06; Farhan's Mission

673 138 17
                                        

Sorry i take a lot of time this time for an update. Bukan karna ga mau update, bukan. Cuma kadang aku ngerasa cerita aku kurang worth it to read, ga cukup entertaining readers di sini, makanya jadwal updatenya masih ga menentu.

Untuk beberapa readers yang mungkin aja masih nunggu The Ceos, i can't thank you enough for you guys.

Enjoy this chapter ♡

Bertelanjang dada dengan bawahan sweatpants abu favoritenya. Rambutnya ia biarkan berantakan tidak disisir dengan air masih sesekali menetes dari surai gelapnya. Darren melangkah keluar dari walk in closetnya, ia baru menyelesaikan rutinitas malamnya sebelum tidur.

Netranya menyusuri kamar tidur besarnya. Sepi. Tidak ada Jeannette karna sang istri masih berada di Los Angeles untuk opening butik terbarunya. Tidak pula ada kehadiran bayi mungil serta tangisan kelaparannya. Ia menghela nafas berat. Jengah dengan keadaan yang selalu ia keluhkan hampir setiap hari. Nyatanya seharian terdistraksi dengan pekerjaan menggunung pun tetap membuatnya teringat akan fakta menyeramkan ini.

Darren menyalakan televisi, berniat mengusir sunyi yang memeluknya erat. Memilih asal serial netflix untuk sekedar pengusir sepi.

Ponselnya yang sedang ia charge tidak jauh dari tempat tidurnya bergetar panjang, menandakan ada telpon masuk. Darren bangkit dari tempatnya, berjalan cepat ke arah ponsel hitam nya yang masih tersambung kabel charger.

Julian is calling....

Darren mengernyit bingung, tidak biasanya kawan lamanya yang berada di Beverly Hills itu menghubunginya. Ia mengusap opsi hijau pada ponselnya cepat.

"Ssup Jeon. How cocky our CEO is." Ejek Julian tanpa basa basi setelah panggilan tersambung.

"Sombong apasih, perasaan kamy baru hubungin saya ini deh." Darren melepas sambungan kabel pada ponselya, lalu menghempas badannya berbaring pada sofa empuk sebrang tivi 55 inchnya.

"Gue chat dari kemarin malam ga di bales, ini udah siang lagi tau gak."

"Ya sorry. I didn't check my phone. Ini aja baru di charge hp nya. Napasih tumben kamu hubungin saya?"

"Go check my chat first, i'll wait you."

"Kenapasih? Penting banget ya?" Tanyanya penasaran

"Liat aja dulu lah."

"Okay wait." Lantas Darren beralih ke aplikasi messenger miliknya, mencari chat dari Julian yang sialnya sedikit tenggelam dari banyaknya chat masuk untuknya hari ini.

"Lama banget." Gerutu Julian dari balik panggilan telepon.

Darren tidak menjawab, matanya sedang menelisik pesan masuk dari Julian sebanyak 3 kali pagi tadi. Otaknya mencerna informasi yang diberikan Julian tanpa permisi. Membuat otak encernya sesaat berhenti bekerja.

"Have you seen it?"

Darren berdehem singkat, mencoba membebaskan benda asing yang tersangkut di kerongkongannya yang tercekat. "Where is it?"

"Manhattan."

Si pria keturunan Korea mengernyit bingung,"Kamu ngapain di Manhattan?"

"I moved here, 2 years ago."

"Jadi gitu sama temen lama? Masa saya ga dikabarin kalo kamu pindah?"

Julian terkekeh dari seberang panggilan telepon, "My bad. Sorry."

Berusaha mencairkan suasana yang seketika canggung setelah ada jeda beberapa saat di antara Nya dan Darren.

"So.... how is it? Gimana menurut lo? Jelas gaksih foto dari gue?"

THE CEOSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang