Rasanya sudah lama sekali sejak Adreea menghabiskan waktu bersama ayahnya berdua saja. Seingatnya, terakhir kali mereka berkendara bersama lalu duduk berdua untuk sekedar mengobrol santai dan makan siang adalah ketika ia masih berkuliah di New York dulu, mungkin sekitar lima hingga enam tahun lalu?
Bukan karena Adreea tidak dekat dengan ayahnya, hanya saja jadwal pekerjaan mereka yang seringkali bentrok berujung tak menemukan jalan tengah untuk ayah dan anak itu menghabiskan waktu bersama. Apalagi Adreea sudah lumayan lama memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemennya seorang diri.
Setelah kunjungan mereka ke kantor baru Diyaksa Group setengah jam lalu, ayah dan anak itu memutuskan untuk melipir ke kedai kopi dan mungkin sedikit memberikan asupan glukosa bagi tubuh di seputaran areal perkantoran itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 12:15 siang, keduanya terlihat diselimuti pembicaraan santai. Sesekali membahas kabar adik Adreea yang saat ini masih duduk di bangku kelas 5 SD.
"Kerjaan aman, Rea?" Ayahnya membuka obrolan, meletakkan ponsel yang baru saja ia nyalakan sebab dentingan kecil tanda sebuah pesan masuk.
"Aman, pa. Kemarin ada trouble sedikit, bagian konsultan elektrik hubungin Rea. Cuma udah beres semua kok."
"Good," sang Ayah mengangguk-angguk kecil, menyesap kopi panasnya sekali. "Gimana? Ga buruk-buruk amat kan kerja di belakang meja?"
Adreea mendengus sebal. Tidak buruk katanya? "offcourse not that bad, Rea bahkan sering telat makan gegara kerjaan ga abis-abis. Heran banget papa bisa tahan kerja ginian."
Ayahnya tertawa sumbang. Keningnya berkerut hingga dua kelopak matanya berbentuk bulan sabit sempurna. Ah Adreea rindu dengan tawa khas ayahnya ini.
"Ya kamu cari pacar makanya biar ada yang ngingetin makan."
"Ga perlu lah, udah ada Derry yang selalu ingetin Rea makan kok."
"Derry sekretaris kamu? jangan kasih dia kerjaan di luar jobdesc dia dong," Ayahnya berkomentar, mencoba sehalus betul membuka obrolan tentang topik yang satu ini. Karna jelas pria paruh baya itu tau bagaimana sensitifnya Adreea mengenai perkara yang satu ini.
Adreea bukannya tidak ingin menikah, ia hanya terlalu nyaman dengan kesendirian yang tak pernah mengikat dan menguras emosionalnya yang tersisa separuh. Bukan karna ia tak bisa menjalin komitmen pula. Hanya tidak ingin saja.
Bagi Adreea, memiliki partner hidup adalah prioritas paling uncit dalam daftar keingingan yang ingin segera ia realisasikan.
Adreea bukan wanita munafik, tak malu ia mengatakan bahwa ia masih membutuhkan partner untuk kegiatan seksual nya dalam sekedar menghilangkan penat yang melanda tubuh ringkihnya. Namun alih-alih mencari kekasih, Rea hanya melampiaskan hasratnya pada beberapa sex toy yang ia miliki.
Tak seperti dahulu kala ia masih di Luar Negeri, kehidupan ranjang Adreea sedikit susah dikontrol oleh wanita itu.
Oke, paham sampai di sini 'kan?
Kembali lagi pada Adreea dan sang ayah yang masih setia menunggu jawaban Adreea sejak tadi. Adreea tau betul kemana arah pembicaraan mereka setelah ini, namun apa boleh buat, ia hanya bisa menghela ringan di bawah nafasnya sendiri. Mengikuti alur yang jelas saja sudah direncanakan ayahnya sendiri.
"Derry nya ga keberatan kok, pap."
"Jelas aja ga keberatan, kalo keberatan ya bisa ilang mata pencaharian dia. Gini loh kak, papa udah makin tua, mama juga, kami cuma ga mau telat sampe ga liat anaknya naik pelaminan, itu aja kok."
Sang ayah mengelus lembut surai anaknya. Anak kebanggaan yang selalu ia doakan di setiap ia beribadah, tanpa sadar dalam sekejap telah berubah menjadi wanita dewasa yang selalu bisa diandalkan. Anak yang selalu menjadi prioritas utamanya sejak dulu telah bertransformasi menjadi wanita anggun yang jarang ia temui presensinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE CEOS
Romance(M) Darren Jeon, seorang CEO muda keturunan Korea. Sukses dengan paras rupawan dan kepribadian tak bercela. Namun tidak seperti jenjang karier nya yang sempurna, kehidupan pernikahan Darren tak berjalan manis sebab buruknya lakon dari istri yang ia...
