HAPPY READING!❤
oOo
Bel pulang sudah berbunyi sejak 5 menit yang lalu. Fendy berjalan cepat keluar dari gerbang sekolahnya. Dia akan menghampiri Adela yang sudah berada di halte bus yang berada di depan sekolah. Jika Alvin tidak memaksanya, Fendy pasti sudah pulang ke rumahnya untuk beristirahat.
"Adela!" panggil Fendy setengah berteriak.
Adela menoleh dan berdiri dari duduknya. "Ada apa, Fen?"
"Alvin nyuruh gue buat nganter lo pulang."
"Enggak perlu. Gue bisa pulang sendiri," ujar Adela, lalu kembali duduk di bangku halte.
Fendy ikut duduk di sebelah Adela. "Jangan keras kepala. Kalo lo nggak pulang bareng gue, gue bakal kena marah sama Alvin."
"Ck! Ya udah. Emang Alvin ke mana?"
Fendy menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Dia..."
Adela berdiri dari duduknya sebelum Fendy menyelesaikan ucapannya. Dia terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang. Adela melihat dari kaca mobil yang terbuka bahwa Alvin bersama Aliya sedang berada di mobil Aliya yang baru saja keluar dari gerbang sekolah.
"Eh, Del. Gue ambil mobil dulu, ya," ucap Fendy, lalu berlari ke dalam parkiran sekolah untuk mengambil mobil Alvin yang dia bawa sebelum mengantar Alvin ke halte bus pagi tadi.
Adela masih bergeming di tempatnya. Banyak sekali pertanyaan yang terlintas di otaknya. Dan salah satunya adalah, sejak kapan Alvin dan Aliya dekat?
Mereka memang sudah putus dan Adela tidak berhak melarang Alvin. Tetapi, kenapa Alvin kembali mendekatinya jika dia sedang dekat dengan Aliya?
***
Hari minggu yang artinya sekolah libur. Adela berjalan memasuki kawasan makam bersama kedua orang tuanya. Ratusan orang sudah berada di sana dengan wajah sedih hingga dipenuhi air mata. Satu panggilan berhasil membuat ketiga orang itu menoleh.
"Adela," panggil seorang pria paruh baya.
"Pak Fredy, kami turut berbelasungkawa atas kepergian putra Bapak," ucap Reano dengan nada sendu.
Fredy menepuk-nepuk bahu Reano pelan. "Boleh saya berbicara dengan putri kalian sebentar?"
"Silakan, Pak. Kami permisi dulu," balas Reano, lalu mengajak istrinya menuju pusat keramaian yang ada di makam tersebut.
"Bapak siapa, ya?" tanya Adela bingung.
"Saya Fredy, Papanya Arsen."
Adela mengubah raut bingungnya menjadi sendu. "Saya turut berdukacita atas perginya Kak Arsen. Saya nggak menyangka Kak Arsen bakal pergi secepat ini. Saya juga nggak tau kalo selama ini Kak Arsen menderita sakit."
"Adela, Om juga mau minta maaf karena kelakuan anak Om yang kurang ajar. Dia pernah mendorong kamu ke sungai, kan? Om benar-benar malu mengingat kejadian buruk yang menimpa kamu waktu itu karena ulah putri Om."
Adela mengerutkan keningnya bingung. "Putri Om? Emang Kak Arsen punya Adek?"
"Melva adalah anak Om. Sejak kalian masuk SMA, saya menikah dengan Ibu Melva," jelas Fredy, menjawab kebingungan Adela.
Adela cukup terkejut mendengar kebenaran tersebut. Tetapi kemudian, dia kembali menormalkan ekspresinya. "Enggak papa, Om. Saya udah maafin Melva kok."
Fredy tersenyum tipis. "Mari kita menemui mereka."
Adela mengangguk, lalu mengikuti langkah Fredy yang membawanya menghampiri orang-orang yang sedang menangis di sekitar makam Arsen yang sudah dikuburkan sekitar 10 menit yang lalu. Adela juga melihat Melva yang menangis dipelukan Ibunya.
Adela melihat ke arah lain. Ada Aliya yang sedang menangis dipelukan Manda. Adela tidak menyangka jika kedua temannya itu juga menghadiri pemakaman Arsen. Tetapi, kenapa tangisan Aliya tampak sangat memilukan?
"Om Fredy, itu Aliya, kan?" tanya Adela kepada Fredy yang berdiri di sebelahnya.
Fredy mengikuti arah pandang Adela. "Iya. Itu Aliya, pacar Arsen. Mereka berpacaran sudah dua tahun lebih. Wajar jika Aliya merasa sangat kehilangan Arsen."
Adela langsung membulatkan matanya. Sudah selama itu, tetapi Adela baru mengetahuinya. Hebat sekali mereka menyembunyikannya sampai orang lain tidak mengetahuinya.
"Adela," panggil Vano yang juga menghadiri pemakaman.
"Vano, lo di sini?"
Vano menganggukkan kepala, lalu memegang pergelangan tangan Adela. "Ikut gue."
Adela hanya diam mengikuti langkah Vano yang membawanya menjauh dari keramaian.
"Lo udah tau kalo Aliya pacarnya Kak Arsen?" tanya Vano.
"Udah. Gue baru tau tadi."
"Kemarin lo pasti salah paham pas lihat Alvin pulang bareng Aliya, kan? Fendy udah cerita ke gue. Dia diam karena Fendy juga nggak tau kalo Aliya pacaran sama Kak Arsen," jelas Vano.
"Jadi, kenapa lo bawa gue ke sini?"
"Gue cuma mau jelasin tentang ini. Gue nggak mau lo salah paham karena ngira Alvin lagi deket sama Aliya."
"Emang mereka kemarin ke mana?" tanya Adela penasaran.
"Ke Rumah Sakit keluarga lo. Kak Arsen di rawat di sana. Mereka ke sana karena dengar kabar bahwa Kak Arsen udah nggak ada," terang Vano.
Adela menganggukkan kepalanya paham. Pantas saja waktu itu dia pernah melihat Alvin dan Arsen sedang berada di Rumah Sakit keluarganya. Adela merasa bersalah karena sudah berpikir yang tidak-tidak tentang Alvin dan Aliya.
"Vano, lo juga tau soal Melva adeknya Kak Arsen?" tanya Adela.
"Gue baru tau tadi. Alvin nggak pernah cerita soal ini," balas Vano.
"Harusnya dia bilang dari awal," gumam Adela dengan nada kesal.
"Mungkin dia mau bilang, tapi nunggu waktu yang tepat.
"Kebiasaan deh suka nunda-nunda kalo ngasih penjelasan."
"Mending sekarang lo samperin Alvin. Mungkin dia butuh lo," ucap Vano.
"Mana Alvin?"
"Itu dia."
Tatapan Adela beralih kepada Alvin yang sedang berdiri termenung menatap kosong makam Arsen. Adela langsung berjalan mendekati cowok itu setelah berpamitan pada Vano untuk menanyakan keadaannya.
"Alvin," panggil Adela lembut.
Alvin menoleh dengan wajah sendunya. "Lay?"
Adela berusaha menarik senyumnya. "Jangan berlarut dalam kesedihan. Ada gue di sini."
Tanpa aba-aba, Alvin langsung menarik Adela ke dalam pelukannya. Adela hanya diam ketika Alvin menangis seraya terisak. Tangan Adela mengusap-usap punggung Alvin untuk memberinya ketenangan.
Dari kejauhan, Alisa berdiri bersama suaminya menatap putranya yang sedang berpelukan bersama Adela. Wanita itu menggenggam tangan Arion seraya tersenyum tipis ketika melihat kejadian di depannya.
"Pa, lihat putra kita. Dari tadi dia cuma diam sambil ngelamun dan itu bikin Mama khawatir. Tapi sekarang berkat kehadiran Adela, Alvin mengeluarkan emosinya yang sejak tadi dia tahan," ujar Alisa.
Arion menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma. Papa harap mereka bisa kembali bersama. Adela itu setengah nyawa Alvin. Sejak Adela memutuskan hubungan mereka, Alvin seperti tidak bernyawa."
Alisa menghapus air mata yang sejak tadi turun karena baru saja kehilangan keponakan kesayangannya, kemudian menggandeng lengan Arion untuk menghampiri Fredy yang sejak tadi hanya berdiri menatap kosong makam putranya.
-TBC-
JANGAN LUPA TEKAN TOMBOL VOTE NYA!
THANKS FOR READING!❤
Follow instagram @cyanaphiaa
KAMU SEDANG MEMBACA
SHAMBLES [SELESAI]
Fiksi Remaja⚠Sequel INVOLVED⚠ Tentang Alvinno Vernando Williams yang menyembunyikan kisah masa lalunya dari kekasihnya. Hingga suatu hari, sahabat lamanya datang dan mengungkit-ungkit cerita lama mereka. Sejak saat itu, Alvin kembali teringat sesuatu yang membu...
![SHAMBLES [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/275649667-64-k118366.jpg)