liburan

952 90 4
                                    


Huhhh..... Haaaaahhhh.... Huhhhhh.....

Dengan wajah cantik dengan rambut tergerai indah, ditambah peluh keringat yang membasahi tubuhnya.

Bibir merah merona merah karena Lisa, manusia mesum itu lagi-lagi membuat Jennie kewalahan menghadapi situasi saat itu.

Sumpah serapah sudah keluar dari mulutnya, tetapi tidak merubah senyum semangat Lisa menikmati hidangan yang lezat itu.

"Hon, ini makanannya sangat pedas huhhhhhh... Haaahhh...." Keluhnya yang hanya dijawab kekehan Lisa.

"Maaf beby, aku terlalu bersemangat menambahkan cabe" sesal Lisa yang memang telah ikut membantu ibunya memasak tapi apa daya terlalu semangat jadi takaran cabenya lebih dari rasa standar Korea.

"Awas saja kalau mengulanginya, pokoknya kamu harus membuat liburan ini bermakna bawa aku ke tempat masa kecilmu dimanapun itu" ucapnya sambil terus menahan rasa panas dan pedas di bibirnya.

"Hehehehe siap Ndan" goda Lisa yang dibalas dengan cubitan spontan Jennie.

Saling goda dan jahil itulah yang menjadi ciri khas kedua insan ini.

Dan sekarang mereka sekan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya lagi.

Nyonya Kim dan nonya manoban hanya menggelengkan kepalanya, mereka memilih menikmati makanan khas Thai.

Percuma saja jika mereka menyela pastinya akan dikacangi juga, dan jika Jennie memang sudah tidak biasa memakan makanan khas Thai yang pedas bukannya memilih makanan lainnya, ia tetap lahap menyantap sedari tadi.

"Ini minum susunya beb, aku takut kau akan sakit perut" Lisa menyodorkan segelas susu murni dan yang di terima hanya tatapan tajam.

Sambil tersenyum lebar Lisa mengambil susu cokelatnya kemudian dengan perlahan Jennie meminumnya.

"Akhirnya aku kenyang juga" katanya dengan mengelap keringatnya dengan tisu yang sudah diletakkan di atas meja makan.

"Bagaimana beb, enakkan berada di Thailand?"

"Sangat cocok untuk jadi tempat tinggal, disini lebih baik dari Korea"jawabnya dengan terharu.

Nyonya Kim menyudahi makannya bukan kenapa, ia tahu bahwa anaknya tidak baik-baik saja.

Teror, ancaman, dan penguntit kini mulai terang-terangan menyerangnya. Begitu juga dengan Lisa yang notabennya anak rantau.

"Sudahlah, mari kita menikmati liburan ini dahulu. Eomma akan tetap menjaga kalian, dan ini keputusan mutlak dari appamu Jennie" tegasnya.

Nyonya manoban mendekap erat Jennie, ia sedikit merasa bersalah atas apa yang terjadi.

"Andaikan saja Lisa bukan anakku akan kupotong juniornya, tapi sekarang semua sudah terlambat. Semoga kalian berdua bisa mengatasi rasa stres yang ada"

Lisa berusaha keras untuk kuat namun ia sendiri sedikit takut menghadapi orang yang tidak memiliki hati, rasisme yang selalu Lisa dapatkan dari berbagai situasi masih belum selesai.

Bahkan ada yang dari staf, dari warga Korea, Bahkan netizen.

Ditambah lagi dengan gosip miring tentang Jennie yang seolah Jennie adalah seorang gadis yang play girl atau gadis simpanan CEO ent, gadis nakal, gadis tukang bully bahkan ada yang rela membuat gosip murahan jika dirinya lah penyebab utama bubar seniornya.

Entah apa yang terjadi jika mereka tahu seberapa besar pengaruh sang appa dan amma mereka di luar Korea.

"Kalian harus memiliki semangat tinggi dan tekad kuat untuk meraih kesuksesan. Setelah perilisan debut BLACKPINK mencuat, maka dunia akan menunjukkan sisi gelapnya. Fans kalian tidak semua mendukung kegiatan kalian, keluarga dan teman kalian harus jaga sikap. Perlahan aku ingin menutup bakat kalian tiap tahun skill dan talenta akan diperlihatkan secara bertahap. Ini agar konsep dasar BLACKPINK tidak bisa di curi group lain. Lisa, aku khawatir kau akan jadi sasaran utama hatters. Aku ingin kalian bertiga mengawasi Lisa secara langsung dan berganti, jaga pergaulan kalian dan belajarlah dari senior kalian"

Kalimat ceramah panjang dari sang CEO kini berputar di kepala Lisa, ingatan tentang dirinya yang berjuang sendiri kekorea. Ingatan tentang cara orang melihatnya, cara orang mem-bully-nya serta ingatan saat ia melihat uluran tangan Jennie yang tulus menyapa dengan bahasa Inggris.

Masih asyik dengan ingatan yang perlahan membuatnya senyum sendiri (Lisa lupa jika sedang berada di meja makan).

"Lisa?"

".….."

"Honey?"

"........."

Dengan gemas Jennie mengelus paha Lisa yang memakai jeans/bukan kolor.

"Uhhhhhhhhhh"

Seketika Lisa kembali sadar, entah kenapa suaranya terdengar ambigu.

Tangan nakal itu tidak berhenti mengelus paha sang kekasih dan tentu saja ini bahaya untuk Lisa.

Wajahnya memerah dan bibir tebalnya berusaha ia katupkan agar tidak mengeluarkan suara.

"Cepat selesaikan makanan kalian, dan kau lalisa manoban akan jadi pemandu wisata eomma dan bucinmu itu" nyonya Kim sedikit menatap tajam kearah anaknya.

Ia tahu akan hal yang dilakukan anak gadisnya.

Lisa ingin menjawab tapi Jennie semakin menggerayangi pahanya. "lebih baik aku diam, nyonya Kim, mommy, jangan pergi dulu" batinnya berteriak keras melihat bahwa kedua wanita itu beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

"Ini hukuman karena kau tidak menjawab pertanyaan ku tadi"

"Emmmm...ahhhh?!"

"Auuu ternyata sudah menegak, sabar junior. Mommy tidak bisa memanjakanmu, salahkan Lisa yang membuat ku marah" diakhiri remasan yang membuat Lisa sudah diujung sana.

Jennie tertawa bahagia melihat Lisa yang sudah on akibat tingkahnya. Ia berlari menuju kamar mengingat bahwa mereka akan melakukan berbagai kegiatan di Thailand.

"Yaaaa.... Beby izinkan aku masuk kamar." Lisa merengek meminta agar pintu itu terbuka agar niatnya untuk EHM terlaksanakan.

"Hehehe sorry hon, kita tidak boleh mengulur waktu. Ayo jadi pemanduku dan eommaku buat kami senang" ucap Jennie yang membuka pintu kamar.

Menampakkan sosoknya yang cantik,imut, cute dan menggemaskan.

JENLISA VS MEDIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang