Rumah sederhana dengan halaman yang rindang penuh bunga yang cukup luas dengan cat warna putih tulang itu menambah kesan kehangatan yang seakan menguar dari dalam rumah.
Di sudut rumah bagian dapur itu pun sudah tampak dua sosok yang saling beradu punggung. Sosok wanita yang berparas cantik seakan masih baru memasuki usia tiga puluh tahunan. Namun siapa yang tahu usia aslinya, kadang paras mereka suka berbohong. Wanita itu tampak sedang berkutat dengan penggorengan nya yang menguarkan bau harum masakan dari dalamnya.
Sosok lain di dapur itu yakni seorang remaja laki-laki yang tengah menggunakan sarung tangan karet pink yang khas untuk bertarung dengan minyak dan noda-noda masakan. Paras tampannya menguar walaupun sepertinya wajahnya masih belum bertemu dengan air, itu terlihat dari raut mukanya yang masih tampak glowing khas bangun tidur.
"Jinie... Jika sudah selesai, mandi lah dulu. Sekalian bangunkan adik-adikmu." Suara halus dari sang ibu mengalun pelan di dapur itu.
"Ne, eomma."
Yah itu memang kebiasaan Seokjin yang sering dipanggil Jinie oleh orang-orang terdekatnya. Ia akan langsung menuju dapur ketika ia terbangun dari tidurnya. Katanya aroma dapur membuatnya segera terjaga di pagi hari daripada air dingin di kamar mandi.
Seokjin pun segera melepas sarung tangan pink nya dan segera menuju ke lantai dua untuk mandi dan membangunkan adik-adiknya.
Di ujung tangga lantai dua pas di sebelah kirinya terdapat pintu yang dari dalam sayup-sayup terdengar shower dan gumaman lagu dengan suara yang sumbang yang Seokjin yakini milik sang adik pertama nya.
Tok... tok...
Seokjin pun mengetuk dua kali pintu itu dan terdengar sahutan dari balik pintu.
"Ne... Namjoon disini "
"Palliwa... "
"Ye hyung... "
Ya itu suara adiknya. Karena kamar mandi masih terisi, Seokjin pun mengganti tujuannya ke arah kamar si bungsu yang berada tepat di sebelah kamar miliknya di ujung lorong lantai dua.
Pintu kayu yang divernis mengkilap tanpa hiasan apapun itu dibukanya perlahan. Tampak sosok visual yang sebenarnya memiliki ketampanan sebanding dengan sang kakak, namun entah mengapa tidur tidak elitnya ini langsung membuatnya tampak seperti makhluk asing terdampar.
Perhatikan saja sosok yang tengah terlentang di kasur single yang berada tepat di samping jendela. Terlentang dengan posisi salah satu kakinya terlilit selimut dan kaki lainnya offside keluar kasur, kaos yang dikenakannya sudah tersingkap menunjukkan abs yang samar-samar mulai terbentuk, rambutnya yang sudah mengalahkan rambut singa serta mulutnya sudah seperti goa yang bisa digunakan lalat untuk singgah sementara.
Seokjin pun memperhatikan kamar itu. Walaupun ukurannya mirip seperti kamarnya yang tidak kecil namun juga tidak bisa dikatakan luas, namun entah apa yang dilakukan adiknya hingga seakan di kamar itu tak ada tempat untuk menginjakkan kaki.
Lemari pakaian yang sedikit terbuka dan menampilkan isinya yang sebelas duabelas dengan penampilan kamar. Meja komputer dengan LCD yang masih menyalah menampilkan home awal sebuah game battle royal yang memang sering dimainkan oleh adiknya itu, Headset yang sudah tergantung lemas di sandaran tangan kursi gamers yang juga digantungi jaket. Buku-buku di meja belajar yang hanya ditumpuk asal hingga membentuk miniatur menara pisa, serta komik dan majalah yang bercampur dengan pakaian kotor yang seakan menghalangi Seokjin untuk melihat lantai ruangan itu.
"KIM TAEHYUNG...!!!"
***
Teriakan menggelegar Kim sulung itu pun didengar oleh seluruh penghuni rumah dan dibalas pula dengan teriakan si bungsu yang barusan namanya diteriakkan. Sang ibu di dapur hampir saja menjatuhkan panci sup yang akan ditaruhnya di meja makan. Ia pun hanya bisa mengelus dada bersabar dengan kelakuan putra sulung dan bungsunya.
Lain pula dari tempat sang ibu. Dikamar yang terletak di ujung tangga lantai dua, kamar milik si anak tengah keluarga itu yang barusan menyelesaikan mandi paginya dengan tenang dan bahagia sekarang dirusak dengan suara sahut-sahutan kedua saudaranya. Namjoon hanya bisa berkata pada dirinya sendiri bahwa ia adalah manusia paling normal di rumah ini.
Namjoon pun mulai mengganti bajunya dengan seragam sekolahnya, kemudian mendudukkan dirinya di meja belajarnya dan mulai membuka buku pelajarannya untuk hari ini. Yah tipe-tipe anak pintar di sekolah.
Perhatikan saja kamarnya, bahkan mencerminkan kepribadian si tengah ini. Kamar yang memang seukuran dengan milik kedua saudara nya itu di isi dengan meja belajar luas miliknya yang berada tepat di depan jendela di samping kasur single miliknya. Di salah satu sisi tembok terdapat lemari pakaian dan sisi yang berhadapan terdapat rak buku yang isinya sudah menutupi seluruh tembok yang entah berwarna apa. Ya.. Ini adalah kamar orang yang menganggap dirinya paling normal di keluarganya.
***
Sekarang kita kembali lagi ke Kim sulung yang barusan selesai mandi dan tengah berganti pakaian itu. Ia sedikit terburu-buru karena baru ingat ia ada jadwal kuliah pagi ini. Si sulung ini adalah mahasiswa yang baru saja menginjak semester tiga di jurusan yang cukup susah untuk dimasuki oleh orang-orang dengan kapasitas otak yang agak tidak dapat diputar. Iya diterima di universitas yang diperebutkan kursinya oleh orang-orang bahkan ada yang menggunakan cara kotor. Seokjin seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran di Seoul National University dengan beasiswa penuh. Yah walaupun orang-orang sering memandang Seokjin sebagai orang yang aneh dan narsisnya tingkat dewa, tapi memang otaknya bisa di sombongkan.
Kim Seokjin adalah orang yang aneh? Iya, lihat saja kamarnya. Dinding yang dicat pink namun penuh dengan tempelan poster idol cewek yang ditempeli lagi dengan poster anatomi tubuh. Buku-buku matkulnya yang tak bisa dikatakan sedikit di rak buku yang berdampingan dengan album idol. Serta boneka-boneka yang tertata apik di kasur yang berseprai pink dan jangan lupakan karakter figur dari anime-anime yang berada di rak buku paling atas miliknya. Ok. Fix Kim Seokjin adalah k-popers sekaligus wibu dan kutu buku yang suka teriak-teriak.
Sepertinya Namjoon benar tentang dirinya yang merupakan orang paling normal di keluarganya.
***
Meja makan yang cukup untuk empat orang anggota keluarga itu kini telah terisi penuh dengan menu sarapan khas Korea yang menggugah selera. Empat orang yang duduk mengelilingi meja kotak itu makan dengan cukup tenang diselingi dengan percekcokan antara si sulung dan bungsu.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Mi Casa [BTS]
FanfictionCerita ringan tentang keluarga. Bagaiman jika Min bersaudara dengan semua tingkah absurdnya dijadikan satu dengan para Kim bersaudara yang malah lebih abstrak? Berisi keegoisan diri, trauma dan masa lalu yang menghatui. Apakah mereka berhasil meng...
![Mi Casa [BTS]](https://img.wattpad.com/cover/295560488-64-k361211.jpg)