“Bekerja sama dengan istri itu sangat menyenangkan.”
~ Bintang Semesta ~
Satu hari cuti telah berlalu. Mereka habiskan waktu tersebut dengan merangkai kebersamaan di rumah baru. Kini, hari telah berganti. Hari ini mereka akan kembali melakukan aktivitas seperti biasanya.
Sebuah kain lebar berwarna kuning terang yang terletak di atas ranjang, disambar oleh sebuah tangan kekar. Pria berkemeja putih berkerah kemeja belum dirapikan, serta sudah memakai celana panjang berwarna biru muda, sedang berjalan, menghampiri sosok wanita yang tengah duduk di depan meja rias.
Pria itu menggeser kursi yang diduduki wanita itu menjadi menghadap ke samping. Tepat manik wanita itu, bertatapan dengan manik cokelatnya. Ia membulatkan matanya dengan sempurna ketika ada yang main menggeser kursinya.
“Mas! Ngagetin!” gerutu wanita itu. Ia mengerucutkan bibirnya. Pria yang di depannya yang membawa kain lebar berwarna kuning itu melebarkan bibirnya saat menatap bidadari yang ada di depannya. Tanpa bicara sepatah pun, ia memakaikan kain itu, menutupi rambut hitam yang telah diikat oleh wanita itu. Salwa terdiam, melihat perilaku Bintang padanya saat ini.
Bintang menepuk dahinya. “Maaf, aku lupa bawain ciputnya! Bentar, ya.” Bintang berlari menuju ranjang. Ia mengambil sebuah kain kecil berbahan rajut di atas ranjang kemudian, ia kembali menghampiri istrinya.
Bintang memakaikan kain berbahan rajut yang berwarna putih, ke atas kepala Salwa, menutupi sebagian rambut wanita itu. Ia membenarkan kain lebar berwarna kuning, menyamakan posisinya.
“Kamu punya jarum atau peniti, kan?” tanya Bintang.
“Aku simpan di laci meja rias, Mas,” jawab Salwa dengan gugup. Bintang bergegas membuka laci, mengambil satu kotak kecil yang berisi beberapa benda tajam kecil yang ujungnya memiliki macam warna yang berbentuk bulat.
“Aku bisa pakai sendiri, Mas,” cegahnya.
Bintang menggeleng. “Saya pakaikan. Ingat perjanjian kita, Sayang,” ujar Bintang. Kemudian, pria itu mengambil satu buah jarum pentul yang bulatannya berwarna kuning. Salwa mendengkus kesal karena pria itu membahas perjanjian pernikahan.
“Dongakkan kepalamu, Sayang. Saya nggak mau nanti jarum kecil ini melukai lehermu,” titah Bintang. Salwa menurut, wanita itu mendongakkan kepalanya. Bintang dengan hati-hati menyoblos jarum itu, menembus kain berwarna kuning. Bintang melengkungkan bibirnya saat pekerjaannya telah selesai membuat kepala jilbab.
“Sudah! Ternyata mudah!” seru Bintang. Salwa menghela napas. Wanita itu merasakan jantungnya berdegup dengan kencang apalagi Bintang memakaikan jilbabnya. Sungguh, perlakuan Bintang manis sekali.
“Biasanya kamu bentuk bagaimana jilbabnya?” tanya Bintang.
Salwa menggeleng. “Nggak perlu. Aku bentuk sendiri,” tolak Salwa. Tiba-tiba saja, Bintang meraih kain sebelah kiri, kemudian disampirkan ke sebelah kanan.
“Nggak perlu dijawab. Biar saya yang bentuk.” Bintang menahan tangan sebelahnya, kemudian kembali membuka laci. Ia mengambil sebuah bros berbentuk dua hewan flamingo berwarna putih perak yang membentuk hati. Bros itu adalah milik Salwa yang Bintang belikan semalam di mall. Ia memakaikan bros cantik itu di kain penutup bagian dada sebelah kanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mendadak Marriage [Sudah Terbit 🥰]
Romance# Peringkat 7 Best Branding dalam event Author Got Talent yang diselenggarakan oleh Prospec Media ⚠️ Tidak lengkap (Romance - Humor) Salwa Haniyah begitu kesal ketika kedamaian hidupnya diganggu oleh seorang direktur dari sebuah penerbit mayor yang...
![Mendadak Marriage [Sudah Terbit 🥰]](https://img.wattpad.com/cover/279550773-64-k245923.jpg)