Raka dan Mbak Karen langsung bersorak gembira ketika Marsel datang sambil membawa buah tangan dari Bali. Dia dan beberapa hotel di sana berhasil menandatangi perjanjian kerja sama usaha. Jadi, menjelang dua jam selesai office hour dia datang ke kantor, padahal Wirya menyuruhkan untuk langsung pulang saja.
Anehnya, ada Wirya yang bergabung bersama kami dan tak kalah hebohnya saat melihat oleh-oleh yang dibawa Marsel. Sempat beberapa kali beradu pandang sama Mbak Karen karena keanehannya tersebut, kami memilih mengabaikannya saja. Mungkin saja, Wirya mau keluar dari zonanya sebagai atasan yang disegani para karyawannya.
Yaaa... bagus, sih. Cuma aku agak aneh saja. Karena sikap dan kelakuannya itu terasa berbeda sekali setelah setelah kejadian dua hari yang lalu. Semuanya terasa cepat begitu saja mengingat Wirya selalu memberikan kesan dingin dan datar—kadang judes, kepadaku atau karyawan lainnya.
"Ini buat gue, ya. Spesial banget nih gue chat si Marsel tengah malem cuma buat minta dibeliin pie susu," Mbak Karen langsung mengambil dua dus pie susu yang dibawa Marsel. "Laki gue suka banget sama susu."
"Susu yang lo kasih emang kurang, Ren?" tanya Raka.
Kampret emang si Raka!
Tanpa pikir panjang, Mbak Karen langsung menggeplak kepala Raka. "Sialan lo, Raka!"
Semuanya pun tertawa, termasuk Wirya, kecuali aku.
Melihat Marsel yang baru saja pulang dari Bali membuatku teringat akan kenangan bersama Kale dalam rangka liburan untuk membersihkan pikiran-pikiran negatifku akan kecemasan sewaktu baru lulus kuliah.
Kami liburan di sana selama seminggu dan melakukan kunjungan ke berbagai macam tempat kebudayaan dan pantai yang menjadi ikon pulau tersebut.
Mungkin saja, kalau aku nggak putus dari Kale, suasananya akan beda. Aku pasti sudah heboh menyambar semua buah tangan yang dibawa Marsel.
"Kamu nggak milih apa-apa, Aya?"
Pertanyaan Wirya membuyarkan lamunanku. Kulihat dia sudah mengenakan kaos bertulisan "I Love Bali" tetapi masih mengenakan kemejanya. Bisa dibayangkan betapa anehnya dia sekarang.
"Nggak mau kaos yang sama kayak saya?"
"Buat apa?" aku menatap judes ke arahnya.
"Biar samaan aja," gumamnya pelan sembari melepaskan kaos tersebut dari tubuhnya. "Sel, yang ini buat saya, ya? Nggak apa-apa, kan? Atau perlu saya bayar? Berapa?"
Marsel sontak saja mengibas-ngibaskan kedua tangannya. "Nggak usah dibayar lah, Pak! Ambil aja kalau Bapak suka. Masih ada tiga lagi tuh. Mau dibawa semuanya juga, silakan."
Wirya tersenyum kecil. "Nggak perlu. Saya cuma mau satu aja." Lalu, tatapannya kembali padaku. "Ayo, Aya diambil oleh-oleh dari Marsel. Keburu habis, nanti ngomel-ngomel nggak jelas ke Marsel."
"Iya, Aya. Ambil, nih..." Marsel menyodorkan kaos yang sama seperti Wirya kepadaku. "Ntar habis, lo nyangka yang nggak-nggak sama gue. Malesin banget soalnya."
Nggak ada pilihan lain lagi. Karena dua kaos dengan desain beda dari punyaku dan Wirya sudah raib di tangan Mbak Karen dan Raka. Terpaksalah aku menerimanya. Saat kulirik Wirya, dia terlihat tersenyum puas.
Entah maksudnya apa. Aku nggak mau terlalu pusing mikirinnya.
Begitu semuanya selesai merampok oleh-oleh yang dibawa Marsel, Raka kembali ke kubikelnya, Mbak Karen ke bagian produksi karena ada beberapa yang harus dia cek, dan Marsel disuruh pulang oleh Wirya. Sedangkan dia, ya masuk ke ruangannya lagi sambil memeluk kaos pemberian Marsel barusan dan tampak kegirangan. Persis sekali anak kecil yang baru saja dibelikan baju lebaran sama orangtuanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Really Bad Boss!
Romance"Aya, malam ini tidur di rumah saya, ya?" "Nggak mau lah, Pak!" "Kenapa nggak mau?" "Saya takut hamil." Dia tertawa. "Nggak apa-apa. Saya pasti tanggung jawab, kok." "Dasar! Really bad boss!" *** Update Tiap Sabtu & Minggu