Bagian 3

102K 4.7K 220
                                        

Author POV

Entah apa yang ada dipikiran Adinata ketika dia dengan seriusnya mengatakan itu kepada Nayra. Adinata hanya ingin masalah selesai dengan cara memberikan pertanggungjawaban yang sebenarnya tidak perlu dia lakukan karena Adinata tidak bersalah. Namun, pria itu tidak mau membuat Nayra kembali menjadi korban kejahatan Kaffa. Lebih baik Adinata mengambil keputusan besar agar anak majikannya itu tidak lagi mengganggu Nayra.

Keesokannya, Adinata terdiam di rumahnya setelah menghabiskan makan siang yang terasa hambar. Sekarang bebannya bertambah, dia harus memikirkan beberapa hal soal keputusan yang sudah dia ambil. Jaya meminta Adinata untuk berkata hal jujur kepada keluarga Nayra dan menerima ganjaran. Adinata setuju dengan keputusan majikannya. Meski harusnya dia tidak perlu repot-repot, tapi Adinata sudah berkorban. Dia menjadikan dirinya sendiri sebagai perisai dan dia harus menikmati keputusannya.

Tok! Tok!

Pintu rumahnya diketuk dari luar. Adinata bergegas membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.

Bibirnya sedikit terbuka saat melihat Nayra datang sendirian ke rumahnya. Entah dari mana gadis ini mendapatkan alamat, tapi sepertinya dia datang karena pembicaraan serius.

"Ada yang bisa saya bantu, Nayra?"

Nayra berdiri kaku, dia menggenggam erat tas yang dia pegang karena merasa takut. Akan tetapi, Nayra datang karena sesuatu yang serius.

"Sa-saya... Saya mau bicara," ucapnya dengan suara kecil. Adinata melirik ke arah sekitarnya yang sepi lalu dia membuka pintunya sedikit lebih lebar, untuk mempersilakan Nayra masuk.

Gadis itu melangkah penuh beban, dia melirik ke sekeliling kontrakan Adinata yang tidak terlalu besar atau mewah. Kontrakan ini cukup untuk ditinggali satu atau dua orang. Wajar apabila Adinata terlihat selalu menyendiri dan pendiam.

"Maaf rumah saya sedikit berantakan dan terasa tidak nyaman. Silakan duduk," ucapnya. Nayra mengangguk kecil, dia duduk berjarak dari Adinata sembari mencari perlindungan sendiri.

"Jadi kamu mau bicara apa?"

"Ma-masalah kemarin malam... Saya... Saya ingin tau apa yang sebenarnya terjadi."

Adinata memandangnya penuh tanya, apakah sampai detik ini Nayra masih belum mengingat apapun?

"Kamu belum ingat?"

"Sa-saya... Tolong, katakan saja apa yang terjadi," pintanya sedikit memohon.

"Maaf Nayra, saya ngelakuin hal buruk. Saya benar-benar khilaf dan berjanji akan bertanggung jawab. Semua ini kesalahan saya."

Nayra perlahan menatap Adinata, sejujurnya dia tidak memercayai bahwa Adinata bersalah. Wajah pria itu begitu baik dan sangat menunjukkan bukti bahwa dia memang tidak bersalah. Tapi kenapa Adinata bersikeras mengganggap bahwa dia adalah pelaku pelecehan?

"Saya ingin bapak jujur. Malam itu... Saya mabuk, saya terlalu banyak mengonsumsi alkohol dan yang terakhir kali saya ingat... Kak Kaffa mengajak saya masuk ke dalam. Saya tidak ingat bahwa Pak Adinata yang membawa saya, saya tidak ingat ada Pak Adinata di sana."

Adinata memiringkan kepalanya sedikit, sepertinya Nayra mulai mengingat perlahan apa yang terjadi di malam pesta ulang tahunnya bersama Maya. Tapi dia tidak berani berkata jujur.

"Kalo saya jujur, apakah kamu juga akan jujur kepada Pak Jaya dan keluarganya?"

Nayra menelan ludahnya, dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan berikutnya jika dugaan di dalam kepalanya memang benar terjadi.

"Sa-saya harus tau kejadiannya dulu."

Adinata menghela napas pelan, percuma juga jujur. Sudah dibilang kalau keadilan tidaklah berfungsi untuk orang-orang payah, jadi walaupun Nayra mengingat semuanya pun tidak akan ada yang berubah.

Terjebak Bersamamu [TAMAT] REPOSTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang