Bab12

32 5 0
                                        

Langkah kaki Arthur terasa berat saat melewati ambang pintu. Suasana rumah yang luas itu menyambutnya dengan keheningan yang menyesakkan, tipe kesunyian yang seolah memiliki berat dan menekan dada. Ia mengembuskan napas panjang, sebuah kepasrahan yang sudah menjadi rutinitas.

"Sepi lagi," gumamnya pahit.

Dinding-dinding rumahnya dihiasi lukisan mahal dan lampu kristal, namun tak satu pun dari benda-benda itu mampu memberikan kehangatan. Ayah dan ibunya adalah bayangan yang hanya muncul dalam bentuk saldo rekening atau pesan singkat singkat berisi urusan pekerjaan. Mereka lupa bahwa di antara tumpukan dokumen dan rapat direksi, ada seorang anak yang perlahan-lahan mulai lupa bagaimana rasanya makan malam bersama.

Arthur menaiki tangga dengan lesu, lalu mendorong pintu kamarnya. Ia langsung menuju meja kayu jati di sudut ruangan, mencari benda yang semalam ia letakkan di sana. Namun, dahinya berkerut. Meja itu tampak terlalu rapi. Buku-bukunya yang biasanya berserakan kini tertata simetris. Debu-debu halus hilang.

"Gue naruh di sini kemarin. Kok hilang?" ia mengacak tumpukan kertas dengan panik, mencari sebuah kotak biru kecil. "Siapa yang beresin kamar gue? Bibi kan lagi pulang kampung."

"Nyari apa, sih?"

Suara feminin yang tiba-tiba itu membuat Arthur terlonjak. Jantungnya nyaris melompat keluar dari rongga dada.

"Ditanya malah kaget. Kayak lihat hantu aja," suara itu terdengar lagi, diikuti tawa renyah yang sangat familier.

Arthur menoleh cepat ke arah tempat tidur. Di sana, seorang gadis sedang berbaring santai, menyangga dagu dengan kedua tangan seolah dia pemilik sah kamar itu.

"Lo! Sejak kapan di sini?!" seru Arthur, matanya membelalak. Gadis itu, Cassie. Sosok manja yang menghilang selama dua tahun ke luar negeri, tiba-tiba muncul di hadapannya seperti sulap.

"Dari tadi, Tur. Lo aja yang masuk kayak zombi, nggak lihat kiri-kanan," jawab Cassie santai sambil beranjak duduk, merapikan rambutnya yang panjang.

"Siapa yang ngizinin Lo masuk kamar gue, Cassie?" suara Arthur naik satu oktav. Ia paling tidak suka privasinya diinjak-injak.

Cassie malah melompat duduk ke atas meja belajar Arthur, mengayun-ayunkan kakinya yang jenjang dengan ekspresi tanpa dosa. "Nggak ada. Emangnya nggak boleh? Kita kan udah lama nggak ketemu."

"Nggak boleh. Keluar sekarang," ketus Arthur.

"Ih, kok gitu sih? Galak banget!" Cassie mengerucutkan bibirnya, memasang wajah paling memelas yang biasanya berhasil meluluhkan siapa pun.

Arthur mengabaikan ekspresi itu. Pikirannya kembali pada benda yang hilang. "Cassie, Lo yang beresin kamar gue?"

"Iya. Abis berantakan banget kayak kapal pecah. Gue punya inisiatif baik buat ngerapiin," Cassie tersenyum manis. Senyum yang sempat membuat Arthur terpaku sejenak karena kemiripannya dengan Ceri. Namun ia segera menggeleng. Beda, batinnya. Ceri itu mandiri, sedangkan Cassie adalah definisi dari kata 'repot'.

"Lo lihat kotak warna biru di meja ini?" Arthur menunjuk permukaan meja dengan jari gemetar karena menahan emosi.

Cassie mengetuk-ngetuk dagunya, berlagak berpikir. "Oh, kotak biru kusam itu? Udah gue buang ke tempat sampah di depan."

Darah Arthur mendidih. "Kenapa Lo buang, Cassie Shenesty?!"

"Abisnya kotak itu kotor, bau, dan kelihatannya cuma sampah tak berguna. Jadi ya, bye-bye kotak biru!" jawabnya santai, bahkan tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya.

Arthur tidak sanggup lagi membalas. Ia berbalik dan berlari keluar kamar secepat kilat.

"Eh, mau ke mana?!" teriak Cassie heran.

Arthur menggeledah tempat sampah besar di depan rumahnya, namun kosong. Dengan napas tersengal, ia menghampiri satpam yang berjaga di gerbang.

"Pak! Sampahnya mana? Kok kosong?"

"Waduh, baru saja diangkut truk sampah, Den. Sekitar lima menit yang lalu. Ada apa ya?"

Arthur mengacak rambutnya frustrasi. "Ada barang saya yang kebuang, Pak!"

"Barang apa, Den? Biar saya susul, mungkin belum jauh mobilnya."

Mendengar itu, Arthur tersentak. Benar juga! Tanpa menjawab, ia berlari masuk ke garasi, menyambar kunci motor sport hitamnya, mesin yang jauh lebih bertenaga daripada motor hariannya. Deru mesin 4-cylinder itu menggelegar saat ia memutar gas, melesat meninggalkan rumah seperti peluru.

Di jalan raya, Arthur memacu motornya dengan kecepatan tinggi, menyalip kendaraan lain dengan lincah. Matanya tajam mencari truk sampah kuning yang membawa "harta karun"-nya. Begitu truk itu terlihat di depan, ia segera memepet dan memberi isyarat agar sopirnya menepi.

Ckiiitt!

Truk itu berhenti di bahu jalan. Arthur turun tanpa membuang waktu. Bau busuk yang menyengat langsung menusuk indra penciumannya, membuat perutnya mual seketika. Namun, ia menutup hidung dengan lengan jaket dan mulai mengaduk-aduk tumpukan plastik limbah di bak truk.

Sopir truk hanya bisa melongo melihat seorang cowok keren dengan motor mahal rela mandi sampah.

"Ketemu!" seru Arthur tiba-tiba. Tangannya yang kotor meraih sebuah kotak biru yang sudah sedikit penyok.

Senyum Arthur merekah lebar. Ia melonjak kegirangan di samping tumpukan sampah, memeluk kotak itu seolah baru saja menemukan bongkahan emas. Sopir truk menggeleng-gelengkan kepala. Orang kaya zaman sekarang aneh-aneh, pikirnya.

Arthur sampai kembali di rumah dengan penampilan menyedihkan. Jaketnya kotor, dan bau sampah yang menusuk mengikutinya masuk ke ruang tamu.

"Arthur! Bau banget! Lo habis mandi di selokan?" Cassie menutup hidungnya dengan ekspresi jijik saat Arthur mendekat.

"Ini semua gara-gara Lo!" semprot Arthur. "Kalau Lo nggak lancang buang barang orang, gue nggak bakal begini!"

"Kok gue?" Cassie menunjuk dirinya sendiri, matanya mengerjap-ngerjap polos.

"Iyalah! Kotak ini... gue rela ngacak-ngacak sampah demi benda ini!" Arthur menunjukkan kotak biru itu dengan bangga.

Cassie bergidik, mundur satu langkah untuk menjaga jarak. "Itu kotak apaan sih? Kok kayaknya penting banget sampai rela kotor-kotoran?"

"Kotak ini berharga buat seseorang," ucap Arthur pelan.

"Seseorang? Siapa? Pacar Lo ya?" Cassie memicingkan mata, aura detektifnya muncul. "Rela pegang sampah demi cewek? Wah, Arthur udah nggak waras."

"Bukan pacar. Ini punya teman gue," jawab Arthur tegas, meski ada sedikit rona merah di telinganya.

"Temen apa 'demenan'?" goda Cassie lagi.

Arthur mendengus, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Udah, deh. Lo kapan balik ke Indo?"

"Kemarin. Dan rencananya, gue mau menginap di sini," ucap Cassie tanpa beban.

"Nggak boleh. Pulang sana, entar dicariin keluarga Lo."

"Di rumah nggak ada orang, Tur. Om Richard pergi ke luar kota, ada urusan bisnis," Cassie mulai merengek, nada suaranya berubah manja yang membuat Arthur pening.

"Kenapa nggak ikut? Biasanya Lo kayak perangko sama dia."

"Katanya gue harus belajar mandiri, nggak boleh manja terus," Cassie memutar bola matanya, menirukan suara tegas omnya.

"Om Lo bener. Mending pulang sekarang. Di rumah Lo kan banyak bodyguard, aman."

"Justru itu! Kalau dijagain bodyguard, namanya bukan mandiri, tapi dipenjara! Pokoknya gue mau di sini!" Cassie bersikeras, melipat tangan di dada.

Arthur mengembuskan napas panjang. Berdebat dengan Cassie saat kepalanya pening dan tubuhnya bau sampah adalah kesia-siaan. "Ya sudah, terserah. Tapi jangan ganggu gue."

"Yes! Makasih, Baby!" Cassie refleks ingin memeluk Arthur, namun ia segera berhenti dan mundur lagi saat mencium aroma sampah yang kembali menyengat. "Mandi sana! Bau banget!"

"Nggak usah panggil gue Baby. Gue bukan bayi," gerutu Arthur sambil melangkah naik ke kamarnya, mendekap erat kotak biru yang berhasil ia selamatkan.

ARTHUR & CERIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang