⌗ 𝐁𝐨𝐨𝐤 𝐎𝐧𝐞
【𝔓𝔞𝔯𝔱 𝔬𝔣 Ë𝔩𝔦𝔵𝔞𝔱𝔢𝔯𝔱ä 𝔘𝔫𝔦𝔳𝔢𝔯𝔰𝔢】
(Sedang proses revisi)
┌───────── · · · · ♡
Mulanya, Aëron dan Aïres adalah si kembar yang kelahirannya sudah tertulis di ramalan Ellyore sebagai pemilik tanda gurin setelah se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
✩₊˚.⋆☾ Happy Reading ☽⋆⁺₊✧
Pagi-pagi sekali, kala cakrawala masih menyisakan kepekatan malam, di pelataran istana Xuineverald, denting zirah dan langkah sepatu bot berat memecah kesunyian. Tiga divisi ksatria yang baru saja dilantik berdiri dalam formasi sempurna, tampak seperti barisan patung perak di bawah temaram obor.
Tujuan mereka berkumpul pagi-pagi buta mendahului sang surya adalah untuk memenuhi tugas pertama sebagai Ksatria Kerajaan. Mereka mendapatkan tugas penting dari Ratu Xuineverald untuk pergi ke wilayah perbatasan yang terletak di Anthura guna memeriksa pelindung sihir dan melakukan patroli selama beberapa hari disana.
Sudah menjadi rahasia umum di kalangan petinggi kerajaan bahwa beberapa hari belakangan ini, kondisi pelindung sihir di perbatasan tidak baik-baik saja. Selalu ada saja hal-hal tidak masuk akal yang tanpa disadari merusak pelindung sihir. Meskipun kecil, karena sering terjadi, hal ini membuat kekhawatiran besar. Sebab itu, ksatria yang bertugas untuk menjaga perbatasan mengirim keluhan pada Duke Anthura. Setelah mengetahui permasalahan yang terjadi, dengan segera Duke Anthura melaporkannya langsung ke pihak kerajaan.
Aïres, Alan, dan Eugene baru saja keluar dari markas komandan ksatria kerajaan dengan membawa masing-masing selembar kertas. Eugene melirik Aïres yang membaca sekilas kertas itu dengan ekspresi yang serius. Alan yang berada di sebelah kirinya pun sama, tak lama setelahnya pria itu melenggangkan kakinya pergi terlebih dahulu meninggalkan mereka berdua tanpa sepatah katapun.
"Aïres, bagaimana menurut anda?"
Suara Eugene memecah lamunan Aïres. Perempuan itu tersentak, jemarinya meremas pinggiran kertas laporan tersebut.
Aïres berdehem sejenak sebelum buka suara, "Dilihat dari judulnya saja, sepertinya ini masalah yang sangat serius."
"Bukan tanpa alasan Ratu mengirim tiga divisi sekaligus ke perbatasan. Jika tidak seserius itu, mengirim penyihir dari menara sihir saja sudah cukup, bukan?" lanjutnya.
"Anda benar," sahut Eugene. "Saya belum membaca semuanya, akan tetapi beberapa masalah yang tertulis di awal saja sudah membuat saya cukup terkejut."
"Jika masalah ini semakin serius, apakah akan terjadi perang?"
Aïres diam. Memikirkan kata 'perang' saja sebenarnya membuat perasaannya mendadak tak karuan. Melihat apa yang terjadi, siap tidak siap, mau tidak mau, ia harus menerima kenyataan pahit di depan matanya.
"Kita harus bersiap dengan kemungkinan terburuk itu, Eugene," balas Aïres. "Aku akan kembali dan berdiskusi sejenak dengan anggotaku."
Setelah anggukan singkat, Aïres berbalik dan berderap cepat, menghilang di balik lorong istana. Eugene berdiri sendirian, menatap halaman yang mulai terang oleh fajar yang pucat. Ia menghela napas panjang, mencoba membuang beban yang seolah menghimpit paru-parunya. "Ya, aku juga harus kembali ke divisiku."