Karina bersender. "Ayah sedang keluar." Herozein mengernyitkan dahinya. "Ngapain?"
Tangan rapuh Henia menyentuh pundaknya. "Membagikan beberapa pangan kepada rakyat, atas rasa terima kasih nya kepada Tuhan yang telah melindungi mu dan kepada rakyat yang telah mendoakan keselamatanmu." Lagi-lagi Henia menautkan jemarinya, menutup mata dan menunduk kali ini sambil tersenyum penuh rasa syukur.
Sahutan terdengar lagi dari arah samping kanannya. "Amin." Itu Karina.
Herozein menghela napas panjang menatap tidak mengerti ibu dan adiknya ini.
"Gue gak tau kalo keluarga Duke Caplicano religius banget, gue tuh penulisnya bukan sih?" Batinnya bertanya-tanya.
•
•
The Greatest Revision For Unpublished Story © Deurimen
Genre : BL, Bromance, Transmigration, & Historical
•
•"Anjirrr kok gini sih?!"
Herozein menyentuh wajahnya seraya menatap pantulan diri di cermin full body didepannya, ekspresinya agak memburuk dengan dahi mengernyitkan tidak terima. Saat ini Herozein yang dipaksa Karina untuk menemaninya ke Cleverlan tengah mempersiapkan diri, namun begitu dia tidak sengaja melihat pantulan dirinya di cermin sontak dia langsung berseru dan meringis sebal.
Ia menunduk menatap tubuhnya dengan wajah tak rela. "Ini kenapa gua jadi mirip sama si Putra, anjim?! Jan bilang kalo Herozein Caplicano itu emang mirip kek Putra?!"
Ya, dia memiliki penampilan baru dan kenyataan bahwa Herozein Caplicano memiliki paras yang sama dengan bestie nya, Putra Anggarano Baskara. Bertubuh tinggi sekitar 178 cm, kulit putih porselin, wajahnya memang sama-sama tampan baik Herozein ataupun Putra. Yang membedakannya adalah Herozein Caplicano memiliki garis wajah yang lembut namun tegas, sedangkan Putra garis wajahnya agak lebih kasar dan sangat konyol dengan senyum Pepsodent nya yang selalu terbit, kulit Putra pun tidak seputih dan sehalus ini dia belang karena sering panas-panas menunggu kekasihnya yang meminta dijemput terus-sebagai seseorang yang sudah bersahabat dengan Putra hampir 20 tahun lamanya tentu saja dia bisa membedakannya meski Herozein Caplicano benar-benar sangat mirip.
Herozein mengendik ngeri. ".... Hihh! Anjirrr!" Lalu berbalik enggan melihat paras barunya terlalu lama bisa-bisa dia akan sawan, entah bagaimana bisa si Putra selalu ada dimana-mana? Belum lama ini di dunia nyatanya dua kali dia bertemu seseorang juga yang mirip dengan Putra dan membuatnya malu karena salah memanggil orang.
"Put, Put... Muka Lo pasaran banget sih astaga..." Herozein menggeleng-geleng merasa malang dengan nasib Putra yang memiliki banyak kembaran.
Tidak ingin terlarut dalam paras ini, Herozein melangkah kearah meja dimana pertama kalinya dia berpindah dimensi dan masih ada ponselnya cepat-cepat dia raih lalu mencoba menekan tombol power, masih belum ada perubahan tetap ponsel tersebut mati. Herozein menghela napas panjang, ia menunduk dengan wajah tampak berpikir keras-meskipun dia adalah seseorang yang menulis cerita ini bukan berarti dia mengingat jalan ceritanya dengan baik, Herozein sudah 7 kali melakukan revisi dan dia bermaksud untuk menggunakan revisi terakhir kalinya yaitu revisi ke-6 yang tersimpan di ponsel sebagai patokan agar bisa mengetahui hal-hal yang akan terjadi setelah ini juga seterusnya hingga dia bisa menemukan cara untuk kembali ke dunia asalnya. Karena di revisi ke-7 nya dia baru menyelesaikan Chapter pertama sebelum akhirnya masuk kedalam dunia ini, tentu tidak bisa dijadikan patokan alur.
"Kudu nyatet ini mah elah..." Keluh Herozein lalu meraih sebuah buku dan merobeknya, dia kembali duduk.
Tangannya mulai bergerak menulis beberapa kata. "Setan bener ini pulpen letoy banget! Berasa kek pake brush pen gue!" Meski begitu dia tetap mencoba menuliskan planning nya sejelas mungkin, tanpa planning dia tidak mungkin bisa mengingat tujuannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Greatest Revision For Unpublished Story
Tarihi Kurgu"Hidup cuma sekali gak bisa Lo revisi kek buku jadi gunain kehidupan Lo sekarang dengan baik, masalah itu kan cobaan hidup, jangan mental yupi gitu dong malu Lo kan laki." Sang penulis datang hanya untuk mengerti kehidupan yang sebenarnya diinginkan...