15

6.3K 704 43
                                        


Renjun yang sedang duduk di kursi taman itu sesekali memegang perutnya. Renjun merasakan nyeri disana, seperti ada yang menusuk-nusuk perutnya.

"Kenapa?" tanya Yangyang yang menghampiri Renjun dengan skateboard nya.

Renjun menggeleng, "Kayaknya tadi loncat-loncat jadi sakit."

Yangyang ber-oh ria lalu ikut duduk di sebelah Renjun, tangan nya terulur untuk ikut mengelus perut Renjun.

"Biar sembuh hehe."

"Ih!!" Renjun menepis tangan Yangyang, "Mau modus kali ya."

Yangyang hanya terkekeh, "Latihan sekarang masih gampang-gampang, nanti gue ajarin yang lebih ekstrim lagi."

"Lo gak pernah ditanyain guru apa setiap hari kamis gak suka sekolah?"

"Ditanyain mah sering, tapi gue bodoamat. Gue udah males sama sekolah, juga ada sesuatu yang makin bikin gue males."

Renjun menoleh ke arah Yangyang, "Kak... Kun?"

Yangyang mengangguk, "Sebel gue sama tuh guru satu. Sakit hati banget, kemarin dia baperin gue maksudnya apa kalo ternyata malah sama orang lain?"

Kun adalah salah satu guru di sekolah mereka, cuma karena waktu itu Kun sudah akrab dengan Yangyang jadi dia menyuruh Yangyang untuk memanggilnya kakak.

"Gue ngerti kok, Yang. Udah deh, lupain aja ntar makin sakit kalo terus diinget."

Yangyang menghela napas kemudian menyandarkan kepala nya di bahu Renjun.

"Gue udah lupa kok serius. Karena gue lagi ngincar seseorang cuma gue belum berani aja."

"Siapa?" tanya Renjun.

"Umm... ada deh. Ntar juga lo tau."

Renjun tidak menjawab lagi kemudian ikut menyandarkan kepala nya di kepala Yangyang.

.
.
.

Sejak 30 menit yang lalu yang dilakukan Haechan hanya terdiam di dalam mobilnya, sama sekali belum melajukan nya pergi dari area sekolah.

Haechan yakin dirinya memang tidak menyukai Renjun tapi kenapa seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya.

Haechan membenturkan keningnya ke setir mobil beberapa kali, mencengkram kuat setir itu dengan kedua tangan nya.

"Lo kenapa Haechan!!" gumam nya.

Kemudian terlintas kejadian dimana dirinya dan Renjun sedang making love di dalam mobil.

Kedua sudut bibir nya terangkat ketika teringat wajah cantik Renjun yang waktu itu berada di bawahnya dengan keringat yang bercucuran di pelipis.

Tapi Haechan langsung menggelengkan kepala nya untuk menghapus memori bodoh yang tiba-tiba terputar di dalam kepala nya.

Pria itu kemudian menyalakan mobilnya dan memilih pergi dari sana.

Tadinya Haechan ingin pulang ke rumah tapi tangan nya malah membelokkan mobil itu ke jalan menuju rumah Renjun.

Haechan sadar dirinya tidak tahu malu sebab berkunjung ke rumah remaja yang siang tadi ia tampar dengan kata-kata menyakitkan.



'Gue gak suka sama lo'




Haechan memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah lalu keluar dari mobil itu dan mengetuk pintu di depan nya.

Tidak lama pintu itu terbuka.

"Eh, kamu yang kemarin ya?"

Haechan mengangguk, "Iya. Em.. a-ada Renjun nya?"

"Um.. dia belum pulang tuh."

Kening Haechan berkerut. Kemana laki-laki itu? Ini sudah pukul tujuh malam.

"Beneran?"

"Iya. Aku juga nyariin dia, hp nya juga gak aktif."

"Oh gitu ya. Oke, makasih ya." Haechan membungkuk lalu kembali masuk ke dalam mobil.

Haechan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil itu.

Kini Haechan merasa takut, oke, ini jujur. Bagaimana jika ternyata Renjun memilih untuk mengakhiri hidupnya karena perkataan nya siang tadi?

Tidak mungkin. Renjun bukan orang yang seperti itu. Haechan tau Renjun bukanlah manusia yang mudah menyerah, buktinya dia masih mengejarnya meski Haechan sendiri sudah menolak beberapa kali.

Di kegelapan malam yang hanya di cahayai lampu jalan, Haechan samar-samar melihat seseorang yang terduduk di sebuah halte bus.

Tunggu... bukankah itu Renjun?

Haechan langsung menepikan mobilnya, membuka seatbelt dan keluar. Ia pun menghampiri seseorang yang berada di halte.

Memang benar itu Renjun, tapi tampaknya dia tertidur sambil duduk. Haechan tak habis pikir, bagaimana jika ada orang jahat yang menculiknya atau melakukan hal buruk padanya?

Haechan mendudukan dirinya disamping Renjun, melambai-lambaikan tangan nya di depan wajah Renjun.

Oke, remaja itu benar-benar tertidur.

Haechan menghela napas kemudian berdiri di depan Renjun.

"Oke, satu... dua... tiga!!" Haechan menarik kedua tangan Renjun dan remaja itu langsung terbangun dengan wajah bingung nya.

"H-Haechan?"

.
.
.







VOTE & KOMEN

Hasta La Vista | HyuckrenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang