Korea Selatan, pukul 16.30.
Kelompok Hari dan Gaeun pun telah selesai mengerjakan tugas kelompok yang diberikan oleh dosen mereka.
Mereka hanya perlu menghapal beberapa materi untuk di presentasikan kepada Dosen dan teman-teman di kelasnya.
"Aku sudah lelahh.. kapan kita luluss?" ucap Leon yang sudah pusing tujuh keliling melihat tumpukan tugas di laptopnya.
"Masih setahun lagi" ucap Ian enteng.
"Lu mah enak pinter, lah gua?" protes Leon kepada Ian.
"Masa orang yang pernah belajar di Amerika bodoh sih? Bukannya disana pinter-pinter ya?" tanya Heewon polos.
Jleb.
"Heewon sayang.. aku sekolah disana bukan berarti aku pinter atau bodoh, aku kan emang la–"
"Tanpa disadari, dia ngomong dirinya bodoh" ucap Hyoon Woo kepada Leon.
"Diam cupu! Arghh.. rasanya aku ingin menghilang"
"Bisa diem gak sih?" ucap Hari yang sudah jengkel dengan keributan di depannya yang menyebabkan dia jadi tidak bisa menghapal bahan presentasi.
"Ma-maaf" ucap mereka yang sejak tadi membuat keributan.
Krriinngg..
Krriinngg..
"Eh?"
Ian pun segera mengangkat telponnya namun ia mengangkatnya di luar Cafe, takut membuat gadis singa itu marah lagi.
"Halo?"
"..."
"Ah! Kanglim, ada apa?"
"..."
"Hm.. dia baik-baik saja, tapi sepertinya dia sedang berubah padahal tadi datang ke Cafe saja wajahnya hampir menangis"
"..."
"Gak tau, tapi setelah dia buat tugas.. dia kembali seperti Hari yang dulu.. galak!"
"..."
"Baiklah, akan aku sampaikan padanya"
"..."
"Hm.. jaga dirimu juga"
Setelah menutup telponnya Ian pun kembali lagi ke dalam Cafe dan bergabung menghapal materi presentasi.
"Hari, tadi Kang–"
"Aku tau dan aku sedang sibuk, bisa kita bicarakan dia nanti?" ucap Hari tak biasanya.
'apa dia marah?'
'Hari kenapa?'
'pasti gara-gara kita ribut tadi'
'hawanya gak enak'
'Hari kok berubah?'
'tumben sekali dia tidak antusias saat mendengar nama Kanglim akan disebut'
Mereka semua membatin terkejut dengan perkataan Hari yang menurut mereka aneh, apa yang terjadi pada Hari sampai-sampai dia menolak obrolan yang membahas tentang Kanglim.
"Aku mau pulang, takut di sampainya kemalaman" ucap Hari yang sudah bangun dari kursinya dan pergi meninggalkan Cafe.
"Ha-hari tunggu!" ucap Gaeun yang menyusul Hari keluar Cafe.
Sisanya hanya bengong dan loading melihat perubahan dari sikap Hari yang menurut mereka sangat aneh.
"Hari.. kenapa guys?" tanya Hyoon Woo membuka obrolan.
"Entahlah" sahut mereka bersamaan.
Sedangkan dijalan, Gaeun yang sedang berlari menyusul Hari menuju halte bus.
"Ha.. hah.. Hari.. hah.."
"Gaeun? Kenapa lari-lari?" tanya Hari penasaran.
Huh?!
"Ekhem.. gak ada, cuma kenapa tiba-tiba sikapmu berubah?"
"Berubah? Emangnya iya?"
?!!
"Hari" ucap Gaeun memegang kedua pundak Hari.
"Kamu ke sambet apa?"
"He? Em.. oh! Aku hanya sedang bersemangat saat menghapal bahan presentasi, makanya aku marah saat mereka ribut, dan saat Ian ingin membahas tentang Kanglim, sebenarnya aku sangat penasaran tapi.."
"Tapi?"
"Tapi aku ingin melupakannya dulu"
"Hah? Kenapa? Apa kamu udah gak cinta sama dia lagi?" tanya Gaeun terkejut dengan perkataan Hari.
"Enggak! Aku masih cinta dia, aku cuma mau melupakannya sejenak, aku mau fokus kuliah dulu selama setahun ini, jika dia disana berusaha maka aku akan berusaha juga!" jelas Hari lalu menatap Gaeun dengan percaya diri.
"Hari.."
Gaeun pun sangat terharu dengan apa yang Hari ucapkan, ia berjanji akan membantu temannya itu hingga sang pangerannya kembali datang untuk menjemput sahabatnya ini.
"Ayo pulang! Ini sudah mau malam" ajak Hari kepada Gaeun yang ternyata sudah ada Taksi yang berhenti.
"Ayo" ucap Gaeun lalu menyusul Hari yang sudah masuk ke dalam Taksi.
Sesampainya di rumah, Gaeun pun segera permisi untuk pulang ke rumahnya dan akan menjemput Hari besok pagi.
Hari pun masuk ke dalam rumahnya setelah memberi salam dan meletakkan sepatu di raknya.
"Selamat datang.. loh? Kakak sudah pulang? Katanya pulang agak larut" tanya Doori.
"Tugasnya udah selesai, tinggal menghapal materi saja" ucap Hari lalu duduk disofa.
"Kakak.. entar ajarin Doori matematika ya? Doori gak ngerti"
"Hahaha.. baiklah, lebih baik mandi dulu, Ayah kemana?"
"Ayah lagi ada kerjaan di kamarnya, aku mandi dulu ya Kak" ucap Doori lalu segera naik ke kamarnya.
Hari lebih memilih menyandarkan tubuhnya di sofa, ia ingin menghilangkan sejenak rasa lelahnya itu, kali ini dia harus fokus dengan tujuannya dan harus mendapat pekerjaan yang terbaik.
"Aku penasaran.. apa yang sedang Kanglim lakukan ya?" ucapnya menerawang seraya menatap langit-langit rumah.
"Ah! Jangan melamun! Lebih baik aku buat roti bakar dan susu sajalah untuk menemani belajar bersama Doori" ucap Hari lalu bangun dan berjalan menuju dapur untuk membuat camilan.
Sedangkan di tempat Kanglim, ia sendiri masih sibuk berkutat dengan beberapa dokumen dan berkas-berkas.
Dia juga sudah lompat kelas, jadi dia akan lulus bulan depan dan dengan begitu dia bisa mengurus dan mengawasi perusahaannya dengan leluasa. Hm, otak pinter mah beda ya.
Tok
Tok
Tok
"Kanglim?"
"Ibu? Ada apa?"
"Ini beberapa dokumen untuk perusahaan di Korea, sepertinya di Korea lebih terancam untuk bangkrut dan di ambil alih dari pada disini" jelas sang Ibu.
"Apa? Tapi.. bagaimana bisa?"
"Maka dari itu.."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"... Kembali lah ke Korea!"
T B C
Yooo.. Update lagi.
Maaf kalau garing hm :v
Jan lupa Vote ama Komen, bye byee
See You!
KAMU SEDANG MEMBACA
This Is Our Story [End]
Short StoryChoi Kanglim, lelaki yang dengan berat hati harus pergi meninggalkan sang kekasih di Korea serta banyaknya kesalahpahaman diantara mereka berdua. Membuat hubungan keduanya menjadi renggang dan hampir putus. Apa yang akan dilakukan oleh Kanglim untuk...
![This Is Our Story [End]](https://img.wattpad.com/cover/290355597-64-k893208.jpg)