0.5

144 33 12
                                    

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.








Matahari sudah hampir tenggelam disebelah barat. Riuh suara kendaraan memenuhi jalan raya. Orang-orang yang dari pagi beraktivitas kembali ke rumahnya masing-masing untuk beristirahat setelah mengalami hari yang panjang dan melelahkan.

Di kursinya, Sakti menghela napas panjang dan menutup matanya sejenak. Jarak ke kosnya masih cukup jauh padahal dia sudah sangat ingin berbaring di ranjang.

Dia lalu membuka ponselnya dan memperhatikan pesan yang dikirim Cashel lima belas menit yang lalu. Pesan yang mengajak Sakti untuk pergi kemah sekaligus memancing lusa nanti.

Pesan itu belum dijawab olehnya, antara tertarik tapi malas juga rasanya. Cashel pasti mengajaknya pergi karena ada sesuatu yang ingin ia hindari. Sakti sudah sangat hapal kebiasaan temannya yang satu itu.

'Tapi kalo enggak diiyain, ini bocah ngambeknya nyeremin banget kayak hulk.' Batin Sakti. Jarinya lalu bergerak untuk membalas pesan dari Cashel.

Lusa kan gw hrs ke gereja

Tidak butuh waktu lama, Cashel langsung membaca pesan darinya dan mengetikan balasan.

Cashel
Gk bisa bolos emng?
Gw klo jumatan kdg bolos loh

Mata Sakti membola melihat balasan dari Cashel.

Heh lo udh murtad berarti?

Cashel
Kagak lah anjir
Cmn bolos sekali doang kok

Bomat
Mending gw ibadah drpd ngabisin waktu sm setan kyk lo

Cashel
Jd lo gk mau?

Mau lah
Samper gw aja nanti di kosan

Cashel
Nah gitu dong
Iya ntar gw samper

Sakti mengulum bibirnya, walau kadang terasa malas tapi entah kenapa dia selalu tidak bisa menolak ajakan Cashel. Temannya itu pandai menghasutnya untuk setuju akan suatu hal.

"Udah sampe kak." Suara supir berhasil menyadarkan Sakti dari lamunannya.

"Oh iya, ini uangnya Pak." Sakti memberikan sejumlah uang lantas keluar dari mobil.

Kaki melangkah memasuki kosan yang selama dua tahun ini jadi huniannya. Satu-satunya tempat tinggal yang akhirnya bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan baginya meski tinggal sendiri.

Sakti melepas sepatunya dan melangkah masuk ke rumah.

"Eh, bang Sakti. Udah pulang bang?" Suara Fikri yang terdengar menghentikan Sakti yang hendak memasukkan kunci kamarnya.

Fikri itu adik tingkatnya yang kamarnya ada di sebelah kamar Sakti. Anaknya baik, rajin, sama taat ibadah juga. Dia juga tidak terlalu banyak tingkah dan karena itu Sakti cukup senang dengannya. Poin pentingnya, Fikri tidak akan berpikir dua kali ketika Sakti meminjam uangnya.

"Iya, lo mau ke mesjid ya?" Tanya Sakti.

Fikri mengangguk semangat, lalu keningnya mengerut seakan teringat sesuatu. "Oh ya bang, tadi ada yang kesini nyariin lo."

"O yah? Siapa emang?"

"Gue gak sempet nanya soalnya dia langsung pergi pas gue bilang lo gak ada. Yang nyari lo tuh cewek, masih muda sih. Tapi dandanannya mirip ibu-ibu gitu." Jelas Fikri.

Sakti termenung seketika, "Ibu kos?" Tebaknya kemudian.

"Yeu, kalo emang Ibu kos ngapain gue bilang gak tau." Sahut Fikri.

"Emh... Bang, maap maap nih ya, gue gak bermaksud kurang ajar. Tapi lo gak punya utang ke pinjol kan?" Tanya Fikri ragu-ragu.

"Ya kagak lah anjir! Ngapain gue minjem duit ke pinjol kalo bisa minjem ke elu sama si Cashel." Bantah Sakti.

"Iya juga ya." Fikri mengangguk. "Ya udah, gue pergi dulu ya Bang." Pamit Fikri.

"Hati-hati." Ujar Sakti yang entah terdengar oleh Fikri atau tidak karena dia mengucapkannya dengan pelan.

Setelahnya Sakti memutar kunci kamar dan membuka pintu. Dia langsung berbaring begitu mencabut kembali kuncinya dan menutup pintu. Matanya terpejam sesaat lalu memandang langit kamarnya.

Kamarnya cukup berantakan, dan Sakti berniat untuk membereskannya besok mengingat dia tidak punya kelas esok hari.

"Bukan dia kan?" Sakti bergumam pelan. Lelaki itu kemudian menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan supaya merasa lebih tenang.

"Bajingan-" Giginya bergemeletuk saat memori yang menyakitinya itu kembali berkumpul di kepalanya.

"-Padahal gak ada anak yang minta dilahirin ke dunia ini."

***
07. 3. 2022

Ayo kita sayangin Sakti banyak-banyak 🤗




ARUNIKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang