"Ric, lo pernah di pukul bokap?" tanya Jeno.
Ngomong-ngomong badan Jeno udah baikan, tapi dia masih tak beranjak dari kamar tamu tersebut, Eric juga sama. Padahal sekarang sudah pukul tiga dini hari tapi keduanya belum tidur. Hanya berbaring menatap langit-langit kamar.
Eric menoleh sekilas pada Jeno, "Harusnya lo nggak usah nanya gitu. Ya pasti pernahlah, pukulan bokap sama lo tuh nggak jauh beda."
"Malah sambat."
"Ya gimana nggak sambat, lo nggak ngerasain anjir."
"Ya maaf," ucap Jeno tulus.
"Lo ngomong gini, besok juga udah nonjok gue lagi."
"Kalo lo nggak mulai gue nggak bakal nonjok."
"Tai!"
Hening, Jeno tak menyahut. Perdebatan kecil itu berakhir. Dalam lubuk hati yang terdalam Jeno tak ingin suasana hening tapi dia juga bingung ingin memulai percakapan seperti apa dengan Eric, Jeno sendiri orangnya to the point jadi tidak pandai dalam urusan basa-basi.
"Ric, baikan yuk?" ajak Jeno.
"Hah?"
"Ayo baikan gausah berantem lagi, gue udah capek dan pastinya lo lebih capek." Jeno melirik Eric yang kebingungan. Eric bangkit menatap Jeno penuh tanya.
"What the fuck, Jeno? Gue nggak salah denger kan?"
Jeno menjitak kepala Eric, "Habis minum racun lo jadi lola ya?"
Jeno mendengus kesal, ia ikut duduk berhadapan dengan sang kembaran. "Gue tau ini terlalu mendadak buat gue minta baikan ke lo. Gue udah mikirin ini dari lama tapi lo buat ulah mulu yang bikin gue emosi, yaudah baikannya gue pending. Jadi mau nggak?" tawar Jeno mengulurkan tangannya.
Eric menatap ragu uluran tangan Jeno. Karena geram Jeno menarik paksa tangan Eric untuk menjabat dengan tangannya.
"Dih pemaksaan!" ucap Eric.
"Lo kelamaan bangsat!"
"Gue kan lagi mencerna kelakuan lo!"
"Gini ya Ric, gue sadar kalo emang dari awal gue yang mulai. Okey, maafin gue yang kekanak-kanakan waktu itu dan keterusan sampe sekarang. Gue juga sadar kalo selama ini kita di permainin sama papa, bahasa mudahnya ya kita di adu domba. Pasti papa pernah pamerin prestasi gue ke lo dan lo-nya di jelek-jelek in kan?" tanya Jeno memberi jeda, Eric mengangguk.
"Nah makanya dari itu gue dengan sepenuh hati minta maaf ke lo atas ketololan gue dulu. Dan lo juga wajib minta maaf balik ke gue." ucap Jeno.
Eric yang dari awal udah serius dengerin Jeno mendadak kesel sama kalimat terakhir yang di ucapkan Jeno.
"Ya syukur sih kalo lo sadar diri."
"Jangan mancing emosi, please."
Eric tertawa samar. "Lebaran nih? Udah berapa tahun kita nggak lebaran Jen?"
"Yang pasti nggak kek orang pacaran yang lebaran tiap hari."
"Bisa aja lo anjir."
Suasana kembali canggung. Sumpah nggak enak banget terjebak di situasi seperti ini. Keduanya sama-sama mengumpat dalam hati. Jeno diam sambil memamerkan eye smile nya dan Eric yang pasang muka julid ngelihat hal tersebut. Seumur hidup baru kali ini dia melihat eye smile kembarannya.
Eric melempar bantal ke muka Jeno. "Muka lo apaan sih gitu amat!"
Dengan tergesa-gesa Eric bangkit ingin balik ke kamarnya karena tak tahan dengan suasana yang menurutnya aneh ini. Tapi baju belakangnya di tarik Jeno hingga ia balik lagi ke kasur. "Mau kemana lo?" tanyanya.
"Mau ke kamar, lo aneh njir gue takut lo ketempelan demit atau apa."
"Ck, diem dulu di sini."
"Gak mau Jen, sumpah mending lo ngomong kasar sambil pasang muka judes aja daripada kayak tadi. Aneh banget sumpah gue gak tahan."
"Lo yang aneh orang di baikin malah pengen di judesin."
"Gue nggak biasa sama sikap baik lo anjir!"
"Udah diem dulu disini gue mau ngomong sesuatu."
"Apa?"
"Pertama bukan gue yang ngeracunin lo, sumpah gue dateng-dateng udah nemuin lo yang kesakitan di kamar jangan nuduh gue lagi. Dan kedua, stop temenan sama Sunwoo." Mungkin pernyataan Jeno yang terakhir sedikit membuat Eric kaget.
Dengan kebingungan Eric bertanya, "gue nggak peduli soal racun, tapi buat nggak usah temenan lagi sama Sunu, wtf? dia baik lho sama gue."
"Iya gue tau dia baik sama lo buat sekarang, tapi buat kedepannya keknya lo harus jaga-jaga."
"Nggak mau anjir, apa-apaan! Cuma dia temen gue bangsat, terus gue temenan sama siapa?" tanya Eric, dirinya sedikit tak terima.
"Kan ada Hwall."
"Pertukaran pelajar kalo lo lupa."
Bukan tanpa alasan Jeno menyuruh Eric untuk menjauhi Sunwoo. Orang yang mengirim video ke Baejin waktu itu adalah Sunwoo, atas perintah orang yang ngirim video ke Eric. Dan Yoshi juga bilang kalau Sunwoo di bawah kendali dari orang 'secret' tadi. Yang pasti Jeno pengen kembaran nya itu berjaga-jaga.
"Yaudah kalo gitu hati-hati aja."
"Kasih tau gue alasannya!"
"Gak bisa."
Jeno sedikit tak enak hati pada kembarannya itu, dia tak ingin merusak pertemanan Eric dan Sunwoo tapi ya mau gimana lagi. Jeno tau kok Sunwoo orangnya baik.
=
Sudah seminggu lebih, walau Jeno dan Eric sudah berbaikan tapi mereka berdua sepakat untuk menyembunyikannya. Jika di depan orang lain mereka tetap terlihat musuh, hanya saat berdua mereka bertingkah layaknya saudara pada umumnya.
"Jen, ini kunci jawaban buat ujian akhir semester nanti." Renjun menyerahkan kliping yang berisi kunci jawaban seluruh mapel. Seperti biasanya, seminggu sebelum ujian ia akan membagikan kunci jawaban kepada temannya, dengan syarat nilainya jangan di buat full seratus biar hanya Renjun saja yang nilainya sempurna.
"Makasih njun," ucap Jeno.
"Sama-sama, kuy kita ke lapangan lo belum ngasih suara kan?" tanya Renjun.
"Belum, yaudah ayok!"
Hari ini tengah diadakan pemilihan ketua osis. Di tengah perjalanan Renjun dan Jeno menangkap suara orang yang tengah rusuh. Jeno sangat mengenali suara itu, yaps itu suara Eric dan Jaemin. Mereka tengah ribut di koridor. Tanpa basa-basi Jeno dan Renjun langsung menghampiri nya.
"Jasmin brengsek!"
"Ada apa sih?" tanya Jeno.
"Bilangin noh jen sama adek lo si Erica, masa gue di siram pake esnya sih!" adu Jaemin.
"Lo duluan yang jegal gue sampe jatuh ya anjing!"
Jadi tadi Eric sama Sunwoo tengah jalan santai dari kantin ke kelas. Tapi di tengah perjalanan Eric jatuh gara-gara kakinya Jaemin, bajunya basah karena es nya jatuh nimpa dirinya. Karena nggak Terima, Eric ambil esnya Sunwoo buat di siramin ke badan Jaemin.
Tak ingin ambil pusing, Jeno menarik lengan Jaemin untuk segera ke lapangan.
"Apaan sih Jen, gue masih kesel sama si Erica!"
"Udalah Jaem, kelas kita udah di panggil noh." Bukan Jeno yang berucap, tapi Renjun. Berakhir dengan Jaemin yang pasrah jalan ke lapangan bersama Jeno dan juga Renjun.
=
Semoga bisa di pahami. Jangan lupa vote dan komen, see you next chapter.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sama(r) ft. jenric
Hombres Lobo"I'm a good person with bad attitude." - jeno eric - ft. 00line
