Cuaca siang ini tak begitu terik. Awan kelabu menghias langit. Memilih duduk di bawah pohon yang rindang. Aku menunggu Lintang di tempat kami janjian. Sudah sepuluh menit aku tiba, tapi batang hidungnya tak jua terlihat oleh mata kepala. Aku membuka aplikasi pesan di gawaiku. Tidak sabar, aku lalu mengetik beberapa kata untuknya.
"Di ...."
Aku mengalihkan perhatian dari gawaiku saat telingaku mendengar ada seseorang yang memanggilku. Seorang perempuan bersama seorang anak kecil sudah berdiri di hadapan. Beberapa detik aku terdiam, memindai perempuan berjilbab biru muda ini. Lintang, sekarang memakai jilbab?
"Aisha Dianitha Pramono. Halo ...."
Perempuan ini mengibaskan sebelah tangannya di depan mukaku yang terbengong.
"Lintang?" tukasku hanya sekadar ingin memastikan bahwa ini benar dia.
Perempuan berkacamata itu tergelak keras. "Iya lah, emang kamu pikir siapa? Atau kamu ada janji sama orang lain di sini?" Telunjuknya mengacung di depan hidungku. Tatapannya jenaka, menggoda. Pikirannya pasti sudah yang tidak-tidak.
"Sumpah, pangling deh aku. Kamu sekarang pakai jilbab?" Aku berdiri, menyamai tingginya.
Dia mengangguk-angguk semangat. Senyumnya terpeta cerah. "Udah jalan tiga tahun." ungkapnya sambil memamerkan ketiga jari tangan kanannya. "Alhamdulillah."
"Alhamdulillah."
Kami kompak mengucap syukur. Merentangkan tangan masing-masing lalu berpelukan. Berputar-putar beberapa saat sambil meloncat-loncat. Macam anak-anak kecil.
"Tante."
Kami berhenti melakukan hal konyol itu setelah suara kecil menginterupsi. Pelukan kami terlepas. Aku menunduk, Ana mendongak menatap kami dengan tatapan yang... err entahlah. Mungkin dia jijik melihat kelakuan kami yang layaknya bocah.
"Katanya beli es krim." serunya menatap kepada Lintang, bibirnya manyun.
Kulihat Lintang menepuk dahinya sendiri. Dia lalu mengedarkan pandangannya menyapu sudut taman. "Nah itu dia es krimnya, ayo ke sana." ajaknya lalu meraih lengan mungil Ana. "Kamu mau rasa apa, Di?" tanyanya sebelum beranjak.
"Coklat aja." sahutku kemudian kembali duduk. Mengekori langkah Lintang dan keponakannya dengan mataku. Ana, gadis cilik itu ikut serta kemari tanpa aku meminta Lintang untuk membawanya. Mungkin ini cara Tuhan agar aku segera meminta maaf kepadanya karena sudah mengingkari janji yang kubuat sendiri.
Lima belas menit berlalu, Lintang dan Ana sudah kembali dengan membawa tiga cup es krim. Aku menerima satu cup yang hanya berisi warna cokelat. "Terima kasih."
"Ama-ama."
Aku hanya menggeleng sambil menggeser posisi dudukku. Tak banyak yang berubah dari sahabatku ini. Dia masih tetap Lintang yang ceria.
"Sekarang udah nggak ada yang pakai roti tawar. Yang jualan juga udah beda. Bapak-bapak, bukan abang ganteng waktu itu." Sambil menyendoki es krim miliknya, dia berceloteh riang. Tanpa menatapku, fokusnya tertuju kepada sang keponakan yang duduk di antara kami berdua.
"Abang yang dulu juga sekarang pasti udah jadi bapak-bapak lah, Lin." selorohku sambil menikmati dinginnya lelehan es yang mengenai tenggorokan, segar. Faktanya kalau dia tidak lupa, sudah bertahun-tahun sejak kami sering nongkrong di sini. Manusia kodratnya pasti akan menua. Tidak mungkin jika kembali menjadi bayi, kecuali sifat dan pola pikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sekelumit Rindu
ChickLitTentang Aisha Dianitha Pramono yang menyimpan sekelumit rindu kepada Dean Giriandra. Dian bukan ingin menjilat ludahnya sendiri, tapi dia juga tak bisa menahan gejolak rasa dari dalam dada. "Aku pernah baca novel. Katanya jodoh itu nggak jauh-jauh d...
