⌗ 𝐁𝐨𝐨𝐤 𝐎𝐧𝐞
【𝔓𝔞𝔯𝔱 𝔬𝔣 Ë𝔩𝔦𝔵𝔞𝔱𝔢𝔯𝔱ä 𝔘𝔫𝔦𝔳𝔢𝔯𝔰𝔢】
┌───────── · · · · ♡
Mulanya, Aëron Elodie dan Aïres Elodie adalah si kembar yang kelahirannya sudah tertulis di ramalan Ellyore sebagai pemilik tanda gurin setelah seki...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**•̩̩͙✩•̩̩͙*˚ [ Happy Reading ] ˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚*
Pagi-pagi sekali, kala langit masih gelap, sekelompok Elves berbaju zirah lengkap sudah memenuhi halaman depan istana. Mereka adalah para ksatria kerajaan dari tiga divisi yang sudah dilantik beberapa hari lalu.
Tujuan mereka berkumpul pagi-pagi buta mendahului sang surya adalah untuk memenuhi tugas pertama sebagai ksatria kerajaan. Mereka mendapatkan tugas penting dari Ratu Xuineverald untuk pergi ke wilayah perbatasan yang terletak di Anthura guna memeriksa pelindung sihir dan melakukan patroli selama 1 bulan disana.
Sudah menjadi rahasia umum di kalangan petinggi kerajaan bahwa beberapa hari belakangan ini, kondisi pelindung sihir di perbatasan tidak baik-baik saja. Selalu ada saja hal-hal tidak masuk akal yang tanpa disadari merusak pelindung sihir. Meskipun kecil, karena sering terjadi, hal ini membuat kekhawatiran besar. Sebab itu, ksatria yang bertugas untuk menjaga perbatasan mengirim keluhan pada Duke Anthura. Setelah mengetahui permasalahan yang terjadi, dengan segera Duke Anthura meminta pihak kerajaan untuk memeriksa secara langsung. Karena pelindung sihir dibuat oleh Ratu sendiri, dibantu dengan penyihir dari menara sihir dan divisi sihir, maka sihir pemulihan dari penyihir lain tidak akan berpengaruh banyak.
Aïres, Alan, dan Eugene baru saja keluar dari markas komandan ksatria kerajaan dengan membawa masing-masing selembar kertas. Eugene melirik Aïres yang membaca sekilas kertas itu dengan ekspresi yang serius. Alan yang berada di sebelah kirinya pun sama, tak lama setelahnya pria itu melenggangkan kakinya pergi terlebih dahulu meninggalkan mereka berdua tanpa sepatah katapun.
"Aïres, bagaimana menurut anda?" pertanyaan dari ketua divisi sihir itu cukup membuatnya sedikit tersentak, membuyarkan segala kefokusannya.
Aïres berdehem sejenak sebelum buka suara, "Dilihat dari judulnya saja, sepertinya ini masalah yang sangat serius."
"Bukan tanpa alasan Ratu mengirim 3 divisi sekaligus ke perbatasan. Jika tidak seserius itu, mengirim penyihir dari menara sihir saja sudah cukup, bukan?"
"Anda benar," sahut Eugene. "Saya belum membaca semuanya, akan tetapi beberapa masalah yang tertulis di awal saja sudah membuat saya cukup terkejut."
"Jika masalah ini semakin menjadi, apakah akan terjadi perang?"
Aïres diam. Memikirkan kata 'perang' saja sebenarnya membuat perasaannya mendadak tak karuan. Melihat apa yang terjadi, siap tidak siap, mau tidak mau, ia harus menerima kenyataan pahit didepan matanya.
"Kita harus bersiap dengan kemungkinan terburuk itu, Eugene," balas Aïres. "Aku akan kembali dan berdiskusi sejenak dengan anggotaku."
Setelah berpamitan, Aïres berderap cepat menjauh, dan akhirnya tak lagi terlihat dalam jarak pandang Eugene. Pria yang baru saja ditinggal kedua rekannya itu menatap sekitarnya yang kosong. Menghela nafas panjang seakan membuang sedikit beban pikirannya. "Ya, aku harus kembali ke divisi ku."