Jovian pikir ini aneh, akhir-akhir ini kakaknya menjauh dan tak menghiraukan dirinya. Tetapi ya sudah lah, pikir Jovian. Ia pikir kakaknya hanya terlalu sibuk, itu saja.
Sudah seminggu sejak ia menjalani hidup dengan status baru. Besok adalah hari minggu dan Jovian akan berjalan-jalan dengan kekasihnya.
"Calvin mulu, kakak kapan?"
Jovian terkejut, Keenan datang entah dari mana secara tiba-tiba.
"Maksud kakak?"
Bukannya menjawab, Keenan malah berjalan meninggalkan Jovian.
Jovian bingung dan heran dengan kakaknya yang satu itu.
"Eh sebentar.."
Terbesit suatu dugaan pada kepala Jovian, "Masa kak Keenan cemburu sih?"
Jovian tertawa, "Halah, nggak mungkin.. aku kan bukan kak Hamdan, kakak pasti tau itu kok"
"Lagian gak mungkin juga kalo kakak sampe segitunya"
"..."
"Iya kan..?"
[✎]
Jovian berjalan menikmati suasana taman seraya mencari keberadaan Calvin.
Semua berjalan baik-baik saja, sampai Jovian menemukan Calvin mengobrol dengan dua pria yang nampaknya sudah tua.
"Calvin, tolong. Ini permintaan terakhir ayah.."
"Ayah nggak tau seberapa sayangnya aku ke Jovian!"
"Jika kamu berjodoh dengan anak saya, saya pastikan kamu akan lebih bahagia"
"Bisa menjamin? Kalaupun bahagia, nggak bakal sebahagia pas aku sama Jovian!"
Kedua pria menjelang tua tersebut saling menatap.
"Ah maaf nak, tapi kamu tetap akan ayah jodohkan dengan anak pak Yahya"
Calvin menatap kecewa ayahnya, "Aku kecewa sama ayah.."
Calvin berjalan meninggalkan kedua pria tersebut. Belum berada jauh dari mereka, manik matanya menemukan Jovian yang sepertinya telah mendengarkan percakapan mereka tadi.
Calvin segera berlari kearah Jovian.
"Jovian, dengerin aku dulu, itu tadi.. nggak seperti yang kamu pikirkan" Calvin memegang kuat kedua lengan Jovian.
"Dengerin kakak, kakak... hiks nggak akan pernah ninggalin kamu.."
Jovian masih terdiam dengan tatapan kosong, tak merespon perkataan Calvin.
"Kamu tau kan kakak sayang banget sama kamu? Iya, nggak mungkin kakak ninggalin kamu gitu aja cuma gara-gara itu"
Calvin menjelaskan baik-baik dengan air mata terus mengalir membasahi pipinya.
Jovian memandang mata Calvin dan tersenyum, "Kak"
Calvin terus menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tak mau kehilangan Jovian.
Jovian meraih tangan Calvin dan menggenggamnya dengan erat, "Ini bukan salah kakak, ngapain kakak nangis wkwk"
"Kakak tau, punya orangtua itu cuma sekali, kalo orangtua meminta sesuatu kita harus tepatin dong"
"Kakak nggak perlu merasa bersalah, kalo ayah kakak mau kakak nikah sama orang pilihannya maka jalankanlah"
"Aku.. aku bakal support kakak terus apapun yang terjadi. Kalo ada apa-apa, kakak masih bisa cerita ke aku loh"
Jovian tersenyum lebar seakan semuanya baik-baik saja membuat hati Calvin semakin tertusuk. Ia tahu betul jika Jovian berusaha mati-matian menahan sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
|| bukan - jongsang ||
Fan-Fiction"Lihatlah aku sebagai Jovian Hengkara Renjana setidaknya sekali, please kak" - J Keenan, seseorang yang melihat adiknya sebagai seorang yang pernah mengisi hatinya dan yang pernah ia kecewakan - local fanfict! warning! bxb, angst a lil bit harsh wo...
