HAPPY READING!❤
oOo
Alvin melangkahkan kakinya santai memasuki kelasnya. Hari ini adalah hari ke-5 Zetta tidak masuk sekolah. Entah ke mana gadis itu menghilang. Semua orang bingung mencarinya ke segala tempat yang sering gadis itu datangi. Tetapi, mereka tetap tidak menemukannya.
"Ini udah hari ke lima. Dan lo nggak ada niatan buat cari dia sama sekali?" tanya Revan setelah Alvin duduk di kursinya.
Alvin tidak menanggapi pertanyaan Revan. Cowok itu malah mengalihkan perhatiannya dengan membuka aplikasi game online di ponselnya.
Revan merebut ponsel Alvin. "Hati lo di mana, Vin? Lo nggak mikirin sekarang Zetta lagi apa? Zetta tinggal di mana? Dia baik-baik aja atau enggak-"
"Balikin ponsel gue," sela Alvin.
Revan mengembalikan ponsel Alvin. Cowok itu meremas rambutnya secara kasar. Dia lelah menghadapi sikap Alvin yang masih kekanak-kanakan.
"Cuma karena dia nyakitin fisik Melva, lo bersikap kayak gini?" tanya Revan. Ya. Berita pertengkaran Zetta dan Melva sudah menyebar di seluruh sekolahnya. Seseorang merekam setengah pertengkaran kedua gadis itu saat berada di toilet dan menyebarkan video tersebut di media sosial.
Alvin menatap Revan tidak terima. "'Cuma' lo bilang? Dia udah buat Melva luka, Van!"
Kini Revan terdiam. Dia tidak bisa membela Zetta karena tidak memiliki bukti apapun yang menunjukkan jika Zetta tidak bersalah. Revan sangat yakin bahwa Zetta tidak bersalah. Dia sudah mengenal gadis itu selama lebih dari 5 tahun lamanya.
"Lo kenal Zetta udah lebih dari dua tahun kan, Vin? Dan lo tau kan, kalo Zetta nggak mungkin sekasar itu?" tanya Revan dengan nada serius.
"Iya. Dan gue lihat kejadiannya secara langsung," Alvin menatap Revan dingin. "Sifat orang bisa berubah, begitu pun dengan Zetta.
Revan terkekeh sinis. "Termasuk lo? Lo juga berubah semenjak adanya Melva. Kenapa? Lo bilang dia cuma sahabat lo, kan?"
"Bukan urusan lo." Alvin mengepalkan kedua tangannya. Tatapannya kosong, namun tajam. Membuat Revan sedikit terbingung. Apakah ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Alvin?
"Gue harap lo nggak nyesel, Alvin," ujar Revan pelan.
Alvin hanya melirik Revan sekilas, lalu menoleh ke arah pintu. Ada Fendy dan Ryan yang baru saja datang.
"Wey! Kenapa nih pada diem? Nahan berak?" tanya Fendy asal seraya melirik Alvin dan Revan secara bergantian.
Revan tidak menanggapi. Cowok itu mengambil sebuah buku di laci dan mempelajari rumus-rumus di buku matematika miliknya.
Ryan menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa sih? Masalah Zetta?"
"Tanyain sama chairmate lo!" ketus Revan yang masih fokus membaca bukunya.
Alvin menatap sinis Revan yang duduk di depannya. Cowok itu menghembuskan napas secara kasar.
"Kalo urusan cewek, tanyain sama ahlinya," ujar Ryan dengan pandangan berbinar.
Fendy berdecih. "Cih! Lo maksudnya?"
"Kalo bukan gue, siapa lagi?" Ryan menyugar rambutnya. Cowok itu sudah mengeluarkan ekspresi sombongnya. Jika urusan cewek, dia selalu bersemangat.
"Jadi, gimana?" tanya Alvin.
Ryan mengetuk-ngetukan jari telunjuk pada dagunya, lalu membuka suara. "Kayaknya lo harus putusin Zetta. Cari cewek baru, Vin!"
KAMU SEDANG MEMBACA
SHAMBLES [SELESAI]
Roman pour Adolescents⚠Sequel INVOLVED⚠ Tentang Alvinno Vernando Williams yang menyembunyikan kisah masa lalunya dari kekasihnya. Hingga suatu hari, sahabat lamanya datang dan mengungkit-ungkit cerita lama mereka. Sejak saat itu, Alvin kembali teringat sesuatu yang membu...
![SHAMBLES [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/275649667-64-k118366.jpg)