Malam Minggu Monolog

22 2 0
                                        

Diriku menyakiti diri sendiri.
Seperti ditinju sang legenda Chris John
Untuk kesekian kalinya, hatiku dijadikan samsak.
Memukul keras rasa cinta. .

Tapi, rasa cinta itu tidaklah padam dengan mudah.
Aku perlu menjaganya, meski Tak Tau bagaimana membahagiakannya.

Masih dengan konsepsi lebih baik mencintai daripada dicintai.
Lalu apakah aku memang benar benar siap untuk dicintai? Dan kapan?
Apakah waktu bisa merangkai cermin yang pecah?

Lagi lagi aku menunggu jawaban angin,
Angin di malam minggu, ketika sepasang muda mudi bercumbu di depan rumah, cafe, bahkan jalan sepi dekat kuburan.

Ketika malam memanggilku untuk beri pesan padanya, agar jaga baik baik dengan perasaanmu, jangan biarkan aku merusaknya.

Apakah Mungkin aku ini egois? , hanya ingin mencintai saja dan Tak mau untuk dikasihi?
Ataukah salah persepsiku tentang ini?

Terkadang aku berfikir untuk mencintai diri sendirilah yang utama, tapi kenapa sebagian diriku ada pada dirimu..
Aku merasakan tinta itulah kamu,
Dan aku adalah kanvasnya.

Masih dengan kata 'entahlah' remaja dengan cinta monyetnya.
Tapi monyet itu kemungkinan akan belajar dan bersiap siap dengan dunia cinta yang dewasa, setelah usai dengan kertas, pena, dan materi materi yang selalu ia kerjakan dengan telat pada gurunya.

Berfikirlah, dengan gaya cantikmu itu.

_Nusa_9/25/21

Abstraksi RemajaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang