Bab 11

41 4 1
                                        

Setelah turun dari angkot Ceri dan Arthur berjalan beriringan menuju rumah Ceri tanpa adanya obrolan. Keduanya tidak ada yang mau membuka percakapan, mereka terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Dari arah berlawanan sebuah motor yang melaju cepat melintasi gendangan air yang berada dekat dengan mereka. Arthur yang melihatnya refleks menghalangi tubuh Ceri agar tidak terkena cipratan air itu. Alhasil badan bagian belakang Arthur basah kuyup dan kotor karena terguyur air kubangan itu.

"Kak Arthur gak papah"

"Lo tanya gak papah, Lo gak liat baju gue basah, kotor lagi" Sewot Arthur yang merasa kesal. Ia kesal bukan pada Ceri tapi pada pengemudi motor yang melintasi genangan air sebesar itu. Apa pengemudi motor itu tidak memiliki mata sehingga memilih melintasinya dari pada lewat jalan yang kering.

"Ish, kak Arthur tuh kenapa sih sikapnya berubah-ubah kadang baik kadang emosian" Ceri heran kenapa Arthur cepat emosi hanya karena hal kecil.

"Mana gue tau, baawan dari lahir kali" kata Arthur cuek. Arthur juga tidak tahu kenapa ia sering cepat marah padahal dulu ia adalah orang yang cukup penyabar. Mungkin ia seperti itu karena capek dengan keadaan, menjadi seorang penyabar yang selalu mengalah tapi tidak pernah di hargai.

"Iya kayaknya, mungkin mamanya kak Arthur ngidam makan cabe pas ngandung kakak" pikir Ceri bercanda.

"Kok gitu? Apa hubungannya gue sama cabe?" tanya Arthur heran. Ia menatap Ceri dengan serius.

"Soalnya mulut kak Arthur pedes kayak cabe" Ungkapnya jujur. Ceri tidak tahu apa Arthur berbicara pedas hanya padanya atau ke semua orang. Meskipun begitu Ceri tidak merasa sakit hati ataupun tersinggung.

Arthur megerutkan keningnya detik berikutnya ia tersenyum kecil, "Mama Lo pasti ngidam makan kodok soalnya suara Lo kayak kodok udah gitu kerdil, jelek, idup lagih" ucap Arthur tidak sesuai fakta. Entah kenapa ia jadi kecanduan untuk mengatai Ceri hanya untuk melihat gadis itu mengerucutkan bibirnya atau tersenyum manis padanya untuk menunjukkan bahwa dia tidak keberatan dengan perkataannya.

"Terima kasih atas pujiannya" ucap Ceri tersenyum manis. Ia tidak peduli meskipun di katakan kerdil, jelek atau apapun itu karena itu hak Arthur dan orang-orang untuk menilainya. Ceri juga tidak sakit hati, ceri anggap semua itu pujian yang tidak langsung dikatakan. Namun satu hal yang selalu Ceri ingat, 'jangan terbang karena pujian dan jangan jatuh karena cacian karena kedua hal itu adalah jalan yang sama untuk menghancurkan mu'

"Gue gak muji Lo lek, jelek" kata Arthur seraya mencubit kedua pipi chubby milik Ceri. Entah setan apa yang merasuki Arthur hingga ia lancang melakukan itu pada Ceri. Arthur tidak tahu kenapa ia melakukannya yang jelas Ceri sangat menggemaskan sayang kalau tidak di cubit-cubit.

"Sakit kak" protes Ceri lalu Arthur melespaskan tangannya dari pipi Ceri.

"Sorry, tangan gue nih nakal banget" kata Arthur memukul pelan kedua telapak tangannya bergantian.

Ceri tersenyum kemudian kembali melanjutkan langkahnya dengan pipi yang terasa panas. Arthur pun mengikuti langkah Ceri yang sedikit terburu-buru.

"Cer" panggil Arthur di tengah perjalanan mereka menuju rumah Ceri.

Ceri mendongak menatap Arthur yang sudah berada di sampingnya, "Iya kak kenapa?"

"Lo tadi beneran gak marah sama gue atau apa gitu" ucap Arthur merasa ganjil karena Ceri tidak terlihat marah padanya saat latihan tadi, padahal Arthur sudah mengomelinya, menyuruhnya untuk mengulang lagu yang dinyanyikan.

"Enggak" Jujur Ceri, ia sama sekali tidak marah.

"Kalau soal kotak bekal Lo yang gue buang Lo marah gak" Arthur menaikkan sebelah alisnya.

"Tadinya pengen marah tapi buat apa juga aku marah sama kakak kotaknya udah ilang, kalau pun aku marah-marah kotaknya gak bakal balik lagi"

"Setidaknya Lo keluarin emosi Lo sama gue. Lo boleh marahin gue Lo boleh nampar gue kayak waktu itu kalau Lo mau, dari pada Lo pendam sendiri" Arthur tahu dibalik senyum Ceri, cewek itu tidak sedang baik-baik saja. Ia  memang terlihat Ceria, tapi matanya tidak bisa berbohong kalau ia tidak sedih.

"Kotaknya bukan rejeki aku makanya hilang. Percuma aku marahin kakak, maki-maki kakak gak ada faedahnya kalau udah jadi rejeki aku pasti bakal balik lagi tanpa harus marah-marah"

"Iya sih Lo bener" Arthur tertegun dengan penuturan Ceri. Ia jadi mereka bersalah. "Mm, Lo sayang banget ya sama kotaknya, pasti berharga banget ya buat Lo"

Ceri berhenti melangkah begitu juga dengan Arthur.

"Iya aku sayang banget sama kotak itu, karena itu satu-satunya pemberian dari ayah aku" Kata Ceri. Ibunya bilang kotak bekal itu pemberian dari ayah sebelum beliau pergi. Karena itu lah, Ceri sangat menyayangi kotak bekal itu. Dengan harapan ayahnya juga akan menyayanginya di manapun dia berada.

"Ceri sebenarnya kotaknya gak ilang, ada sama gue" kata Arthur yang tidak di dengar oleh Ceri.

"Cer, Ceri" Arthur mengibaskan tangannya di depan wajah Ceri.

"Iya kak kenapa?" tanya Ceri cengo, baru sadar dari lamunannya.

"Lo ngelamun,"

"Aku gak ngelamun," bohong Ceri.

"Masa sih, kalau gak ngelamun coba ulangi perkataan gue barusan"

"Yang barusan, emang kak Arthur ngomong apa" Ceri menautkan alisnya. Tidak tahu karena ia sempat terhanyut oleh ingatan tentang kakaknya yang melintas di benaknya. Mengingat itu ia jadi merindukan kakaknya.

"Gak tau gue lupa" kata Arthur tidak ingin mengulangi perkataannya. Ia urungkan niat memberikan kembali kotak bekal Ceri, mungkin di waktu yang tepat ia akan memberikannya. Yang pasti bukan saat ini.

Ceri memutar malas bola matanya, "Kak Arthur gak jelas deh"

"Lo yang gak jelas"

"Kakak pulang gih, nganterinnya sampai sini aja" kata Ceri karena rumahnya juga sudah dekat. Ceri tadi sempat berpikir kenapa Arthur ikut turun dari angkot padahal ia bisa pulang sendiri dan Arthur bisa langsung pulang ke rumahnya.

"Cer Lo gak mau tanggung jawab baju gue basah gara-gara nolongin Lo, tawarin baju ganti kek" Protes Arthur. Ia sedikit kedinginan dengan baju basah yang di pakainya sekarang tapi Ceri tidak menawarinya pakaian ganti.

"Ceri lupa, makasih udah nolongin tapi emangnya kak Arthur mau pake baju ibu kalau pakai baju aku kan gak mungkin. Gak bakal muat di badan kakak"

"Ogah, mendingan gue pulang basah-basahan dari pada pake baju ibu-ibu" Arthur bergidik ngeri saat membayangkan ia memakai daster milik ibunya Ceri.

"Kak Arthur kerumahnya kak Irul aja buat minjem baju" usul Ceri dari pada Arthur pulang dengan keadaan seperti itu lebih baik ia mampir dulu ke rumah Irul.

"Gue ke rumah Irul yang ada sebelum gue di pinjemin baju gue di ceramahi duluan sama emaknya yang super galak yang suka ngingetin masalalu, yang dikit-dikit ngasih hukuman masih mending hukumannya bersihin WC ketimbang nyuruh bikin essai satu buku Full." Cerocos Arthur panjang kali lebar.

Arthur kapok main kerumah Irul karena Bu Kimia selalu menyuruhnya untuk belajar bareng anaknya padahal tujuan awal hanya untuk mengajak Irul bermain. Jadi tidak heran kalau Chairul selalu menjadi peringkat nomor satu di sekolahnya karena cowok itu setiap hari selalu belajar, otaknya setiap hari di beri asupan materi-materi yang ada di buku. Tapi terkadang Arthur merasa heran kenapa ibu dan anak itu sifatnya berbeda. Bu Kimia orangnya tegas, bawel sedangkan Irul lembut dan kalem. Mungkin karena beliau adalah orang tua tunggal makanya seperti itu, tegas untuk menjadi ayah buat anaknya dan bawel sifat kebanyakan seorang wanita, bukan?

"Gak boleh gitu Bu Mia kan guru kakak mamah sahabatnya kakak, Bu Kimia kayak gitu juga untuk kebaikan, itu artinya beliau peduli sama kakak harusnya kak Arthur berterima kasih."

"Iya gue ngerti, thanks you udah ngingetin" kata Arthur lantas mengacak rambut Ceri membuat sang empunya terkejut mendapat perlakuan seperti itu, "udah sana balik"

Ceri mengangguk cepat dan langsung berjalan cepat meninggalkan Arthur yang tersenyum melihat kepergiannya. Setelah agak jauh Ceri memegang kedua pipinya yang terasa panas lalu ia memegang dadanya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.

"Apa yang terjadi sama aku" gumam Ceri.

ARTHUR & CERIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang