Adreea bergumam ditidurnya, dengan mata yang masih belum sepenuhnya terbuka ia melirik jam waker di atas nakas lalu beralih mengambil ponselnya yang berdering kencang tiada henti.
Tangannya mengusap opsi hijau dari ponselnya, "hmmmmm." gumamnya
"Kamu kemana aja sih, udah mba telfon ratusan kali." Pekikan lantang dari seberang telpon menyambut rungunya, membuat kesadaran penuh Adreea terkumpul.
"Kamu ada photoshoot jam 10 ya Re, jangan lupa."
Adreea bergumam singkat bahkan menambahkan anggukan kecil seperti lawan bicaranya di sebrang telpon bisa melihatanya saja.
"Mandi cepet, 10 menit lagi mba sampai."
"Yes sir."
"Buruan Re, mba tau kamu masih goler-goler kan sekarang."
Adreea mengernyit, menjauhkan ponsel dari telinganya, beralih menatap horror ponselnya. Bagaimana bisa mba Yola --si penelpon tau betul bahwa Adreea masih bermalas-malasan di atas ranjang empuknya?
"Ga berubah jadi videocall." Kata si penelepon lagi meluruskan.
Sekarang, Adreea bahkan makin melotot seram, bulu kuduknya berdiri, beralih menelisik setiap inch kamarnya,
"Ga ada cctv, ga usah meriksain apa-apa deh. Udah kamu mandi sana, mba udah deket."
"Mba ngeri banget, punya mata batin ya? Mau americano, ya ." Pintanya sambil berjalan gontai ke arah kamar mandi.
"Udah."
"Okay, imma take a shower."
"Oke, mba tutup."
Tutt..
Setelahnya panggilan langsung terputus.
-----====-----
Adreea sudah selesai dengan pekerjaannya hari ini, hari terlihat mulai menggelap dari balik kaca mobil yang akan Adreea tumpangi.
"Kenapa?" Tanya mba Yola pada Adreea yang wajahnya tengah tertekuk masam setelah memeriksa hp nya.
"I don't wanna quit this job, mbaaa." Katanya merengek, menghadap penuh ke arah manajer yang sudah menemaninya selama 3 tahun menjadi model itu.
Yola mengangguk paham, setelahnya mengelus-ngelus sayang pundak telanjang Adreea yang tertutup selimut bercorak pelangi, memberi afeksi menenangkan.
"Sssshhh.. You aren't quit this job, Re. You just take a rest, for a while. Mba paham kamu pasti sedih, tapi you had to. Kasihan papa kamu."
Wajah Adreea mengkerut tidak suka, "terus nanti mba Yola gimana?"
"Gampang aku mah, lagian juga entar lagi aku kan mau nikah, jadi emang juga harus istirahat sebentar." Katanya menenangkan.
Tidak ada jawaban dari Adreea, ia memilih menutup mata dengan tubuh bersandar sempurna pada kursi penumpang.
"Tapi emang kemarin gimana hasil meeting kamu sama papa kamu?" Tanya mba Yola hati-hati. Iya, hati-hati, karna seperti yang lalu-lalu, topik pembicaraan ini sangat di hindari gadis di sebelahnya yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri itu.
"Yah kamu tau sendiri mba, aku mana punya pilihan sih. Mana aku udah disiapin sekretaris pribadi lagi. Ck." Katanya meringkik kesal.
"Ya karna emang kamu penerusnya kan, Re. Sepupu kamu yang lain masih kecil, ada juga yang kabur dari rumah karna nolak untuk jadi penerus. Udah, cheer up. Papa kamu kan ga ngelarang kamu modelling kalo schedule kamu ga hectic, mba yakin pasti kamu boleh ambil beberapa job kan?"
Adreea memicing kaget, bagaimana mungkin perempuan di sebelahnya ini selalu bisa membaca isi kepala orang lain?
"Hahaha tuhkan bener. Yaudah ayuk mba anter pulang." Katanya sambil terkekeh sambil beralih ke arah kursi pengemudi.
-----===-----
Adreea Natadiyaksa, atau yang biasa dipanggil Adreea, seorang anak sulung dari Gunawan Natadiyaksa, anak tertua, yang berarti adalah penerus selanjutnya --walaupun perempuan, dari kerajaan bisnis Diyaksa Group yang masih dipimpin Gunawan Natadiyaksa.
Berbicara mengenai Diyaksa Group dan penerusnya, sejujurnya Adreea bukanlah satu-satunya penerus salah satu kerajaan bisnis yang memimpin di Indonesia ini.
Jadi begini, sedikit menengok ke belakang. Sang kakek pendiri Diyaksa group memiliki 3 orang anak. Ayah Adreea --Gunawan adalah anak sulung, disusul adiknya --Giovanny, dan terakhir --Gavreya. Masing-masing di karunia 2 orang anak.
Sejatinya, Adreea bukanlah anak satu-satunya dari Gunawan Natadiyaksa, masih ada adik lelakinya --Keenan Natadiyaksa. Tapi bagaimana mungkin anak kecil berumur 8 tahun disuruh melanjutkan pekerjaan ayahnya?
Selain itu, seharusnya sepupu laki-laki nya lah yang menjadi penerus Diyaksa Group, tapi takdir berkata lain, si sepupu --Harbi Eliaz Natadiyaksa malah kabur entah kemana sejak 4 tahun lalu, ia menolak keras bekerja di balik meja dan lebih memilih mengejar impiannya menjadi pelukis, mempertaruhkan embel-embel Natadiyaksa di belakang namanya untuk mengejar mimpinya.
Adreea tak cukup memiliki nyali lebih seperti Harbi, maka dari itu, ia tak punya pilihan lain. Sedang sepupunya yang lain dari tante Gavreya masih remaja.
Sebenarnya dari kecil pun, Adreea sudah tau akan ke arah mana masa depannya, tentu saja sudah jelas untuk melanjutkan jejak ayahnya mengurus bisnis keluarga. Bukan Adreea tidak mau, hanya saja ia merasa terlalu dini untuknya mengurus perusahaan sebesar itu, bahkan di umurnya yang baru menginjak 24 tahun pun, ia masih belum membayangkan ia harus duduk di belakang meja dengan tumpukan berkas menggunung. Tidak bisa dibayangkan.
Selain itu, sejak Adreea mengambil pendidikan Pasca Sarjananya di Columbia University pun, dengan berbekal ketidak sengajaan, Adreea menekuni kegiatan yang ia senangi, Modelling. Tidak ada unsur paksaan, tidak ada berkas-berkas yang mengikat, apalagi klien yang cerewet. Paling-paling hanya photographer yang memintanya lebih ekspresif di depan kamera, atau sesekali dimarahi pemilik rumah mode yang memakai jasanya, dan tentu saja pekikan kekesalan mba Yola --manajernya, bila Adreea telat bangun. That's it, hanya itu.
Maka dari itu, itulah salah satu alasan kenapa Adreea enggan terjun terlalu dini ke dunia yang ia masih awam. Yah, sejujurnya enggak awam-awam amat sih, karna sejak ia duduk di bangku Senior High School pun, ayahnya sudah mulai mengajarinya cara mengurus perusahaan, dan saat ia mengambil pendidikan Sarjana, ia beberapa kali membantu ayahnya mengurus proyek perusahaannya dan bertemu klien.
Lamunannya buyar saat mba Yola memanggilnya dari kursi kemudi, "mau mampir ke suatu tempat dulu ga, Re?"
"Nggak ah mba, aku pengen istirahat aja, besok udah mulai hectic pasti."
"Nah gitu dong istirahat, jangan clubbing mulu." Katanya melirik Adreea dari kaca spion tengah.
Seperti mendapatkan ide cemerlang, mata Adreea pun terbelalak besar, senyum cerah mengembang di bibirnya, "aku mau nyalon dulu deh mba, mau coloring rambut. Cari suasana baru."
"Serius? Boleh emang sama papa kamu?"
Ia mengibaskan tangannya, mengisyaratkan bahwa itu bukanlah masalah besar.
"Yaudah mba anter, tapi mba gabisa nungguin ya, udah ada janji sama WO jam 7 malam."
Adreea bergumam singkat, lalu setelahnya mengambil posisi nyaman dengan berbaring miring mengahadap jendela sambil otaknya berputar memikirkan sekiranya warna apa yang cocok untuk rambutnya untuk memulai rutinitas baru. Hhhhhh melelahkan.
To be continue...
KAMU SEDANG MEMBACA
THE CEOS
Romance(M) Darren Jeon, seorang CEO muda keturunan Korea. Sukses dengan paras rupawan dan kepribadian tak bercela. Namun tidak seperti jenjang karier nya yang sempurna, kehidupan pernikahan Darren tak berjalan manis sebab buruknya lakon dari istri yang ia...
