16. Rumah Elang

329 136 123
                                        

HAPPY READING!❤

oOo

Elang melangkahkan kakinya memasuki rumahnya. Cowok itu membawa kantong kresek yang di dalamnya terdapat 2 bungkus nasi padang yang telah dibelinya sepulang sekolah tadi.

Pandangan Elang tertuju pada gadis berambut cokelat gelap yang sedang melihat-lihat foto yang terpajang pada dinding rumahnya.

"Kenapa nggak ada foto nyokap lo?" tanya Zetta bingung, karena tidak menemukan foto bunda Elang satu pun.

Elang tersenyum miris. "Bunda udah meninggal setelah kelahiran gue."

Zetta mengatupkan mulutnya. Dia baru mengetahui, jika bunda Elang sudah meninggal. Zetta benar-benar tidak tahu akan hal ini.

"Maaf, Elang. Gue nggak tau," ujar Zetta merasa bersalah.

"Nggak papa," Elang menyodorkan kantong keresek ke hadapan Zetta. "Gue beli nasi padang. Ayo, makan."

Zetta menatap kantong kresek berwarna putih di depannya, lalu menatap Elang. "Enggak mau."

"Tadi siang lo makan apa?" tanya Elang.

"Enggak makan."

"Sekarang, lo harus makan. Nggak ada penolakan!" tegas Elang. Membuat Zetta mendengus pelan.

Elang menaruh tas sekolahnya di atas sofa. Kemudian menggandeng tangan Zetta dan mengajaknya berjalan menuju ruang makan yang bersebelahan dengan dapur.

Dua bungkus nasi padang sudah tersaji di atas meja makan. Elang mengambil piring dan meletakkan sebungkus nasi padang di atasnya. Zetta mengikuti tindakan Elang.

"Ayo, makan. Jangan lupa berdoa," ujar Elang yang diangguki Zetta.

Elang memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Cowok itu tersenyum tipis ketika melihat Zetta ikut memakan nasi padang tersebut.

"Lo suka beli nasi padang?" tanya Zetta di sela-sela makannya.

Elang mengangguk. "Baru sekitar seminggu terakhir ini. Karena Bi Imah pulang kampung, jadinya nggak ada yang masak."

Bi Imah adalah asisten rumah tangga Elang yang sekarang sedang pulang kampung karena anaknya sedang sakit.

"Makasih ya, Elang. Udah ngizinin gue buat nginep di sini," ucap Zetta pelan.

Elang tersenyum tipis. "Sama-sama. Lagian, ini termasuk tugas gue sebagai Ketua Kelas lo."

Zetta mengerutkan keningnya. "Emang ini termasuk tugas Ketua Kelas?"

"Iya. Ketua Kelas harus melindungi semua anggota kelas."

Zetta tersenyum bahagia karena memiliki teman seperti Elang. Yang membantunya dan menenangkannya seperti kemarin saat dia menangis karena Alvin.

"Oh, iya. Tadi temen-temen lo nyariin lo. Mereka khawatir banget sama lo," ujar Elang seraya menatap Zetta.

Zetta terdiam beberapa saat, lalu membuka suara, "Tolong jangan kasih tau siapa pun kalo gue ada di rumah lo ya, Lang."

"Tapi, nanti kalo guru-guru nanyain-"

"Bilang aja kalo lo nggak tau," potong Zetta cepat.

Elang terdiam memikirkan permintaan Zetta.

"Gue mohon, Elang."

Akhirnya, Elang mengangguk ragu. Cowok itu ingin mengatakan jika siang tadi Nina bertengkar dengan Alvin, tetapi dia harus mengurungkan niatnya. Karena nanti Zetta pasti akan bertanya, 'Kenapa mereka bertengkar?' Elang tidak mungkin menjawab, 'Karena Alvin tidak peduli lagi dengannya'. Itu pasti akan sangat menyakiti perasaan Zetta.

SHAMBLES [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang