LUNA
Beberapa hari terakhir, pikiranku berantakan. Untungnya, hal itu tidak berpengaruh pada kinerjaku selama di kantor. Semua pekerjaan kuselesaikan tanpa kendala yang berarti. Meeting dengan klien pun berjalan lancar. Namun, selain itu, pola hidupku tidak beraturan. Selain harus lembur karena pekerjaan, mataku selalu menyalang ketika tubuhku sudah berbaring di atas tempat tidur. Pikiranku terus-terusan mengulang perkataan Aksa ketika terakhir kali dia datang ke apartemenku serta ciumannya di pipiku—yang dia lakukan dengan sangat ringan dan singkat tapi berhasil membuatku kehilangan orientasi waktu.
"Ngopi dulu, Lun," ujar Dewa sembari menaruh segelas kopi yang dia beli di lantai bawah. Dia menarik kursinya mendekati kubikelku lalu mengambil biskuit yang kusimpan di toples. "Udah tiga bulan kerja di sini kelihatan ya, perbedaannya. Muka lo udah nggak glowing lagi karena kebanyakan lembur."
Aku meliriknya sinis. "Ditambah punya teman kerja kayak lo. Tambah sakit kepala."
Dewa terbahak. "Justru kalau nggak ada gue, kehidupan kantor lo semakin suram, Lun. Gue kan pelipur lara dan pengusir lelah kalau kalian udah muak mantengin laptop." Di sela-sela kegiatannya mengunyah cemilan, dia kembali bertanya. "Tapi, serius, lo kenapa? Lagi ada masalah? Muka lo suntuk banget akhir-akhir ini padahal kerjaan juga lancar-lancar aja."
Hanifa ikut menarik kursinya mendekat ke kubikelku. "Ada apaan, nih?"
"Ini, nih, anak baru kesayangan kita," ledek Dewa iseng.
Hanifa menatapku dan Dewa bergantian. "Luna kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa," sahutku singkat seraya meneguk kopi. "Dewa lagi butuh asupan gosip makanya ngomongnya udah melantur dan aneh. Mending lo lanjut kerja deh, Wa. Lupa kalau barusan Mas Jero bilang kerjaan lo harus selesai hari ini?"
Dewa mengibaskan tangan. "Soal kerjaan mah gampang. Yang susah itu mengorek kehidupan lo. Kenapa sih, Lun? Berdasarkan analisis gue, kalau muka cewek udah kayak gini pasti masalahnya berhubungan sama cowok. Lagi berantem sama pacar? Atau putus? Atau gebetan lo kegaet cewek lain?"
"Berantem kali," timpal Hanifa, tidak mau kalah.
"Oh!" Dewa membulatkan matanya. "Luna udah punya pacar?"
"Udah." Hanifa mengangguk sambil memasukkan sepotong biskuit ke mulutnya. "Gue suka lihat pacarnya jemput beberapa kali. Tapi akhir-akhir ini kok udah nggak pernah jemput lagi, Lun? Lo lebih sering bawa mobil sendiri atau naik KRL."
"Nah, ini nih! Gue mencium ada bau-bau peperangan."
Aku melemparkan gumpalan tisu pada Dewa sementara laki-laki itu malah terbahak. Sudah terlalu malas meladeninya, aku menoleh kepada Hanifa. Aku tidak tahu apakah yang dia maksud Damar atau Aksa. Tapi, mengingat akhir-akhir ini yang kerap menjemputku adalah Aksa, aku mengoreksi perkataannya. "Dia bukan pacar. Cuma teman."
Meski kenyataannya aku tidak bisa lagi melihat Aksa hanya sebagai temanku. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Selama beberapa hari terakhir, pikiranku selalu terpusat pada laki-laki itu meski berulang kali aku menyugestikan diri bahwa tidak akan ada yang berubah di antara kami.
Sementara Hanifa dan Dewa menggeser topik obrolan ke gosip yang beredar di kantor, aku memilih untuk membalas pesan Aksa. Sebentar lagi break makan siang. Aku sudah tidak heran lagi ketika melihat pesan darinya di jam-jam segini.
Aksa: Jangan lupa makan siang, Lun.
Luna: Nanti mau makan di kantin sama orang kantor. Btw, seharusnya di posisi kayak gini, you should give me a space to think for a while.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love: The Butterfly Effect [COMPLETED]
RomanceLuna dan Aksa menorehkan kisah rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun. Mereka dipertemukan pertama kali di sebuah liburan singkat selama satu minggu ke Malang yang dirancang oleh Lisa, kembarannya Luna. Selama dua puluh empat jam per hari dalam...
![Love: The Butterfly Effect [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/245986501-64-k693718.jpg)