Kafka memimpin doa sebelum makan. Anak-anak lain pun dengan tenang mengikuti. Meja makan panjang ini menjadi penuh karena tiga Jun bersaudara belum pulang. Sama sepertiku dan Gibran, mereka juga menginap. Untung makanan di rumah ini tidak kekurangan. Mas Arya duduk di bagian paling ujung. Diapit oleh istri dan anak perempuannya di samping kiri dan kanan. Lalu Kafka duduk di samping kakaknya. Di sisi kiri Mbak Kinan, duduk Jun bersaudara, berderet dari Juni, Juno dan Juna. Gibran duduk di antara aku dan Kafka. Mungkin suasana makan malam di panti asuhan juga seperti ini banyaknya. Aku sudah lama tak ikut mama ke panti asuhan yang dulu setiap bulan selalu kami kunjungi. Bukan sumbangan dari kami yang terhenti, aku saja yang terlalu sibuk hingga tidak bisa ikut serta.
Berdoa dengan tenang tak menjamin saat makan pun akan tenang. Kafka, Juna dan Juno kembali berlomba. Juni... dia harus diladeni Mbak Kinan lagi. Menu lauk yang dipilih Juni adalah ikan goreng, tapi dia tidak mau memegangnya sendiri. Sama seperti tadi siang, dia tidak mau kedua tangannya kotor. Hmm, hanya Gibran dan Ara yang makan dengan tenang karena Mas Arya terus mengatur ketiga anak lelaki yang terus berlomba kecepatan mengunyah.
"Udah ziarah ke makam Papa belum, Dek?"
"Udah kemarin sore, Mas."
Aku menyahuti keingintahuan Mas Arya disela acara makan malam ini. Papa, seseorang yang paling depan mendukungku mengambil spesialis. Aku sempat putus asa. Merasa tak akan ada gunanya jika aku tetap melanjutkan pendidikan setelah kepergiannya. Karena apa, karena tidak akan ada papa di sisiku jika nanti aku menyandang gelar dokter spesialis anak. Tidak akan ada papa yang akan memeluk dan memberiku selamat. Papa... telah pergi, selamanya.
"Tante, durinya nyangkut. Uhuk-uhuk."
Juni mendadak heboh. Terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya.
_________________
Tumbuh kembang anak adalah salah satu permasalahan yang cukup banyak aku tangani selama tiga bulan masa kerjaku. Aku sekarang sudah bekerja di rumah sakit waktu aku menempuh pendidikan profesi, setelah kurang lebih selama tujuh bulan mengurusi penyetaraan ijazah. Mondar-mandir ke universitas lagi lalu melamar pekerjaan. Semuanya bisa dengan mudah kulalui berkat bantuan dari Mas Arya, dia koneksinya luas dan banyak.
Kasus anak belum lancar berbicara, dewasa ini mereka seringnya berteman dengan gadget hingga terjadilah komunikasi satu arah. Seorang anak akan fokus dengan apa yang dilihat oleh kedua mata. Berbeda apabila anak itu diajak mengobrol oleh orang tua yang akan terjadi komunikasi dua arah. Anak akan mengulang kata-kata yang diajarkan. Lambat laun, dia akan lancar berbicara dan memiliki banyak kosa kata.
Aku tidak ingin menghakimi sang orang tua, terutama sang ibu. Ibu adalah sosok yang paling mulia. Jaman sekarang tidak dapat disangkal jika banyak seorang ibu yang merangkap peran menjadi seorang pekerja kantoran, wanita karir sebutannya, dan akan menitipkan si buah hati kepada keluarga atau malah menyewa jasa pengasuh. Pun aku tak akan memuji seorang perempuan yang lebih memilih menjadi ibu rumah tangga yang akan selalu berada di rumah menemani anak-anaknya. Mereka para ibu memiliki pilihan masing-masing, termasuk resiko yang harus ditanggungnya.
"Saya mau resign aja kalau begini, Dok. Saya menyesal nggak dengerin apa kata suami saya."
