Bagian 29

49.5K 3.2K 262
                                        

Author POV

Malam tahun baru kali ini adalah pertama kalinya bagi Adira. Seperti rencana sebelumnya, Adinata dan Nayra ingin mengajak buah hati mereka untuk jalan-jalan keliling kota sambil menikmati jagung bakar di pinggir jalan. Memang tampaknya sederhana, tapi kenangannya indah. Nayra tidak meminta opsi lainnya, paling tidak mereka bisa berkumpul bertiga.

"Duh, anak mama udah cantik banget pakek baju warna pink terus ada bando nya! Kita jalan-jalan ya, sayang? Dira mau liatin kembang api kan?" ucapnya pada sang bayi. Adira yang berada di gendongannya tertawa-tawa, wajah ibunya terlihat lucu di mata bulatnya.

Nayra sendiri sudah siap dengan terusan selutut dan sebuah kardigan biru muda kesukaannya. Rambutnya di kuncir satu agar tidak merepotkan dan Nayra tidak memakai riasan wajah karena menurutnya tidak terlalu penting.

"Udah siap, Nay?"

"Iya, Mas. Yuk berangkat, takutnya jalanan makin rame kalo kemaleman," jawabnya.

Ketiganya masuk ke dalam mobil, Adinata mengendarai mobilnya tanpa tujuan. Mereka hanya mengelilingi kota sambil melihat-lihat banyak sekali anak muda yang berkeliaran di luar bersama teman-teman mereka. Ada yang berhenti untuk membeli makanan sampai memenuhi lahan parkir, ada pula yang sengaja nongkrong di jembatan untuk menantikan detik-detik kembang api bermunculan di langit.

"Nay, kita beli jagung bakar di Deket kantor Pak Jaya aja ya? Dulu Mas sering beli di sana, udah langganan," ajaknya. Nayra menurut saja, jagung bakar adalah salah satu kesukaan Nayra jadi dia mau mencoba di mana saja.

Nayra sibuk menatap keluar jendela mobil dan sesekali memberitahu Adira apa-apa saja yang ada di luar sana. Seperti menunjuk pepohonan, sekolah-sekolah yang terlihat, gedung-gedung tinggi dan lain sebagainya. Sesekali dia juga berbincang dengan suaminya membahas rencana tahun depan sampai akhirnya mereka sampai di gerobak penjual jagung bakar langganan Adinata.

Katanya tempat ini buka setiap malam, tidak khusus untuk tahun baru saja. Jadi bisa dinikmati kapanpun. Tempatnya cukup ramai, Nayra yakin jagung bakarnya punya rasa yang khas.

"Loh? Adinata, ya? Wah... Udah lama gak ke sini loh. Sehat, Di?"

"Syukurlah sehat, Wan. Kamu apa kabar?"

"Baik juga, Di. Ini siapa?" Iwan, si penjual jagung bakar itu menatap Nayra dan Adira.

"Anak dan istriku, Wan. Aku nikah tahun lalu, tapi emang gak ada pesta jadi gak ngundang kerabat," jawabnya.

Iwan memberikan selamat kepada Adinata dan mengatakan kalau memang sudah saatnya Adinata berkeluarga di umurnya yang sudah 42 tahun itu.

"Nay, tunggu di dalem mobil aja kali ya? Kasian Adira, di luar sini banyak asap bekas bakar-bakaran," usulnya. Nayra mengangguk kecil, dia dan Adira pun masuk ke dalam mobil untuk menunggu.

"Kamu belum bisa makan jagung bakar, nak. Adira kan hobinya nenen aja sama mama, hehe..."

Nayra menghadapkan wajah Adira di depannya, dia cium-cium gemas pipi gembul putrinya. Adira tumbuh sangat sehat dan gemuk, dia bersyukur bisa merawat putrinya sampai seperti ini.

"Papa lagi nunggu jagung, nak. Itu Papa," katanya sambil menunjuk Adinata di luar mobil. Dia tampak asyik mengobrol dengan Iwan.

Saat sedang asyik mengajak Adira berbicara, suara ponsel Adinata terdengar. Nayra langsung mengambil benda pipih itu untuk melihat siapa yang menelepon dan dia sangat terkejut karena rupanya Amanda lah yang menelepon di malam tahun baru ini.

Dia melirik Adinata yang masih menunggu pesanan jagung bakar karena memang sedang ramai dan harus mengantri, jadi Nayra memutuskan untuk mengangkat saja teleponnya.

Terjebak Bersamamu [TAMAT] REPOSTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang