Tik tik tik
Sedari tadi jemari mereka tak henti bergerak dan menekan pada keyboard di hadapan, sesekali menengadahkan sedikit kepala untuk melihat situasi yang terjadi pada layar radiasi di depan mata.
Berusaha cepat mengomando para prajurit agar yang menjadi ancaman mereka tidak keluar dari zona berbahayanya, sudah banyak yang menjadi korban dan andai saja waktu bisa di ulang.
Ia janji tidak akan pernah melakukan hal ini demi membuat sahabatnya berbaikan, keringat membanjiri kupluk kuning bergradasi biru miliknya sehingga sedikit basah di ujung kain.
Menolehkan kepalanya ke samping saat merasa tangan seseorang muncul di hadapannya memberikan sebuah sapu tangan, seolah-olah mengerti arti dari gerakan fisik berupa isyarat tersebut.
Ia pun mengambilnya dan mengelap keringat yang membasahi dahinya.
"Capek? Istirahat sono."
"Gak, ini tanggung jawab gue dan selagi belum selesai, gue gak akan pernah beristirahat."
"Gue kira lo tipe cewek yang gak peduli sama kesalahan."
"Apa yang terlihat belum tentu benar Rey."
"Hn."
"Btw, Thorn sama Alexa lo suruh ke kamar asrama?" tanya Ying sedikit terkejut saat melihat rekaman CCTV.
"Gue cuma bilang pada mereka untuk hati-hati terus kek nya Alexa yang terlalu bersemangat untuk membasmi para zombie."
"Kelihatannya lugu tapi ternyata pembunuh," timpal Ying asal ceplos.
"Ngaca!" tegur Rey.
"Gue cuma berkata sesuai kenyataan, eh iya! Claudia dan Solar sudah masuk lab?" tanya Ying, mengalihkan topik.
"Sudah, kek nya mereka berdebat lagi," ujar Rey sembari menunjuk rekaman CCTV di depannya.
"Biarkan aja, yang penting penawar itu harus cepat selesai, eh! Tapi kalau ramuannya udah selesai, cara bikin zombie-nya jadi manusia lagi gimana? Ya kali disuntik, bukannya jadi manusia malah kita yang ikutan jadi zombie entar," balas Ying.
"Gak gitu kali, kita tunggu rencana mereka aja dulu."
"Iya sih."
"Eh! Ngomong-ngomong itu siapa Ying?"
"Ha?"
°^°
Wooossshhh!
Wooossshhh!
"Varo! Sai! Gue minta lo berhenti!" seru Blaze.
"Sai! Lepaskan Shielda sekarang! Jangan paksa dia!" seru Yaya.
Berlari secepat badai angin, Yaya dan Blaze terus berseru untuk menyuruh Varo, Sai dan Shielda berhenti. Tembakan dan tebasan terus dilayangkan tanpa mendapat penyerahan diri dari sang lawan.
Meski sudah bersusah payah namun Blaze dan Yaya tetap mencoba menghentikan mereka, untungnya aksi kejar mengejar ini terjadi pada malam hari.
Sehingga mereka tidak akan bisa membangunkan seluruh warga pulau rintis yang menikmati kasur mereka, berlari dan melompat dari satu gedung ke gedung lain tanpa tentu arah dan tujuan. Hal itu sudah dilakukan sejak satu jam yang lalu.
"Sampai kapan pun, gue gak akan mengakui kesalahan gue!" seru Varo balik. Menembakkan pistol laser miliknya pada Blaze dan Yaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Different Situation✔️
Action𝐒𝐪𝐮𝐞𝐥 𝐅𝐫𝐢𝐞𝐧𝐝𝐬𝐡𝐢𝐩 𝐎𝐫 𝐌𝐢𝐬𝐬𝐢𝐨𝐧 𝐅𝐫𝐨𝐦 𝐭𝐡𝐞 𝐛𝐨𝐨𝐤 𝐎𝐧𝐞 𝐒𝐡𝐨𝐭 𝐒𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐒𝐭𝐨𝐫𝐲 Cerita tentang ketiga sahabat yang di mana dua di antara mereka berseteru tanpa diketahui secara langsung dan salah satu dari mereka m...
