10. CASE ONE : The Candles that goes out in the darkness

160 92 124
                                        

✩₊˚

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

✩₊˚.⋆☾ Happy Reading ☽⋆⁺₊✧

Langkah Esmeralda berdentang cepat, memantul di sepanjang dinding lorong istana yang sunyi. Jemarinya yang dingin meremas selembar kain gaunnya, mencoba meredam gejolak yang kian menggemuruh di dalam dada. Di belakangnya, Zion melangkah gesit, menyelaraskan ritme tanpa sepatah kata pun, tahu benar arti dari napas sang Ratu yang memburu.

Begitu sepasang pintu mahoni berukir itu didorong terbuka, atmosfer berat langsung menyergap. Empat bangsawan yang telah berkumpul sejak tengah malam serentak berdiri tegak. Mereka membungkuk kaku, memberikan penghormatan tertinggi dalam keheningan yang mencekam.

Zion bergerak cepat mendahului Esmeralda, menarik kursi untuk Sang Ratu duduk.

"Duduk semuanya," titah Esmeralda. Mereka pun kembali duduk. Esmeralda menatap empat bangsawan kepercayaannya yang tergabung dalam rapat darurat ini.

"Maaf aku harus mengumpulkan kalian secara mendadak," sesal Esmeralda.

"Tidak perlu meminta maaf, Yang Mulia. Kami siap melayani kapanpun dibutuhkan," sahut Duke Skylark yang duduk di sisi kiri.

Esmeralda menghela nafas berat, dengan air wajah yang cukup gelisah. Keheningan yang tercipta di antara mereka seolah menjadi jawaban bahwa ada sesuatu yang sangat tidak beres sedang terjadi.

"Kalian semua pasti sudah mengetahui situasi di perbatasan Anthura, bukan?"

Keempat bangsawan itu mengangguk serempak. Kabar mengenai huru-hara di perbatasan bukan lagi rahasia di kalangan petinggi kerajaan.

"Dua jam yang lalu, Putri Aïres mengirim pesan melalui batu Marmalade mengenai apa yang baru saja mereka alami saat melintasi hutan Nearon." Esmeralda melepas kalung yang melingkar di lehernya dan memberikannya kepada Zion. Dengan sigap, sang sekretaris meletakkan liontin itu di tengah meja.

Esmeralda merapalkan mantra singkat. Seketika, batu Marmalade itu berpendar terang, memproyeksikan bayangan visual Aïres di udara. Pesan pun dimulai.

"Yang Mulia Ratu, saya mengirim pesan ini sebagai ketua divisi panah. Dengan segala kemurahan hati anda, saya memohon maaf karena mengirimkan pesan mendadak di sela-sela waktu istirahat anda. Ada hal mendesak yang harus saya sampaikan pada anda mengenai insiden yang baru saja kami alami saat membangun tenda untuk istirahat di tengah hutan Nearon," ujar Aïres sebagai pembuka dalam pesannya.

"Makhluk kegelapan berhasil sampai ke tempat kami berada. Seluruh pasukan berhasil dibuat tak sadarkan diri, kecuali saya. Saya berhadapan langsung dengan makhluk kegelapan tersebut." Aïres nampak berat untuk mengatakan kalimat selanjutnya. Ia mencoba mengatur nafas dan akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkannya. "Makhluk kegelapan yang berhadapan dengan saya adalah Aëron."

Bohong jika empat bangsawan yang menyimak pesan Aïres ini tidak terkejut. Sangat terlihat jelas di wajah mereka keterkejutan atas ucapan Aïres barusan.

𝐀𝐞̈𝐫𝐨𝐧 & 𝐀𝐢̈𝐫𝐞𝐬Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang