AKSA
Luna menghindariku selama sisa liburan walaupun dia tidak melakukannya secara terang-terangan. Mungkin dia tidak ingin yang lainnya tahu kalau ada sesuatu terjadi kepada kami. Yeah, something did happen. Luna marah setelah dia tahu aku memiliki pacar—yang sebenarnya tidak kuanggap lagi sebagai pacar.
Awalnya, kupikir kemarahan dia itu hanya berlaku sementara, tapi dugaanku salah.
Sepanjang sisa liburan, ketika aku menghampirinya, dia langsung kabur dan menempel pada Lisa atau Dinda. Atau yang lainnya untuk menghindariku. Luna memang masih menanggapi segala macam celetukanku saat kami berkumpul bersama untuk makan, foto-foto, atau killing time with bunch of games di malam hari, tapi sinar matanya redup dan apa yang keluar dari mulutnya tidak lebih dari sekadar basa-basi.
She is a great actress. Akan lebih mudah untuk memohon maaf kepadanya apabila dia tidak bersikap seolah kami baik-baik saja dan menutupi kemarahannya dari semua orang.
Hari terakhir kami di Malang, di Pantai Goa Cina, seharusnya aku merasa senang karena bisa memenuhi keinginan Luna untuk berlibur di pantai. Alih-alih tersenyum layaknya orang bodoh dan berbagi obrolan ringan dengan Luna—seperti apa yang kita lakukan berapa hari belakangan—aku hanya bisa terdiam memandangnya dari jauh.
Yang membuatku semakin tidak mampu berkata-kata adalah ketika Luna tidak menolak saat Kevin lagi-lagi memilih untuk duduk sendiri di kereta perjalanan pulang. Di depan Kevin, dia menanggapi itu dengan santai tapi setelah duduk, dia langsung menyumpal telinganya dengan earphone. Kedua matanya terpejam dan aku tahu dia tidak tidur. For fourteen hours, she just closes her eyes while I'm sitting next to her hoping she will give me another chance to explain this mess.
Silent treatment-nya itu membawaku ke satu kesimpulan. Sesuatu yang berusaha kuelak mati-matian ketika Kevin memberikan peringatan saat kami berada di alun-alun kota Malang.
"Lun, sebentar," cegahku ketika kami baru saja menginjakkan kaki di stasiun Pasar Senen. "At least, give me a chance to explain."
Luna menatapku dengan dingin. Setelah pertengkaran kami di Bukit Teletubbies, tidak ada lagi binaran di matanya ketika pandangan kami bertemu.
"Bukannya lo bilang itu nggak penting?" tanya Luna sengit. "Percuma juga, kan? Cuma buang-buang waktu."
Aku menarik napas dalam. Meski ini bukan pertama kalinya kami beradu mulut, perdebatan kami ini berbeda dari yang biasanya terjadi—di mana motifnya kebanyakan untuk mengusili atau menggoda satu sama lain. Sikap acuhnya Luna membuatku merasa asing dengan sosoknya.
"Gue minta maaf," gumamku seraya menarik tangannya untuk melipir agar tidak berdiri di tengah jalan. "I'm sorry for hurting you. You are a good friend dan gue nggak mau kalau kita berantem karena salah paham."
Saat Luna menyentak tangannya untuk melepas genggaman tanganku di pergelangan tangannya, aku hanya mampu tersenyum masam. Saat di Gunung Bromo, dia bahkan tidak keberatan ketika aku menggenggam tangannya yang kedinginan sepanjang malam.
Luna mendesis. "Lo tahu dengan jelas kalau ini bukan karena salah paham, Sa. Gue nggak akan salah paham kalau lo nggak bersikap berlebihan."
Tebakanku ternyata benar. Aku hanya bisa meringis begitu mengetahui kenyataan kalau Luna mungkin sudah tertarik kepadaku di detik pertama kami bertemu. Ketertarikan itu mungkin sudah bermetamorfosa menjadi perasaan yang lebih dalam mengingat selama liburan aku selalu mencurahkan perhatian kepadanya.
"Gue paham." Aku mengangguk, menyadari tidak ada gunanya untuk mengelak tuduhannya karena apa yang dia katakan benar. "Makanya, gue mau minta maaf, Lun. Maaf kalau sikap gue bikin lo jadi salah paham."
KAMU SEDANG MEMBACA
Love: The Butterfly Effect [COMPLETED]
RomansaLuna dan Aksa menorehkan kisah rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun. Mereka dipertemukan pertama kali di sebuah liburan singkat selama satu minggu ke Malang yang dirancang oleh Lisa, kembarannya Luna. Selama dua puluh empat jam per hari dalam...
![Love: The Butterfly Effect [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/245986501-64-k693718.jpg)