atau minyak panas?" Kata Rara sambil nyabut rambut adeknya sehelai.
"IYA IYA! BISA GANTI CARA BANGUNIN ORANG GA SI? RAMBUT AKU UDAH TIPIS, GA GIMBAL KAYA KAKAK! KALAU DI CABUTIN TERUS NANTI AKU KAYA OM DEDI!!" Teriak Elina sambil mukul-mukul kasur.
"Mulut, berisik." Balas Rara ancang-ancang mau napok mulut Elina.
Tanpa babibu, Elina langsung turun dan mandi, sungguh, Rara tak habis pikir, Elina ini kalau mandi kaya bebek (Adus bebek). Cepet banget, ga ada 5 menit selesai, gatau bersih atau ngga itu.
Sambil nunggu Elina mandi Rara cuma duduk sambil scroll tt di teras panti. Setelah itu mereka berangkat bareng deh.
Hari ini juga hari pertama Elina di sekolah barunya, dia kelas 7 sekarang. jarak sekolah dan panti mereka lumayan dekat, mungkin kalau jalan santai 15 menit sudah sampai.
Pertama Rara menemani Elina sampai masuk kelasnya, lalu baru pergi kesekolah nya, sebenernya Elina bukan tipe pemalu yang harus di temani kemana-mana, ini hanya modus Rara biar tau kelasnya dimana, kalau ditanya kenapa Rara ga nanya langsung ke Elina, jawaban nya simpel, males.
Kelas Rara sudah lumayan ramai, mungkin karna tadi ia muter-muter di sekolah Elina dulu baru ke sekolah nya. Hanya tersisa seperempat bangku yang kosong, Rara berencana untuk duduk sendirian, kenapa? Karna biar luass, bukunya bisa di taru meja atau kursi sebelahnya.
Tapi kayanya itu sulit, tidak ada bangku kosong lagi disana, Rara berjalan ke arah bangku paling belakang.
"Misi, ini udah ada orangnya?" Tanya Rara sopan ke cewe rambut cetarr sambil megang kursi disebelahnya.
"Oh ngga, ngga ada." Jawab cewe itu.
"Aku duduk sini boleh?" Tanya Rara lagi.
"Iyaa." Balas cewe itu.
"Makasi, nama kamu?" Aahh, sebenernya Rara ga suka mulai duluan kek gini! Tapi karna dia teman sebangkunya, seenggaknya dia harus tau namanya dong?
"Putri, kamu?" Jawab Putri.
"Azura, panggil Rara aja." Balas Rara sambil senyum canggung.
Dan percakapan mereka pun berlanjut sebentar sampai guru datang. Rara bukannya tidak suka bergaul atau semacamnya, dia hanya cinta kedamaian dan kesunyian, ia akan lebih memilih ke tempat sepi, lalu melakukan kegiatan yang ia sukai, membaca buku contohnya.
Bel istirahat berbunyi, sepanjang pelajaran Rara sama sekali tak berbicara, untungnya Putri juga tidak berusaha mengajak nya berbicara.
Rara berdiri dari tempat duduknya, mengambil bekal, lalu pergi keluar kelas begitu saja. Sedangkan Putri, ia pergi ke meja teman yang satu smp dengannya.
Azura kelilingi sekolah, mencari tempat sepi, dan akhirnya ia berhenti di bagian belakang kelas dua belas, disana sepi, hanya ada tumpukan kursi dan meja saja.
Pertama Rara sedikit ragu, bisa saja tempat seperti itu dijadikan tempat kumpul anak-anak lainnya, tapi bodoamat, siapa cepat dia dapat, kalau emang ada yang datang, ia akan langsung pergi.
Jam istirahat hanya berlangsung setengah jam kurang, waktu yang ia habiskan untuk menemukan tempat ini cukup lama.
Rara duduk, lalu makan dengan tenang, tapi jika hanya makan saja, itu membosankan!. Ia akhirnya sedikit bermain dengan bekal makanannya.
*Jangan ditiru ges, ngelama-lamain makan ntar di bantu setan.
Kebetulan bekalnya hari ini adalah sosis dan nugget, objek yg pas untuk dijadikan drama teater kecil-kecilan.
Satu sosis besar utuh tanpa di potong, dan sosis lainnya yang di potong bentuk bunga (tau kan? Yang jadi empat itu kek gurita (?))
"Di suatu negri bernama saos, ada kehidupan. Bentuk pemerintahan kerajaan, nugget adalah bangsawan, sosis adalah rakyat jelata." Ucap Rara sembari menyendok kan nasi ke mulutnya.
Putri nugget, ibunya adalah selir kaisar, ia tak mendapatkan perlakuan baik disana, bahkan ibu dan ayahnya pun tak memperdulikan. Ia menjalani kehidupan seperti oksigen, ada tapi tak dihiraukan.
Suatu hari rakyat tiba-tiba melakukan demo, karna merasa peraturan kerajaan sangat tidak adil, raja tak peduli pada rakyat nya, yang miskin jadi makin miskin, yang kaya makin tak de otak.
Berhari-hari demo itu berlangsung, tak ada tanggapan dari raja, rakyat melakukan penyerangan dengan di pimpin jagoan sosis, dia besar dan panjang!.
Mungkin sudah waktunya kerajaan itu hancur, pertahanan nya sangat lemah, seluruh istana di jarah, rakyat menggila mengambil semua harta yang mereka lihat.
Jagoan sosis juga sama, ia menjarah semua ruangan yang ada, membuka lemari, laci, dll. Hingga ia menemukan suatu ruangan yang berbeda dari yang lain.
Ruangan itu gelap dan lembab, hanya sedikit cahaya yang masuk, terdengar gumam dan isak tangis seseorang, suaranya gemetar.
"Hidupku akan benar-benar hancur sekarang, apa yang harus aku lakukan?"
Jagoan sosis mendekati sumber suara itu.
"Setidaknya aku diberi makan disini, kemana aku harus pergi?"
"A-apa aku mati saja? Ide bagus!" Matanya merah, pakaiannya lusuh, baunya kaya kandang sapi. Tapi itu tak menutupi kecantikan dan kebohaiannya.
Jagoan sosis jatuh cinta, ia memeluk, dan membujuk agar putri nugget mengurungkan niatnya. Putri nugget terharu, baru kali ini ada yang peduli padanya. Mereka menikah dan Putri nugget tidak hidup bahagia, ia dijadikan toilet dan babu di rumah jagoan sosis.
"JAM PELAJARAN KETIGA, DIMULAI TINUNGNINGNUNG~"
Makanan Rara sudah habis, ia beranjak dari duduknya, lalu lari kecil kembali ke kelasnya.
Rara tidak sadar, ada yang mendengarnya mendongeng di balik tumpukan meja dan kursi itu.
***
Ok, untuk selanjutnya ane bakal berusaha nulis lebih panjang dari sebelumnya, tapi upnya malem".
KAMU SEDANG MEMBACA
Azura
Fiksi Remaja"what the- ANJING?! TITIT GW MENYUBLIM??!" - Azura, cowok tulen yang b aja. Tanpa sengaja kehilangan nyawanya karna 'kecerobohan' seseorang. Dan entah bagaimana caranya terbangun dalam tubuh Azura lainya - Klo tertarik ya baca.. klo ga yaudah.. suka...
