Berhasil

3 0 0
                                        

Pagi kembali datang, senyum riang menghiasi wajah cowok tersebut. Pasalnya, ada hal yang sedang benar-benar dia tunggu.

Rangkaian kata seakan telah siap untuk keluar dari mulutnya, hampir semalaman penuh memang cowok itu memikirkan kembali perihal apa yang akan dia katakan.

Bahkan beberapa kata ada yang sengaja dia ganti dengan baitan kata lebih halus dan kian romantis.

Selimut putih dengan seprai berwarna putih tidak lagi memeluk tubuhnya, benar-benar tidak seperti hari yang biasanya berangkat sekolah terlambat.

Nada indah dari bibirnya mulai saling bersahutan dengan kicauan burung dibalik jendela kamar, Sang mentari ikut riang menembus celah seakan mendukungnya.

Lima belas menit akhirnya berlalu, rintikan air shower tidak lagi terdengar didalam ruang berukuran sedikit luas itu. Dinding putih dengan satu bak mandi terlihat rapi kembali, bahkan air sabun yang biasa dia biarkan menggenang tidak lagi terlihat didalam kamar mandi itu.

Semprotan minyak baju berulang kali membasahi baju seragam yang dia kenakan, torehan sisir menyapu rapi rambut klimis dengan aroma minyak favorit miliknya.

Tas ransel ikut serta menemani punggung cowok itu. Perlahan dia bergegas untuk menuruni tangga yang membawanya pada pintu utama.

"Tumben, Anak Mama berangkat pagi? sarapan dulu sini!" ucap wanita paruh baya yang sedang disibukkan dengan roti bakar beroleskan coklat.

"Gak, Ma .. langsung berangkat dulu, soalnya udah ditungguin" ucapnya seraya melambaikan tangannya.

Deru mesin motor mulai terdengar dari luar rumah, mengingat dia telah menyalakan dan membawanya keluar dari garasi rumahnya usai memakai sepatu yang sengaja ia simpan di rak dekat kendaraannya terparkir.

Lima belas menit berlalu, dengan kecepatan penuh dan senyum sepanjang perjalanan. Rumah Wika mulai terlihat begitu menawan, membuat degub jantungnya berdetak kencang.

"Untung aja, sempat dikasih tahu alamatnya," ucap Yanuar.

Dua penjaga berbadan tegap telah berdiri didepan gerbang menyambut kedatangannya, dua pria itu tampak begitu mengerikan mengingat tubuh Yanuar lebih kecil daripadanya.

Namun dengan sedikit ragu bertabur keberaniannya mulai keluar demi pujaan hatinya.

"Kamu siapa?" tanya pria dengan nama Yanto tertera diatas sakunya.

"Te-temennya Wika, Wikanya ada?!" jawabnya terbata-bata.

"Udah ada janji?" tanyanya kembali.

Yang hanya dijawab dengan anggukan cowok itu.

Tidak lama kemudian dari satu satpam berbadan tegap itu masuk, langkah lembut perempuan bersepatu itu mulai mendekati gerbang.

Semerbak wangi minyak khasnya mulai tercium, meski dengan jarak ribuan jengkal. Rambut panjangnya yang terurai sempurna seakan menari mengikuti irama angin menyambut lembut kedatangan Yanuar dibalik gerbang.

"Udah siap?" ucap Yanuar tersenyum, telinganya melebar seakan bersiap mendengar jawaban cewek itu usai memberikan jaket miliknya untuk menutup rok pendek Wika.

"Ayo!" jawab Wika yang telah duduk diatas motor Yanuar beberapa menit lalu.

"Pegangan, dong!" ucap Yanuar terkekeh, yang akhirnya kehangatan tangan Wika mulai melingkar diperutnya.

Suara mesin mulai terdengar, Yanuar kembali menyalakan motornya. Lalu melajukan dengan kecepatan sedang untuk menuju ke tempat dimana keduanya menyerap ilmu.

Udara pagi itu begitu menentramkan, senyum Yanuar kian merekah. Pelukan hangat masih saja dia rasakan, begitu nyaman baginya seakan tidak ingin sedikitpun terlepas.

G O S T I N GTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang