[𝐂𝐎𝐌𝐏𝐋𝐄𝐓𝐄]
Jevan terlalu ribut dan Harven terlalu diam.
...
Nikah kontrak? Jevan pikir itu cuma ada di drama televisi doang. Sampai dia dijodohin sama Harven Wicaksono, direktur yang ganteng, tajir, tapi nyebelin.
Harven suka aturan.
Jevan s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Udara di apartemen sore itu terasa sangat ringan. Jevan duduk di karpet ruang tengah mengenakan hoodie kebesaran dan kaus kaki lucu bergambar dinosaurus. Di pangkuannya terdapat laptop yang menyala dengan menampilkan desain 3D yang masih setengah jadi.
Akan tetapi matanya tak benar-benar fokus ke layar. Karena di seberangnya, Harven duduk sambil membaca laporan atau lebih tepatnya berpura-pura membaca laporan karena sesekali matanya tak berhenti melirik Jevan dari balik kacamata baca tipisnya.
"Ngeliatin aku?" Jevan bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Tidak," jawab Harven cepat, terlampau cepat. Jevan lantas tersenyum pelan. Senyum yang seakan berkata aku tahu kamu bohong, tapi aku biarkan.
"Pas itu, waktu kita pertama kali ketemu," gumam Jevan, "Aku pikir kamu bakal jadi suami paling nyebelin sedunia."
Harven menutup laptopnya. "Sekarang?"
"Sekarang aku pikir-pikir kamu emang nyebelin sih. Tapi ada manis-manisnya gitu, dikit." Harven menghela napas, tapi tak menyangkal.
Beberapa menit kemudian Jevan sudah berdiri di dapur sembari membongkar lemari makanan dan menyenandungkan lagu galau versi akustik yang ia sukai. Jevan masih batuk kecil sebenarnya, tapi semangatnya sudah kembali seperti langit biru seusai badai.
Harven lantas ikut masuk ke dapur dengan rasa penasaran. "Kamu belum boleh makan sesuatu yang pedas."
"Pleaseee, aku butuh ramen. Tubuh aku tuh nuntut yang namanya micin tahu. Ini tuh penyiksaan kalau aku ngga dikasih buat makan sedikit ramen," kata Jevan sambil memegang bungkus ramen seperti tengah memperjuangkan hidupnya.
"Tapi tubuhmu menuntut istirahat."
"Tapi jiwaku nuntut ramen."
Mereka saling menatap selama tiga detik. Lalu Harven mengambil mie dari tangan Jevan dan menggantinya dengan satu bungkus sup instan rasa ayam.
Jevan cemberut. "Kamu ini ngga punya sisi kasihan, ya?"
"Aku suka sesuatu yang penurut."
"Dan aku lebih suka membangkang."
"Aku tahu."
Maka Jevan langsung kembali mengetik di laptopnya, jari-jarinya menari dengan pelan. Di layar terlihat desain maket yang akan ia kompetisikan di Jepang mulai terbentuk. Harven masuk ke kamar dan berdiri di belakang Jevan cukup lama.
"Apa ini untuk proyek untuk di Osaka nanti?"
"Mm-hmm, kamu suka?" tanya Jevan. Lantas untuk pertama kalinya, Harven menjawab dengan nada yang lebih lembut. "Desainmu selalu aneh. Tapi punya jiwa."
Jevan menoleh. "Itu pujian?"
"Itu kenyataan." Jevan menatap pria itu lama. "Kadang aku bingung," bisik Jevan. "Apa sih yang sebenarnya kamu rasain tentang aku."
"Aku tak pandai menunjukkannya," jawab Harven. "Tapi bukan berarti aku tidak merasa."
Beberapa hari kemudian Jevan berjalan dengan cepat menyusuri lorong kampus, menyapa beberapa dosen dan adik tingkat yang lewat. Wajahnya segar, tapi senyumnya hari ini terlihat lebih tenang dan hangat.
Di kafe kampus dua temannya sudah duduk menunggu.
"Lo kelihatan bahagia banget," kata Jay sambil menyeruput es kopi.
"Cieee," timpal Niko. "Jangan bilang lo udah baper sama si Direktur Es itu, kan?" Jevan pura-pura kaget. "Siapa? Harven? Please deh kalian berdua stop."
"Please deh pala lo. Muka lo tuh ngasih spoiler tau, Jev." Jevan menunduk dan tertawa kecil. "Gue ngga tahu, Nik. Tapi akhir-akhir ini, dia kerasa beda."
"Beda gimana?"
"Dia ngga berubah, tapi gue mulai lihat sisi lain dia."
"Dan lo suka itu?" Jevan diam, lalu dengan suara sangat pelan, "Gue takut buat terlalu suka."
Setibanya di apartemen, Harven berdiri di balkon sembari membaca pesan dari tim keuangannya. Tapi pikirannya tidak benar-benar di sana, karena di dalam apartemen itu Jevan sedang bernyanyi kecil sambil menyeduh teh. Suara itu mengalun pelan, seperti hujan yang turun di luar musim.
Harven yang dulu selalu hidup dalam hitam-putih mulai melihat warna. Warna yang tidak bisa dia kendalikan. Tapi pelan-pelan, membuatnya merasa hidup.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.