Bagian 35

51.2K 2.9K 115
                                        

Author POV

"Aku lagi nyiapin buat besok kakak aku pulang ke rumah. Kalo kamu mau, kamu bisa ke sini besok Nay."

Nayra menggigit bibir bawahnya, telapak tangannya tiba-tiba dingin seperti es. Dia belum siap dan Nayra rasa dirinya tidak akan pernah siap menjumpai pria itu lagi, tapi Nayra bertekad untuk melupakan. Dia tidak mau memendam ketakutan terus-menerus.

Dua bulan lalu Adinata juga mengatakan hal sama kepadanya, mereka berdua diminta oleh Jaya untuk datang ke rumah mereka karena Kaffa ingin meminta maaf atas segala perbuatannya. Nayra mengatakan tidak bisa kepada suaminya, dia belum siap dan hari ini Maya kembali menanyakan.

"A-aku gak tau, May. Bukannya aku sombong, tapi aku masih agak takut."

"Aku ngerti kok, Nay. Jangan dipaksain, nanti aku sampaikan aja apa yang mau disampaikan kakak aku buat kamu. Tenang aja Nay, sekarang aku di pihak kamu kok," balas Maya.

Nayra memainkan ujung gaun tidurnya, dia sangat merasa tidak enak dengan Maya. "Maaf ya, May. Kamu tau kan aku beneran trauma. Masih ragu buat ke sana."

"Gak apa-apa, Nay. Ya udah, aku tutup dulu ya teleponnya soalnya udah malem."

Sambungan telepon pun terputus. Nayra meletakkan ponselnya ke atas nakas seraya berpikir keras. Apa yang terjadi dua tahun lalu sangat berdampak terhadap kesehatan mentalnya. Nayra terus mengingat dan merasa ada orang yang menatapinya diam-diam. Itu terjadi beberapa kali dalam satu Minggu dan jujur saja Nayra takut.

Ceklek!

Suara pintu kamar yang terbuka dan tertutup lantas membuat tubuhnya sedikit terlonjak kaget. Detik berikutnya suara tawa Adira menggema di dalam kamar, tampak Adinata dan putri mereka sedang sibuk bercanda ria berdua setelah dari ruang tamu.

"Hem, Dira bau susu ya mulutnya? Ini kebanyakan nyusu sama Mama makanya sampe bau susu semua," candanya. Dia belum memerhatikan Nayra yang sedari tadi diam memikirkan soal peristiwa dua tahun silam. Sedikit menakutkan untuk kembali diingat.

"Udah keliatan ngantuk itu Dira nya, Mas." Nayra mencoba mengalihkan perhatiannya dengan mengajak suaminya berbincang. Adinata akhirnya menatapnya, alis pria itu sedikit tertekuk karena ekspresi Nayra agak berbeda malam ini.

"Kenapa, Nay?"

"Ehm... Nayra tadi abis teleponan sama Maya, Mas. Dia ngajak buat ke sana besok soalnya kakaknya balik dari penjara. Katanya dia mau minta maaf sama kita berdua, tapi Maya gak maksa sih," jawabnya.

"Terus kamu jawab apa?"

"Ya Nayra bilang gak tau. Nayra masih agak ragu aja ke sana, Mas. Takut," ungkapnya. Sudut bibir Adinata mengulas senyum tipis, dia menyentuh punggung tangan Nayra untuk dia genggam. Perasaan cemas dan trauma itu tentu sulit sekali hilang. Bertahun-tahun pun masih kurang untuk menghilangkan ketakutan itu sepenuhnya.

"Kalo kamu gak nyaman, gak apa-apa. Jangan dipaksakan untuk ke sana biar nanti Mas aja yang ke sana sebagai perwakilan. Mereka juga tau gimana trauma nya kamu sejak kejadian itu," sahutnya. Nayra mengangguk, suaminya memang selalu mengerti apa yang dia rasakan. Adinata tidak pernah mencela Nayra, dia selalu memberi dukungan yang membuat Nayra kian percaya diri.

"Iya, makasih ya Mas. Mungkin itu yang terbaik juga."

"Ya udah sekarang istirahat dulu. Adira tadi udah nge dot pas kami nonton di ruang depan. Bentar lagi dia bobok," titahnya.

Adinata menidurkan buah hatinya dengan penuh kasih sayang. Dia hanya butuh beberapa menit saja untuk membuat Adira tertidur. Terkadang Nayra heran, bagaimana bisa suaminya itu selalu berhasil menidurkan anak mereka?

Terjebak Bersamamu [TAMAT] REPOSTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang