Rosé sedang berada dikamar Lisa, dia tidak bisa fokus latihan karena memikirkan sahabatnya itu. Rosé sampai mendapatkan teguran dari pelatih, karena itu dia diperbolehkan pulang terlebih dulu untuk menenangkan pikirannya.
Rosé menatap sekitar kamar sahabatnya itu. Dia beranjak dari tepi ranjang kemudian mengelilingi ruangan itu.
Di rak buku Lisa ada bingkai foto-foto blackvelvet dan berbagai buku tentunya. Sahabat Rosé itu gemar membaca tak heran jika dia memiliki rak buku sendiri.
Tak sengaja Rosé menemukan sebuah album foto. Dia membuka nya, Terdapat foto-foto mereka termasuk foto masa kecil blackvelvet.
Ada satu foto yang menarik perhatian Rosé.
"Kok gue dekil banget sih dulu" Gadis blonde itu melihat fotonya bersebelahan dengan Yeri dan Lisa kecil. Terlihat tubuh mereka sangat kotor dengan beberapa lumpur di baju dan wajah.
Rosé ingat saat itu sedang hujan, Yeri yang bersemangat pun menarik tangan Rosé dan Lisa untuk bermain. Foto itu diambil oleh Irene karena gemas dengan ketiga gadis kecil itu.
Setelah itu ketiganya bermain hujan, keesokan harinya mereka mengalami demam.
Rosé terkikik geli mengingat momen itu, dia kembali membuka lembaran-lembaran album itu.
"Ternyata Lo masih nyimpen foto-foto ini."
Terlalu sibuk dengan kumpulan foto di album itu, sehingga Rosé tidak sadar sang pemilik kamar masuk.
"Oi ngapain tuh."
Rosé terkejut hingga album foto itu jatuh, di menghampiri Lisa lalu memeluk nya.
Lisa yang belum siap menerima pelukan itu terhuyung ke belakang, plastik yang ada di genggaman nya pun terlepas.
"Eh kenapa?" Bingungnya.
"Gua khawatir tau ngga, gatau kenapa." Rosé melepas pelukannya.
"Lo ngga kambuh kan?" Lisa terdiam, dia mengambil plastik yang sempat jatuh lalu memasukkan isinya di kulkas kecil yang dia punya.
"Gue gapapa kok".
"Bohong!"
"Please Lisa lakuin operasi itu." Mohon Rosé.
"Operasi atau engga gue tetep sa–" ucapan Lisa terpotong oleh Rosé
"Lo ngga sayang sama kita? Lo mau ninggalin gue?! Jangan gini dengan Lo nyembunyiin penyakit ini udah cukup bikin kita kecewa,"
"Jangan bikin gue ngerasa ngga berguna jadi sahabat Lo." Lirih Rosé menundukkan kepalanya.
Hati gadis berponi itu berdenyut nyeri, dia lupa masih memiliki orang-orang yang setia di sisinya.
"Gue cuma ngga mau ngerepotin."
"Percaya sama gue ngga ada yang ngerasa direpotin."
Kini mereka berdua duduk dipinggiran ranjang, Rosé kembali memeluk bahu Lisa. Keduanya terdiam.
Lisa pun menyenderkan kepalanya.
"Oke gue mau"
"Beneran?!" Pekik Rosé.
"Dengan satu syarat."
"Apah?".
"Gue pengen liat penampilan Lo di sekolah setelah itu gue mau ngelakuin operasi" Rosé tidak bisa menyembunyikan senyumannya, dia memeluk gadis disebelah lagi.
Lisa tersenyum, setidaknya dia sudah harus berusaha terlebih dulu soal hasil dia pasrahkan kepada Sang Pencipta.
"Udah ah gue mau mandi hush hush." Usir Lisa.
"Lo nyebelin awas yah." Dengus Rosé lalu keluar dari kamar Lisa. Gadis berponi itu hanya menggeleng pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Sound Of Time
Fanfiction"we only want one, can continue to be together "_blackvelvet Keseharian sembilan gadis cantik dan waktu yang mereka lalui bersama. Kebersamaan yang tercipta, canda tawa, suka dan duka. Harapan mereka hanyalah satu yaitu selalu bersama. Apakah suara...
