"Jika kau membutuhkan aku, aku juga membutuhkanmu. Begitulah simbiosis mutualisme, saling menguntungkan pihak satu dengan yang lain.”
~ Salwa Haniyah ~
Bintang melebarkan kedua manik iris cokelatnya. Mulutnya ternganga, menatap Salwa yang menatap dirinya dengan senyuman miring. Ia tidak menyangka apa wanita itu ucapkan. Menikah? Dengan orang asing? Tidak pernah ada di kamusnya Bintang. Salwa menatap Bintang tampak sangat kebingungan.
“Kenapa? Salah permintaan saya?” tanyanya dengan nada yang sangat santai. Sudah tahu permintaan itu aneh, Salwa masih juga bertanya.
Bintang menunduk, kemudian kembali mendongak, menatap Salwa dengan kerutan di keningnya.
“Menikah? Kenapa Anda meminta hal itu?” tanyanya dengan bibir yang bergetar. Jujur saja saat ini ia merasakan degupan jantung yang berdebar dengan kencang, saat berada di dekat Salwa, apalagi Salwa mengajukan hal itu.
Salwa memberikan tatapan mendelik kepada Bintang. Wanita itu menyilangkan kedua tangannya di dada. “Bangun! Malu saya dilihat orang! Anda lihat ke belakang! Semua orang memperhatikan kita!” titahnya, menatap para pelanggan restoran yang melayangkan tatapan ke arah mereka.
Bintang pun berdiri, kemudian ia kembali duduk di tempatnya. Pria itu masih syok, mendengar permintaan dari Salwa. Bintang akui dia bodoh. Dia sebenarnya bisa mencari penulis lain yang ingin menerbitkan karyanya di penerbitannya. Namun, Bintang malah mengejar Salwa seperti mengejar cinta wanita itu.
“Saya sebenarnya bisa mencari penulis lain, tetapi prediksi saya, naskah Anda akan sangat membawa banyak keuntungan. Dari sekian penulis, saya hanya jatuh cinta pada tulisan Anda, Nona Salwa Haniyah. Jadi, saya akan terus mendesak Anda agar menerima pinangan terbit ini.”
Salwa menaikkan sebelah alis matanya, dahinya berkerut, menatap Bintang. “Kenapa jatuh cinta sama tulisan saya? Anda percaya tulisan saya akan meledak terkenal?” tanya Salwa merasa penasaran.
Bintang mengangguk. “Saya rasa tulisan Anda berbeda dari yang lain. Tulisan Anda rapi dan pembacanya banyak. Jadi, saya beruntung jika tulisan Anda bisa terbit di tempat penerbitan saya. Anda belum jawab pertanyaan saya, kenapa Anda meminta permintaan itu? Anda naksir sama saya?” tanyanya sambil terkekeh pelan.
Salwa mengerucutkan bibirnya tampak kesal. Bukan itu konsep yang ia maksud. “Mas Bintang, gini, ya. Anda emang ganteng, tapi nggak kepedean juga, Mas. Saya memberi permintaan ini bukan karena itu. Saya akan jelaskan setelah Mas mau menerima tawaran dari saya. Pikirkan baik-baik, Mas. Kalau Mas Bintang mau saya menerbitkan karya di perusahaan Anda, sebaiknya Anda berikan saya keuntungan, yaitu dengan menikahi saya. Di dunia ini, hubungan itu imbal balik layaknya simbiosis mutualisme. Anda bisa dapatkan keuntungan dari naskah saya, saya untung mempunyai suami,” jelas Salwa panjang lebar. Bintang berusaha mencermati apa yang Salwa katakan.
Sosok pelayan wanita berjilbab hitam mendatangi meja nomor delapan belas, meletakkan sepiring red crabs dan secangkir cokelat hangat di atas meja tersebut. Pelayan itu membungkuk, kemudian tersenyum.
“Selamat dinikmati, Pak. Kalau begitu saya permisi,” pamitny, kemudian pelayan itu melenggang pergi, melayani pelanggan lainnya.
Salwa melemparkan senyuman manis bak gula kepada Bintang. “Selamat menikmati. Pikirkan baik-baik tawaran dari saya, Mas. Kalau begitu saya pamit dulu, ada pekerjaan penting yang harus saya kerjakan. Wanita itu melenggang pergi meninggalkan Bintang sendirian di tempat. Bintang mematung mendengar semua ini. Pria itu memandangi punggung wanita itu dari belakang yang lama-lama makin hilang dari pandangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mendadak Marriage [Sudah Terbit 🥰]
Romansa# Peringkat 7 Best Branding dalam event Author Got Talent yang diselenggarakan oleh Prospec Media ⚠️ Tidak lengkap (Romance - Humor) Salwa Haniyah begitu kesal ketika kedamaian hidupnya diganggu oleh seorang direktur dari sebuah penerbit mayor yang...
![Mendadak Marriage [Sudah Terbit 🥰]](https://img.wattpad.com/cover/279550773-64-k245923.jpg)