Chapter 11

1.2K 60 3
                                        

Bab 11

Aurora belum tahu mengenai pembicaraan sang suami dengan ibu tadi. Sesampainya di kamar, Antonio memang terlihat berseri dari biasanya. Hal itu tentu membuat Aurora merasa heran.

"Sepertinya kamu sedang merasa senang?" tanya Aurora.

Antonio hanya tersenyum tipis dan menoleh ke arah Aurora sejenak. Dia tidak memberi penjelasan apa pun melainkan melengos dan pergi mandi. Aurora tidak terlalu kaget dengan reaksi itu, toh memang sudah menjadi kebiasaan Antonio bersikap angkuh dan acuh. Mengenai kepergian Aurora hari ini bahkan Antonio tidak menanyakannya.

Sebelum makan malam berlangsung, Aurora memilih mencari Beatrice. Dia ingin ngobrol mengenai sesuatu. Mungkin saja bisa membuat rasa kesal karena terus saja diacuhkan bisa menghilang.

Sampai di lantai bawah, Aurora bertemu para pelayan yang tengah menyiapkan makan malam. Di antara mereka, Aurora melihat Beatrice tengah menutupi tirai jendela yang masih terbuka.

"Beatrice," panggil Aurora.

Beatrice menoleh. "Iya, Nona. Ada apa?" Ia segera menutup semua tirai sebelum pergi menghampiri nona mudanya.

"Temani aku ngobrol," kata Aurora seraya melenggak menuju area kolam renang. Aurora berjalan menuju rumah-rumahan kayu yang ada beberapa bantal persegi di sana.

Di saat Aurora sudah duduk, Beatrice juga ikut duduk. "Ada apa, Nona?"

Aurora duduk bersandar pada tiang rumah-rumahan tersebut sambil memangku bantal. "Tidak ada, aku hanya ingin ditemani saja."

"Mau saya ambilkan cemilan?" tawar Beatrice mencoba untuk basa basi.

Aurora menggeleng. "Tidak usah."

Saat Aurora berdiri dan menjauh dari rumah-rumahan, diam-diam pandangannya mengarah pada rerumputan yang menuju arah hutan. Dia mulanya mengamati ayunan lagi, lalu beralih pada tempat di mana ia pernah menjatuhkan bulatan kertas bersisi batu. Dari belakang, Beatrice mengikuti.

Tepat di atas rumput di mana kertas itu kira-kira mendarat, Aurora tidak menemukan kertasnya. Kertas itu sudah menghilang.

"Ada apa, Nona?" tanya Beatrice heran.

Aurora tersenyum seraya menendang pelan rerumputan itu. "Ini, aku hanya tengah mencari kertas yang pernah aku lempar ke sini."

"Kertas? Kertas apa, Nona?"

"Bukan apa-apa," jawab Aurora. "Apa kau melihatnya?" tanyanya.

"Tidak, Nona."

Aurora melenggak lagi dan kini langkanya hampir sampai pada pembatas besi yang digembok setiap malam. Ya, sebuah gerbang menuju hutan dan perkebunan itu hanya terbuka di saat pagi hingga menjelang sore. Terkadang malah tidak terbuka.

Tunggu dulu! Mendadak Aurora tertegun menatap gembok yang menggantung itu. Aurora maju lebih dekat dan dengan cepat Beatrice meraih tangan Aurora.

"Nona mau ke mana?" tanya Beatrice was-was.

Aurora sontak terkekeh. "Tentu saja tidak ke mana-mana, gerbang ini kan digembok.

Beatrice lantas tersenyum geli seraya menggaruk tengkuk. "Maaf, Nona. Aku hanya tidak mau nona terkena masalah."

Aurora ikut tersenyum. "Tidak apa, aku paham kok.

Aurora kemudian berbalik badan dan kembali melenggak mendekati area kolam renang. Ini sudah waktunya makan malam, mungkin sebaiknya kembali masuk ke dalam rumah.

***

Suasana makan malam terasa sunyi. Setiap orang yang ada di ruang sini menampilkan raut wajah yang berbeda-beda. Ayah tenang,  tapi tampak tegang, Antonio, tersenyum tipis seperti hari ini menjadi hari bahagianya. Sementara Jasmine, dia terlihat makam dengan penuh rasa kesal. Dan Jessy, dia tidak jauh berbeda dengan raut wajah Antonio yang berseri.

Sementara mereka tengah terpaut dalam pikiran masing-masing, Aurora tidak peduli. Dia tengah melamun sembari terus memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya. Di otaknya saat ini, Aurora masih memikirkab tengtang gerbang yang digembok itu. Selama ini Aurora terlalu penasaran sampai tidak berpikir mengenai bagaimana pria berlentera itu bisa masuk ke pekarangan rumah belakang.

"Pintu itu digembok, bagaimana dia masuk?" batin Aurora. "Apa dia tinggal di dalam rumah ini? Tapi siapa?"

Aurora terus saja melamunkan hal itu berharap bisa menemukan jawabannya. Dan karena hal itu, Aurora sampai tidak mendengar kalau sedari tadi ibu mertuanya terus memanggil namanya. Hingga saat Antonio menyikut lengannya, barulah Aurora terkesiap.

"Ya, kenapa?"

Saat itu juga Antonio mendesah berat dan membuang muka. Ketika Aurora bingung dan menatap mereka bergantian, barulah Aurora mengerti akan ada hal penting.

"Orang tua sedang bicara, dan kamu malah melamun?" salak Jessy.

"Pelankan suaramu," pinta Arkan seraya menarik lengan Sang istri supaya tetap tenang.

"Maaf, Bu. Aku hanya ... hanya sedang merindukan orang tuaku," jawab Aurora sekenanya.

Tentu Jessy tidak peduli alasan itu. Selanjutnya ia kembali membuka pembicaraan lagi. Wajah yang mengerikan itu kini sudah beralih menjadi tenang tapi tegas.

"Ibu ingin bicara penting denganmu," kata Jessy.

Aurora menelan ludah lantas melirik sang suami kemudian ayah mertuanya. Mereka berdua seperti enggan ikut campur dan memilih diam saja menikmati makan malamnya yang sebenarnya tidak menggugah selera.

"Bicara mengenai apa?" tanya Aurora. Hampir setiap makan malam selalu saja ada hal yang menegangkan. Itulah kenapa Aurora enggan untuk ikut bergabung.

"Antonio akan menikah lagi."

Klunting!

Aurora menjatuhkan sendok hingga membentur bibir piring lalu merosot jatuh ke atas lantai. Aurora kini tertegun bingung dan masih tidak mengerti.

"A-apa maksud ibu?" tanya Aura gagap.

Jessy berdecak lantas menghela napas. "Kita sudah sering membicarakan hal ini, kan? Harusnya kamu sudah mengerti dan paham."

"Ta-tapi ... aku ..."

"Tidak ada tapi-tapian. Keputusan sudah dibuat dan Antoni menyetujuinya."

Aurora spontan menoleh ke arah Antonio dan menatap sendu. "Why?" katanya tanpa bersuara. Dua bola mata Aurora sudah mulai berkaca-kaca.

"Maaf," hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Antonio.

"Keluarga kita butuh keturunan baru. Sementara kamu, sampai saat ini tak kunjung bisa hamil." Jessy menjelaskan penuh tekanan. "Kamu harus mengerti."

"Kenapa harus aku?" Aurora berdiri, dan sekali lagi menatap mereks semuanya bergantian. "Aku sudah berusaha di sini? Kalau memang aku belum punya anak, bukan berarti sepenuhnya salahku."

Jessy ikut berdiri dan menepuk meja cukup keras. "Kamu sepenuhnya salah di sini. Kamu harusnya bersyukur karena Antonio tidak menceraikan kamu meski dia akan menikah lagi."

Aurora merasakan tubuhnya mulai lemas. Kedua kakinya berdiri serti tanpa penyangga tulang lagi. Ia sepenuhnya sadar diri karena tak kunjung bisa mengandung, tapi andaikan saja Antonio bisa bersikap lebih romantis dan menerima Aurora, mungkin akan berbeda ceritanya.

Setelah sekian detik menunduk, Aurora kembali mengangkat wajah san mengusap air mata. "Baik. Silakan jika Antonio ingin menikah lagi. Tapi aku harap Antonio menikah dengan dengan Jasmine!"

Jasmine seketika membulatkan mata dan menegang mendengar perkataan Aurora. Dia tidak habis pikir kenapa Aurora mengatakan hal itu.

"Kamu tidak ada hak untuk mengatur di sini!" tegas Antonio. Reaksi Antonio, sudah langsung membuat Jasmine paham bahwa wanita yang akan dinikahi Antonio adalah wanita lain di luar sana.

***

Perfect Man (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang