"Kak Ara, gantian Kaf dong. Kaf juga mau dipeluk Tante Dian."
Kami sontak menoleh. Kafka sudah berdiri di belakang kakaknya dengan bibir yang cemberut. Ara pengertian, dia melepaskanku dan membiarkan adiknya yang gantian menghambur ke dalam pelukanku.
"Duh, gantengnya Tante sekarang udah gede juga. Udah bisa jadi bodyguardnya Mama dong, ya." ucapku mencandainya juga. Setiap aku menelpon, Kafka selalu bilang jika dia sudah besar dan sudah bisa menjaga Mamanya.
"Udah dong. Kaf udah delapan tahun." jawabnya terdengar bersemangat. "Robot-robotanku mana, Tante?"
Aku meringis, sebelum aku pulang permintaan bocah ini memang yang paling banyak. Minta dibelikan robot dan mobil-mobilan. "Aduh Tante lupa. Kapan-kapan aja deh kita ke Mal terus Kaf milih sendiri." Bohongku. Aku tentu tak akan lupa dengan oleh-oleh untuk kedua ponakanku itu. Aku sudah membelikan robot dan mobil-mobilan untuk Kafka serta Boneka dan pensil warna untuk Ara. Semuanya kutaruh di bagasi mobil. Namun, aku tak mungkin memberikannya sekarang. Ada banyak bocah di sini. Mereka mau diberi apa.
"Tante nyebelin deh." rajuk Kafka. Bibirnya makin maju lagi.
"Kakak Kaf kok sama tantenya begitu sih. Tante Dian kemarin baru pulang. Masih capek."
Aku melirik Mbak Kinan yang membujuk anak bungsunya yang sebentar lagi akan menjadi anak tengah setelah bayi yang dikandungnya nanti lahir. Entah jurus dalam apa yang dipakai kakak iparku itu, tapi Kafka langsung mengangguk dan tak cemberut lagi. Bocah itu lalu melepaskanku setelah mencium pipi kanan dan kiriku, seperti kakaknya tadi.
Masih ada empat bocah di belakangnya. Satu persatu mulai menyalamiku. "Hai, namanya siapa?" tanyaku pada bocah sipit yang rambutnya halus. Terasa sekali saat kuusap pelan.
"Juna."
"Kalau yang ini?" tanyaku lagi pada bocah yang wajahnya sangat mirip dengan bocah tadi. Oh aku ingat, mereka ini pasti anak-anaknya Mbak Tiara dan Kak Raka. Juna dan Juno kalau tidak salah.
"Juno."
Nah, benar bukan.
"Kalau kamu namanya siapa, Cantik?"
Seorang anak perempuan bermata tak kalah sipit dengan Juna dan Juno. Sepertinya juga umur mereka jaraknya tak jauh. Tinggi badan mereka sudah hampir sama.
"Juni."
Hah. Apa anak ini adiknya Juna dan Juno. Jika iya, Kak Raka sepertinya benar-benar tak mau berpikir keras tentang nama. Juna, Juno dan Juni. Astaga.
"Juniara. Anaknya Tiara sama Kak Raka."
Aku mendongak, menatap Mbak Kinan yang menjelaskan siapa anak sipit itu. Mbak Kinan seperti bisa membaca pikiranku.
Lalu bocah yang terakhir mulai mendekatiku. Kepalanya menunduk, tapi kedua matanya sering mencuri pandang. Saat kutatap, dia mengalihkan pandangan.
Menggemaskan sekali. Matanya bulat, rambutnya dikuncir dua dengan poni menutup jidat. Mengingatkanku pada Ara waktu kecil. "Hai... Kalau Cantik yang ini namanya siapa?" tanyaku saat kami bersalaman. Dia juga mencium punggung tanganku seperti yang lain.
"Ana." jawabnya lirih.
"Anak siapa, Mbak?" Aku kepo. Anak ini cantik dan lucu. Aku suka. Kuusap lagi puncak kepalanya. Kini ia mau menatapku meski malu-malu. Ia juga tersenyum, manis sekali.
"Anaknya Kak Dean."
Usapanku terhenti seketika setelah mendengar jawaban dari Mbak Kinan. Senyumku surut.
Anak Kak Dean?
Kak Dean kakaknya Lintang?
Suaminya Mbak Alya?
Sahabatnya Mas Arya?
Lelaki itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Sekelumit Rindu
ChickLitTentang Aisha Dianitha Pramono yang menyimpan sekelumit rindu kepada Dean Giriandra. Dian bukan ingin menjilat ludahnya sendiri, tapi dia juga tak bisa menahan gejolak rasa dari dalam dada. "Aku pernah baca novel. Katanya jodoh itu nggak jauh-jauh d...