Ibu muda dengan pakaian elegan ini menangis tersedu-sedu di hadapanku. Dia adalah seorang wanita karir yang bekerja di sebuah bank swasta terkenal. Kuberikan senyum terbaikku. Aku bukan konseling pernikahan, aku belum menikah dan aku tidak akan bisa memberikan saran untuk masalahnya sebelum ini. Tugasku hanya membantu anaknya yang berusia lima tahun itu terapi bicara. Sudah terlambat memang, tapi aku akan tetap berusaha.
"Ajak ngobrol dedeknya ya, Bu. Dedek pinter kok. Saya yakin sebentar lagi dedek akan seperti teman-teman seusianya."
"Benar belum terlambat, Dok?"
Kuterbitkan senyumku lagi. "Tidak ada yang terlambat, Bu." Aku tidak akan mengecilkan hatinya dengan mengucap fakta yang sebenarnya ada. Karena aku belum tentu bisa sekuat dirinya jika kami berganti posisi. "Hanifa sayang, besok lusa kita ketemu lagi, ya." Anak perempuan itu hanya menatapku, tak mengangguk apalagi menjawab dengan sebait kata. Dia mulai tersenyum ketika kusodorkan sebuah buku cerita bergambar kupu-kupu dan semut hitam. "Iya, sama-sama. Nanti sebelum tidur dibaca sama mama papa, ya." tuturku ketika mata bulatnya berbinar menatapku. Aku tahu, dia pasti ingin bilang terima kasih.
Hanifa adalah satu dari banyak anak yang kini menjadi temanku. Ya, aku menganggap mereka semua adalah teman-temanku dan bukan pasienku. Faktanya, mereka tidak membuat kakiku pegal dan kepalaku pusing seperti keponakanku dan gerombolannya.
Satu lemari kecil khusus kutaruh di ruang kerja. Isinya ada mainan anak-anak seperti puzzle bergambar binatang, sayuran dan buah-buahan. Alat tulis yang bentuknya lucu-lucu. Buku cerita yang disertai gambar-gambar memanjakan mata. Kotak makan dan gelas minum dengan berbagai warna cerah yang sangat ceria. Bukan, aku bukan ingin menyambi jualan. Aku hanya ingin memberi hadiah untuk teman-temanku sesuai kebutuhan mereka. Seperti Hanifa tadi, buku cerita pasti bisa sedikit membantu proses stimulasinya. Walaupun aku yakin di rumahnya pasti juga sudah banyak buku cerita seperti itu. Anak-anak adalah golongan yang akan cepat bosan dengan mainan atau apapun yang ia punya. Jika ada yang baru, semangat mereka aku yakin akan kembali membara.
Menjadi dokter anak yang kerap bertemu dengan seorang ibu, tak jarang mereka malah menjadikanku tempat curhat. Mencurahkan isi hati yang mengganjal seperti, sebenarnya tidak ingin bekerja namun harus membantu perekonomian keluarga, seorang single parents yang tidak mungkin jika hanya ongkang-ongkang kaki saja, dan masih banyak cerita lainnya. Aku sempat berpikir, mungkin aku bisa menuliskan keluh kesah mereka menjadi sebuah judul cerita.
Pintu ruang praktekku kembali diketuk. Itu adalah temanku yang terakhir untuk hari ini. Setelah ini jam kerjaku telah usai.
Alana Putri G, kubaca nama dalam daftar.
"Tante Lis."
Aku terkejut ketika Ibunya Lintang bersama Ana memasuki ruanganku.
Bersambung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sekelumit Rindu
Chick-LitTentang Aisha Dianitha Pramono yang menyimpan sekelumit rindu kepada Dean Giriandra. Dian bukan ingin menjilat ludahnya sendiri, tapi dia juga tak bisa menahan gejolak rasa dari dalam dada. "Aku pernah baca novel. Katanya jodoh itu nggak jauh-jauh d...
