Terhitung 0,01 detik, mungkin sekejapnya lirikkan mata indahmu yang memberikan energi pada diriku seakan akan aku tersengat listrik dengan tegangan tinggi. . .
Lalu mataku melihat engkau tersenyum sayu dibalik masker putihmu itu.
Apakah ia merasakan juga aliran listrik yang kupancarkan pada matanya?
Selang beberapa saat, layaknya bermain tennis meja, tatapan mata kami selalu terpantul bergilir.
Yang pada akhirnya permainan itupun usai, mata kita saling bertatapan, kuberi anggukan sebagai tanda, lalu ia ikut mengangguk.
Aku tidak tau apakah permainan ini populer di kalangan remaja yang sedang kasmaran.
Dan aku pun tidak Tau apakah dia merasakan asyiknya bermain pantulan mata ini.
Tidak ada aturan pasti namun diakhir, ketika kamu saling menatap secara bersamaan, disitulah letaknya kekalahan.
Tapi ada rasa senangnya juga
_Nusa_21/9/21
KAMU SEDANG MEMBACA
Abstraksi Remaja
Poetry~Menuang serangkaian kata dalam angan angan zaman~ Kumpulan kegelisahan Puisi dan monolog dari seorang remaja Ambil yang baik jika menurutmu baik. _Tangguh Wibawa J
