Part 15

797 84 5
                                        

Happy Reading, Readers! ^.^
.
.

Perhatian : terdapat adegan suic*de!

Taeil menurunkan tangannya dari kepala Sorae. "Sebenarnya, aku trauma dengan kejadian seperti tadi malam Sorae-ya."

"Karena aku tidak menghampirinya... aku kehilangan orang yang sangat aku sayangi..." wajah Taeil bisa menjelaskan kesedihan yang amat terdalam.

Sorae menatap Taeil dengan serius. Sedangkan Taeil, ia menatap ke arah langit sekarang.

"Dulu aku mempunyai seorang adik perempuan, Mirae namanya, Moon Mirae. Dia adalah anak yang sangat ceria Sorae-ya. Waktu ia masih kecil, ia belajar naik sepeda denganku, kemudian ia terjatuh dari sepedanya. Anehnya Mirae sama sekali tidak menangis, ia bahkan tertawa." Sorae menanggapi cerita Taeil dengan sebuah anggukkan dan ia tersenyum simpul.

"Mirae adalah adikku satu-satunya. Kami sangat dekat, karena orang tua kami sibuk bekerja sehingga sepanjang hari kami habiskan hanya berdua. Aku tidak pernah melihatnya menangis ataupun mendengar tangisannya, selain saat ia baru lahir." Taeil sesekali tersenyum saat menceritakan tentang mendiang adiknya.

"Asal kau tau Sorae-ya, kau sangat mirip dengan adikku, Mirae. Dari wajah, postur tubuh, bahkan caramu berbicara sama persis dengan adikku. Pertama kali saat Manager Kim memperkenalkanmu padaku, aku benar-benar sangat terkejut. Aku merasa seperti melihat adikku hidup kembali." Taeil berbicara dengan melihat wajah Sorae. Matanya terlihat berbinar-binar.

"Sejak pertama kali melihatmu itu, aku sangat ingin akrab denganmu Sorae-ya, aku ingin mengenalmu dengan baik. Tapi, kau sangat susah untuk didekati." jelas Taeil panjang dan lebar.

"Entah kenapa ya oppa, setiap melihat oppadeul itu aku merasa sangat segan. Padahal aku juga sangat ingin mengenal oppadeul dengan baik." balas Sorae.

"Tuh.. kamunya saja menjaga jarak, bagaimana aku bisa mengenalmu dengan baik?" Taeil tertawa kecil.

"Hehehe mianhae oppa. Lanjutin ceritanya dong oppa."

"Hmm, mengalihkan topik ya." Taeil tertawa kecil lagi.

"Oke baiklah. Hubunganku dengan Mirae mulai merenggang ketika aku menjadi trainee. Aku harus tinggal di dorm trainee bersama trainee lainnya sehingga aku harus berpisah dengannya. Saat ia masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Aku terlalu sibuk untuk berlatih sejak menjadi trainee. Sehingga kami menjadi tidak sering berkomunikasi." Sorae melihat mata Taeil, ia melihat ada penyesalan yang begitu mendalam dari diri Taeil.

"Sampai suatu malam, ia menghubungiku, ia menanyakan kabarku. Saat itu ia sudah duduk dibangku kelas 3 SMP, tak terasa sudah hampir 3 tahun aku terpisah dengannya. Awalnya aku curiga kepadanya, karena suaranya tidak seceria biasanya. Aku bahkan sempat mendengarnya menangis. Tapi ia mengaku baik-baik saja. Ia mengaku mengerjaiku dengan menangis agar aku pulang karena ia sangat rindu padaku, ia ingin bertemu padaku... Bodohnya aku langsung berpikir bahwa ia benar-benar mengerjaiku dan menganggap ucapannya hanya becanda. Aku terlalu bodoh karena tidak bisa membedakan tangisannya itu becanda atau sungguhan." mata Taeil mulai berkaca-kaca.

'Apakah ini trauma Taeil oppa yang dibicarakan Haechannie dan Doyoung oppa tadi malam?' batin Sorae.

"Kau tahu? Ternyata malam itu adalah malam terakhirnya hidup di dunia ini. Ia memutuskan untuk menjatuhkan dirinya dari atas atap gedung sekolahnya. Aku tidak pernah tahu kalau selama 2 tahun terakhir itu, ia menjadi korban bullying oleh teman-teman sekolahnya." Taeil mulai mengeluarkan air matanya, ia tak tahan.

Sorae sangat kaget mendengar cerita Taeil barusan ini. Sorae pun langsung mendekat dengan Taeil dan kemudian mengelus punggung Taeil dengan lembut.

"Dia tidak bisa menceritakan hal itu kepada siapapun. Dia menanggung penderitaan itu sendirian Sorae-ya, sampai dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Aku adalah oppa yang buruk untuknya. Salahku yang tidak bisa mengerti keadaannya. Salahku yang meninggalkannya sendirian. Salahku yang membiarkan dia menderita sendirian. Salahku yang terlalu egois. Ini semua salahku Sorae-ya...." Tangisan Taeil sekarang semakin menjadi, ia menangis sesenggukkan.

[✔] DREAMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang