Written by Wen Kexing uzumakihyuga86
♡♡♡
Prompt Day 7:
~Love Letter~
….............
Desa Empat musim, dalam pelukan malam yang dingin, Wen Kexing masih terjaga dalam keheningan. Duduk di pintu jendela sendirian menatap langit gelap, yang tak ada bintang mau pun bulan.
Ingatannya kembali melayang pada kejadian beberapa waktu lalu, Seperti hidup ini akan benar-benar berakhir saat mendengar kabar tentang dirinya. Dengan helaan nafas yang berat Wen Kexing memainkan seruling dengan irama yang lembut juga sendu, bagi siapa pun yang mendengarnya pasti akan langsung terpesona dan juga ikut merasakan kesedihannya.
Setelah beberapa dupa berlalu ia pun beranjak dari jendela dan mengambil selembar kertas, dan mulai memikirkan beberapa syair yang dapat mewakilkan kondisi hatinya saat ini.
Wen Kexing mulai menggoreskan kata demi kata dengan kuas dioles dengan tinta hitam, meninggalkan kalimat demi kalimat sebagai curahan hatinya untuk seorang pemuda yang telah mengisi dan menerangi hidupnya yang gelap ini.
Untukmu, cahaya hidupku.
Sejak pertama diriku bertemu dengan mu, mata ini selalu ingin menatap mu. Seakan mata ku ini terkunci hanya pada mu.
Kecantikan mu adalah sesuatu yg tak pernah aku temui sebelumnya, meski diri mu menutupinya tapi yakinlah bahwa diri ku tak akan salah menilai karena aku tidak pernah salah, dan Karna aku tahu kamulah belahan jiwaku.
Hatiku tidak akan tenang bila tak melihatmu, bila tidak berada disampingmu. Aku telah menetapkan diri ini untuk bersamamu disisa hidupku.
Ah-Xu.... Cahayaku.... tidak akan kubiarkan engkau meredup, cahaya mu Akan selalu ku jaga selama sisa hidupku, agar kau dapat selalu bersinar terang. Karena hatiku telah terpaut padamu, selamanya.
Terimalah segenap rasa ini, akan ku pastikan dirimu dapat terus tersenyum dalam dekapanku
Tak kan ada seorang pun yang dapat memisahkan kita selama aku masih bernafas.
Ah-Xu....cahaya hidupku.
Aku Mencintaimu, kemarin, hari ini dan selamanya.
~
Wen Kexing menatap langit dengan sendu kemudian melipat kertas yang ia tulis tadi, meletakannya di atas meja. Ia mengambil kendi arak yang masih ada isinya walau hanya tinggal sedikit, lalu meminumnya dengan sekali teguk.
"Ah-Xu.....bertahanlah. Kamu pasti bisa bertahan, kamu sudah berjanji untuk tetap hidup menemaniku," ucapnya dalam hati sambil memandang langit.
.
.
Beberapa hari kemudian, Zhou Zishu sudah mulai membaik tapi dirinya merasa sedikit aneh karena Si Tuan Yang Baik Wen selalu menempel dan mengganggunya sekarang tidak terlihat.
"Kemana dia pergi .." gumam Zishu
Menatap sekeliling halaman pondok tempat dirinya tinggal.
Setelah memastikan bahwa pemuda tersebut tidak pergi jauh, Zishu kembali kedalam pondok melangkahkan kakinya ke arah kamar yang di tempati Wen Kexing dan dirinya.
Ketika Zhou Zishu membuka pintu kamar tersebut pemandangan botol arak yang beserakan menjadi awal yang memenuhi pandangannya, Dan terlihat seseorang yang tertidur di meja dengan tangan terlipat sebagai bantalan dan juga sebuah kertas yang terlipat rapi di meja itu.
Zishu pun berniat membangunkan orang yang selalu membuatnya kesal, namun matanya teralihkan dengan sebuah kertas yang terlipat dimeja itu.
Zishu segera mengambil dan membacanya, sebuah senyum kecil nan lembut menghiasi wajah yang biasa terlihat dingin itu.
Wen Kexing pun perlahan bangun, dan terkejut melihat Zishu yang berdiri membelakanginya.
"Ah-Xu.....kamu sudah bangun? Ada apa hm? apa kamu merindukanku?..." ucapnya seperti biasa.
"Ah Xu.....ada apa? Ah Xu...? Hei Ah-Xu......."
Wen Kexing sedikit melambaikan tangannya ke depan wajah Zhou Zishu tetapi sepertinya ia tidak merespon sama sekali.
"Lao Wen, kenapa kamu tidak menunggu ku bangun? bisa-bisanya kamu meminum semua ini sendirian..." Ucap Zishu dengan tersenyum yang membuat Wen Kexing terdiam heran.
"Kenapa diam hn? Lao Wen, aku sudah lapar, apa kamu tak mau memasakkan sesuatu untuk ku Lao Wen." ucapnya dengan menepuk lembut bahu Wen Zexing yang terdiam sejak tadi.
"Ah...oh ...baiklah. Aku akan memasakkan mu sesuatu...." jawabnya dengan segera. Wen Kexing beranjak menuju dapur. Namun, sebelum Wen Kexing keluar dari kamarnya, Zhou Zishu memanggil namanya kembali.
"Lao Wen, Terima kasih." ucapnya dengan senyum yang sangat manis. Wen Kexing terdiam cukup lama sebelum membalas dengan senyum khasnya sebelum pergi ke dapur.
End
KAMU SEDANG MEMBACA
December Prompts
FanfictionDisclaimer ‼️ Karakter yang ada dalam cerita ini dimiliki oleh Priest. Kami hanya meminjam nama saja. • • Ini adalah kumpulan Thread yang dibuat oleh para Roleplayer Priezone berdasarkan prompts bulanan. Cerita ini mencakup tokoh-tokoh dari bebera...
