Chapter 7

897 66 3
                                        

"... Kembali lah ke Korea"

"Apa? Tapi.. bagaimana dengan yang disini? Bukankah Pak Tua itu menginginkan perusahaan di sini?"

Sang Ibu hanya menggelengkan kepalanya, lalu ia segera mendekati putranya dan mengelus rambutnya.

"Itu hanyalah tipuannya agar kamu berfokus pada perusahaan disini, sedangkan ia mengincar Perusahaan yang di Korea, maka dari itu Ibu ingin kamu segera pulang ke Korea dan mencegah orang itu untuk merebut Perusahaan kita" jelas sang Ibu dengan suara yang serius.

Kanglim baru pertama kali ini mendengar nada bicara sang Ibu yang terdengar serius, mungkin Pak Tua itu memang ingin menipunya.

Kanglim pun mengangguk dan segera membereskan beberapa pekerjaannya serta ia pun menelpon Leon serta Ian untuk menjemputnya di Bandara.

"APAA?!!"

"Kenapa Ian? Leon?" tanya Heewon yang kaget saat kedua lelaki itu berteriak.

BRAK!.

"Hyoon Woo! Kamu dapet pesan gak dari dia?!" tanya Leon panik.

"I-iya, tapi ini beneran?!" tanya balik Hyoon Woo.

"Arghhhh.. mendadak sekali!"

Sedangkan para gadis disana hanya menatap tingkah kekasih mereka dengan aneh, pagi-pagi kok sudah berteriak?.

"Kalian ini sebenarnya kenapa?" tanya Hari yang sejak tadi juga bingung.

"Hari si Ka– mmhhhh"

"Ka?"

"Eheheh.. itu.. Kambingnya si Leon tadi lepas dari kandangnya, makanya kita teriak tadi ehehe" ucap Ian yang masih menutup mulutnya Leon serta member kode kepada Hyoon Woo agar membantunya.

"Iya! Itu benar, kambingnya Leon lepas.. soalnya kita bertiga baru beli buat dijadiin peliharaan!" ucap Hyoon Woo juga.

"Kambing? Bukannya Kakak gak punya Kambing ya?" tanya Sara yang curiga.

"Kambingnya jauh kok ditaruhnya, iya kan?" ucap Ian seraya memberikan tatapan membunuh kepada Leon.

"Mmmhh puaahh.. hah.. hah.. iya heheh" sahut Leon setelah lepas dari genggaman maut Ian.

'tangannya bau mayat' batin Leon meringis.

"Terserah, aku mau ke kelas" ucap Hari lalu bangkit dan pergi menuju kelasnya yang disusul oleh teman-temannya minus para lelaki.

Setelah para gadis menghilang dari balik tembok, para lelaki kembali berkumpul untuk membahas kepulangan Kanglim.

"Beneran? Dia mau balik?"

"Bukannya perusahaan sedang terancam ya? Kok dia pulang?"

"Gak mungkin kangen sama Hari kan?"

Leon dan Ian pun menatap Hyoon Woo dengan malas saat mengatakan jika Kanglim tidak merindukan Hari.

"Bodoh! Tentu saja dia merindukannya, tapi aku yakin bukan itu alasan utamanya" ucap Leon.

Tiba-tiba saja telpon Ian berbunyi menandakan ada yang menghubungi dirinya, ia segera mengangkat telpon itu serta mengaktifkan load speakernya.

"Halo?"

'Halo Ian, ini aku Kanglim'

"Ada apa? Kenapa pulang ke Korea? Bukannya disana ada masalah?" tanya Leon bertubi-tubi.

'Hm.. tapi ternyata Pak Tua itu tidak menginginkan perusahaan disini, namun ia mengincar Perusahaan di Korea'

"Ohh..."

"Eh?"

"APAA?!!" teriak mereka bertiga bersamaan.

'Pokoknya nanti jemput aku di Bandara dan kita langsung ke Perusahaan'

"Kau tidak merindukan Hari?" tanya Hyoon Woo.

'Aku merindukannya, tapi untuk sementara tolong rahasiakan jika aku ada di Korea, aku akan menemuinya sendiri saat sudah selesai semua urusannya'

"Kami mengerti, serahkan pada kami"

'Terima kasih, kalau begitu aku tutup. Sampai Jumpa di Bandara'

"Hati-hati" ucap Ian lalu segera mematikan telponnya.

"Ternyata Pak Tua itu toh pelakunya"

"Kenapa dia menginginkan Perusahaan C'Corp?"

"Entahlah, lebih baik kita ke kelas.. daripada kena omel gadis-gadis kita.. Ayo" ajak Leon lalu segera pergi dari tempat itu disusul oleh kedua pemuda tadi.

Tanpa sadar, di balik tembok ternyata Hari dan Gaeun mendengar percakapan telpon antara Kanglim dan Mereka bertiga.

"Hari?" panggil Gaeun.

"Gaeun.. dia.. pulang?" tanya Hari.

"Sepertinya iya, tapi kamu denger sendiri kan dia tidak akan bertemu dengan dirimu?" ucap Gaeun.

"Ya.. aku mengerti"  ucap Hari lemas lalu segera pergi meninggalkan tempat itu.

Gaeun yang melihatnya ikut sedih tapi bagaimana pun juga, setelah semuanya selesai Kanglim harus kembali bertemu dengan Hari dan menjelaskan semuanya secara detail.

Mereka kembali ke dalam kelas untuk mempresentasikan tugas kelompok yang telah mereka buat secara bersama-sama.

Selesai presentasi para gadis langsung pergi ke Perpustakaan untuk meminjam beberapa buku bacaan serta beberapa buku untuk bahan membuat skripsi.

"Hari.. bisakah kau ambilkan yang itu? Aku ingin mencari beberapa buku di rak sebelah sini dulu" ucap Heewon meminta tolong kepada Hari.

"Baiklah" sahutnya lalu segera mengambil buku yang di maksud oleh Heewon.

"Ti-tinggi sekalii" ucap Hari seraya berjinjit untuk mendapatkan bukunya.

"Fyuhh.. untung dapat" katanya lalu segera memberikannya kepada Heewon.

"Heewon, ini bukunya.. lumayan butuh perjuangan hahaha" ucap Hari yang sedikit lelah.

"Terima kasih, maaf merepotkanmu ya" kata Heewon berterima kasih.

"Sama-sama.. ya udah yuk kita susul yang lainnya" kata Hari dan mereka segera pergi ke tempat peminjaman untuk diberikan tanda bahwa mereka meminjam buku.

Setelah selesai, Heewon dan Hari segera menyusul teman-temannya yang sudah menunggu di bangku kantin.

"Lama sekali" ucap Sara.

"Maaf.. tadi aku menyuruh Hari untuk mengambilkan buku yang ada di atas, jadinya sedikit lama" ucap Heewon.

"Gak apa kok, ayo duduk" ajak Sara menarik lengan Heewon untuk duduk.

Mereka pun makan terlebih dahulu sebelum pergi ke kelas berikutnya untuk mengikuti pelajaran berikutnya.

T B C

Maaaaafffff kalau ceritanya garing dan anehh :(

Abis ulangan tadi, makanya rada-rada ngelag+tadi lagi cemas gegara ada satu hal.

Sampe sekarang sih masih cemas+kepikiran jadi Overthinking nih :(.

Sampai jumpa di Next Chapter!.

This Is Our Story [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang