Darren meregangkan tubuhnya yang terasa kaku karna seharian hanya duduk di depan laptopnya, dengan sesekali memeriksa berkas penting yang ia minta sekretarisnya untuk dikirim ke rumah, Darren berakhir 'bermeditasi' di ruang kerja rumah besarnya karna enggan pergi ke kantor. Masih terlalu malas keluar rumah karna moodnya yang rusak tadi pagi.
Darren melirik arloji pada pergelangan tangan kirinya, sudah pukul 8 malam. Ia merutuki dirinya sendiri karna sudah berkelakuan seperti anak kecil yang merajuk pada orangtuanya. Dengan malas, ia menutup laptop silver yang masih menyala dengan debuman pelan, lalu mengusak wajahnya gusar.
Darren bangkit dari duduknya, beralih keluar dari ruang kerjanya, ia menemukan rumah megahnya yang terlampau sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Dengan langkah besar ia mencari asisten rumah tangga di rumah bagian belakang.
"ibu belum pulang, mbak?" Katanya bertanya pada salah satu asisten rumah tangga yang sedang berjaga di dapur.
"Belum pak, bapak mau disiapkan makan malam sekarang?"
Darren berdecak kesal, apa-apaan dari jam 10 pagi keluar rumah hingga jam segini ia tidak disambut oleh istrinya?!
"Ga usah deh, saya makan di luar aja, mungkin nanti pulang ke apartment. Kalau ibu pulang beritahu ya." Katanya sambil melenggang pergi menaiki tangga.
"Baik pak."
-----===-----
Dengan mengendarai Audi Q5 hitamnya, Darren membawa mobil mewahnya ke area tempat hiburan malam di daerah Jakarta Pusat. Sejujurnya, Darren bukanlah lelaki yang doyan mampir ke tempat-tempat hiburan malam seperti itu, tapi sepertinya, sesekali mendistraksi pikirannya yang sedang kalut dengan alkohol dan suara musik yang memekakkan telinga bukanlah suatu ide buruk.
Sebelum membelokkan stirnya ke arah Fahrenheit Club, Darren menerima panggilan telpon dari salah satu teman kuliahnya yang sampai sekarang masih berkawan baik dengannya --Rigen. Dengan iming-iming ini adalah club exclusive dan bukanlah club 'biasa' seperti pada umumnya, Darren berhasil dibujuk untuk mencari kesenangan sesaat.
Awalnya dengan mutlak Darren menolak mentah-mentah ajakan Rigen, bagaimana tidak? Bisa rusak image nya yang ia bangun susah payah sebagai CEO teladan a family man bila ketahuan publik kalau ia mampir ke tempat seperti itu.
Setelah memberikan kunci mobilnya pada valet, Darren membawa tubuh kekarnya memasuki club yang di maksud kawannya tadi. Dengan berbekal ripped jeans biru dan kemeja hitam yang digulung sampai siku hingga memperlihatkan sejumlah tatto pada lengan kanannya, Darren mencari Rigen di antara banyaknya tubuh yang sedang menikmati alunan pekaknya musik Disc Jockey.
"Heyyy Jeon." Kata Rigen spontan menyapanya setelah bertemu Darren yang menghampirinya di sisi lantai 2 club bergengsi itu. Yang di tegur hanya mengangguk singkat, lalu setelahnya mereka bertos ria ala lelaki. Lantas ia mengambil duduk di sebelah Rigen yang tengah menikmati waktunya dengan gadis --entah siapa di atas pangkuan.
M0enuangkan whiskey pada sloki yang tergeletak di meja depannya, dengan sekali teguk Darren menghabiskan minuman yang memiliki kadar ethanol 50% itu. Ia mendesis kala minuman pahit itu menyapa kerongkongannya. Sekali lagi, ia menyesap minuman yang sama, setelah nya ia bangkit dari duduknya, beralih turun ke lantai dasar untuk mengampiri bartender setelah berpamitan dengan Rigen.
Tanpa membuang waktu, Darren memesan draft beer pada bartender. Alih-alih memesan minuman berkadar alkohol tinggi, ia lebih memilih draft beer yang kadar alkoholnya bahkan tidak mencapai 5% itu. Sungguh ironis, bahkan di saat seperti ini pun ia masih memikirkan bagaimana ia bisa menyetir pulang bila terlalu tipsy.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE CEOS
Romance(M) Darren Jeon, seorang CEO muda keturunan Korea. Sukses dengan paras rupawan dan kepribadian tak bercela. Namun tidak seperti jenjang karier nya yang sempurna, kehidupan pernikahan Darren tak berjalan manis sebab buruknya lakon dari istri yang ia...
