27. Sahabat

279 113 141
                                        

HAPPY READING!❤

oOo

Hari ini adalah hari terakhir PTS di Semester 1. Alvin dan ketujuh temannya sedang duduk di meja tengah kantin. Beberapa dari mereka ada yang belajar dan beberapa lagi ada yang menulis materi penting di selembar kertas yang nantinya akan dibawa untuk mencontek.

"Capek banget jadi manusia! Pengen jadi rempah-rempah aja," ujar Ryan seraya melempar pulpennya. Cowok itu baru saja selesai menulis materi di selembar kertas.

Fendy menyenggol lengan Alvin yang duduk di sebelahnya. "Vin, nanti kalo jawabannya A ketuk satu kali, kalo B ketuk dua kali, kalo C-"

"Jangan ketuk, Bego! Mending pake kode tangan," sela Ryan.

"Anjir! Kita gimana, Van? Pake kode yang mana?" tanya Dion kepada Vano.

"Tanyain sama Dimas. Kita kan nyontek ke dia," sahut Vano.

"Gue lagi males nyontekin kalian," balas Dimas cuek. Cowok itu kembali fokus membaca bukunya.

"Lalu, bagaimana dengan nasib kita, Kawan?" ucap Dion sok dramatis.

"Makanya, belajar yang bener. Jangan terus-terusan ngarepin jawaban temen," ujar Revan.

"Nggak semua orang punya otak yang bisa nampung banyak materi kayak lo, Van," balas Ryan.

"Lo bisa dapetin otak kayak gue, asal lo mau berusaha."

"Tenang aja, Yan. Ini hari terakhir PTS. Abis itu kita bisa bernapas dengan tenang," ujar Fendy seraya tersenyum.

Tring!

"Buset! Cepet amat bel-nya," lanjut Fendy.

"Terima nasib aja lah, Pen," sahut Ryan.

Bel masuk baru saja berbunyi. Membuat kedelapan cowok berparas tampan itu membereskan buku-bukunya. Kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan masing-masing.

***

Alvin melangkahkan kakinya keluar dari restoran dan duduk di bangku yang berada di depan restoran tersebut. Cowok itu sedang menemani Mamanya yang sedang berkumpul bersama teman-temannya.

Alvin sengaja meninggalkan mereka karena tidak ingin terus-terusan menjadi bahan pembicaraan dan juga tidak ingin dijodoh-jodohkan oleh teman-teman Alisa.

Ketika Alvin sedang fokus memandangi kendaraan yang berlalu lalang di depannya. Seorang cowok duduk di sebelahnya. Membuat Alvin langsung menoleh.

"Lo ngapain di sini?" tanya Bryan.

"Nemenin nyokap," jawab Alvin.

"Mana nyokap lo?"

"Di dalem," balas Alvin seraya menunjuk ke arah restoran menggunakan dagunya.

Bryan menundukkan kepalanya, lalu menatap Alvin di sampingnya. "Vin, lo mau nggak permusuhan di antara geng kita selesai?"

Alvin menganggukkan kepalanya.

"Maafin gue, Vin. Karena keegoisan gue, persahabatan kita selama hampir tiga tahun jadi pecah."

Alvin menghela napasnya pelan. "Gue paham. Waktu itu kita masih labil. Emosi nguasain diri kita, sampe kita lupa pentingnya persahabatan."

"Gue pengen kita berempat kumpul lagi. Gue, lo, Melva, dan Azusa. Tapi, itu nggak mungkin, karena Azusa udah pergi duluan," ujar Bryan.

Alvin tidak membalas ucapan Bryan. Cowok itu menundukkan kepalanya dan pandangannya kosong.

SHAMBLES [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang