BAB 7

5.1K 538 18
                                    

Sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai hubunganku dengan Kale, akhirnya terendus juga. Mama dan Papa menatapku penuh curiga saat kami sedang sarapan di hari Minggu yang cerah. Sedangkan yang kulakukan sekarang adalah lanjut makan dan pura-pura nggak tahu saja.

"Kapan?" Suara Papa lebih dulu memecah keheningan antara kami bertiga.

"Kapan apanya?" Aku menatap mereka sembari memasang muka sepolos mungkin. "Ini lagi ngomongin apa sih?"

"Hubungan kamu sama Kale," sambar Mama. Kutemukan beliau sepenuhnya menatapku serius. Oke, sudah saatnya mengaku saja. "Mama kan pernah bilang...."

"Ya udah sih, Ma. Nggak usah dibahas lagi." Aku memasang senyum lebar memastikan perkara putusku dengan Kale terkesan biasa saja. "Kalau Mama sama Papa udah tahu, ya udah nggak perlu tanya-tanya lagi sama aku."

"Kenapa bisa putus?"

"Beda keyakinan."

"Kale mutusin buat murtad?"

Aku menggeleng keras. "Bukan, Pa," jawabku. "Aku yakin bisa nikah sama Kale. Tapi dia nggak yakin bisa nikah sama aku."

"Nah, kan! Apa kata Papa juga. Kale emang kelihatan serius tapi seriusnya bukan mau sama kamu," kata Papa diakhiri dengan dengusan keras. "Papa sama Mama antara bersyukur atau menyesal. Bersyukur karena kamu sama dia akhirnya putus. Menyesal karena membiarkan kamu sama dia selama empat tahun tapi nggak ada hasilnya sama sekali."

Aku bergeming. Melanjutkan mengunyah sarapan sebelum pergi untuk melakukan kegiatan yang biasa kulakukan dua minggu sekali.

Sudah enam bulan belakangan ini aku bergabung di salah satu tempat pelatihan voli. Olahraga yang paling aku sukai dan sebenarnya sudah dilakukan sejak sekolah menengah pertama. Sewaktu kuliah saja aku masuk ke klub voli kampus dan mengambil posisi sebagai setter. Namun, begitu lulus dan sibuk nyari kerja sana-sini, aku sudah tidak melakukannya lagi. Setelah dua tahun kerja di perusahaan Wirya dan punya penghasilan sendiri, aku kembali melakukan olahraga tersebut setiap dua minggu sekali. Hitung-hitung sebagai refreshing setelah lima hari kerja tanpa henti.

Karena hari ini akan diadakan tanding dengan salah satu tim dari pelatihan voli di tempat lain, aku harus berangkat lebih pagi ke lapangan indoor di daerah Senen. Selain harus melakukan pemanasan terlebih dahulu, sebagai pemain voli yang akan turun ke lapangan, aku harus adaptasi dengan tempatnya. Meskipun semua lapangan voli sama saja, tetap saja membunyai kondisi dan suasana yang berbeda.

"Terus, Kale nggak ada itikad baiknya buat datang ke sini dan ngomong sama kami berdua, Ya?" tanya Papa. Terlihat sekali bahwa beliau merasa marah atas apa yang dilakukan oleh Kale. "Minimalnya telepon atau kirim pesan singkat. Ini nggak ada basa-basi sama sekali. Empat tahun lho kamu sama dia, Ya."

Iya, Pa, aku juga tahu. Empat tahun sama Kale banyak banget momen yang sudah aku ukir bersamanya.

"Dari awal kamu sama dia, feeling Mama emang udah nggak enak," sahut Mama, lalu melanjutkan sarapannya. "Bawaannya nggak enak hati aja gitu tiap kalian lagi pacaran," sambung Mama. "Iya, sih, kamunya emang kelihatan serius sama hubungan kalian berdua. Tapi, Mama nggak bisa merasakan keseriusan dari Kale."

Aku cuma bisa mengembuskan napas panjang setelah mendengarnya. Masih terus mengisi perutku dengan sarapan.

Tetapi, ada satu yang sekarang aku bisa rasakan perbedaan ketika orangtuaku atau orang lain membahas perihal hubunganku dengan Kale yang kandas. Yaitu, aku sudah tidak lagi merasakan sesak di dada atau sakit hati kala mengingatnya. Reaksi dan perasaanku lebih ke biasa saja dan selalu berkata dalam hati, "Ya udah, mau gimana lagi? Percaya sama diri sendiri kalau kamu bisa dapat yang lebih baik dari Kale."

Really Bad Boss!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang